AKSARA KA-GA-NGA WARISAN LELUHUR DI SUMBAGSEL

Januari 22, 2019 | Administrator Diversity.id

UNESCO telah menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional. Setiap tahun, hampir seluruh negara memperingati momen tersebut dengan menghelat beragam agenda yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan aksara. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan aksara adalah bukti otentik majunya sebuah peradaban.

Berbahagialah Indonesia karena memiliki ragam aksara. Salah satu daerah yang masih memertahankan aksara adalah Sumatera bagian selatan yang mencakup empat provinsi: Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi. Secara umum diketahui ada tiga daerah di Sumatera yang mengenal aksara yaitu Batak, Rejang, dan Lampung. Namun jika dicermati lebih jauh, sebenarnya penggunaan aksara kuno hampir merata di Sumatera.

Aksara Kaganga
foto: www.goodnewsfromindonesia.id

Sebelum aksara Arab-Melayu dan aksara latin masuk ke Indonesia melalui para peniaga dan penjajah, di Sumatera bagian selatan telah ada aktifitas penggunaan aksara yang disebut dengan aksara Ka-ga-nga. Sebutan ini merujuk pada tiga aksara pertama di dalam sistem aksara tersebut. Selain itu ada istilah lain seperti aksara Incung, naskah atau surat Ulu. Penamaan ini lantaran aksara tersebut banyak digunakan di daerah hulu sungai di pedalaman Sumatera. Sedangkan aksara di Lampung dikenal dengan istilah Had Lampung yang kerap dianggap mirip dengan aksara Batak dan Bugis.

 

Merujuk sejumlah penelitian para pakar linguistik, budaya tulis-menulis menggunakan aksara Ka-ga-nga di Sumatera bagian selatan telah eksis jauh sebelum era kerajaan Sriwijaya. Menurut James T. Collins, seorang professor dan peneliti bahasa-aksara, penggunaan aksara Palawa di Sumatera dimulai sekitar tahun 600-an hingga abad ke-14.

Cikal bakal aksara Ka-ga-nga berasal dari aksara Palawa, sebuah daerah di India Selatan. Setiba di Nusantara, aksara tersebut mengalami sejumlah perkembangan; Tidak persis dengan aksara dari sumber asalnya, namun bentuknya disesuaikan dengan kondisi setempat. Diperkirakan, aksara itu tumbuh berkembang dan mencapai puncaknya di abad ke-12. Hal ini membuktikan bahwa, peradaban Sumatera bagian selatan di masa lampau sudah tergolong maju. Masyarakat Sumatera bagian selatan saat itu telah melek baca tulis.

foto: 1001indonesia.net

Hingga saat ini masih cukup banyak naskah kuno beraksara Ka-ga-nga yang dapat ditemukan. Naskah itu biasanya ditulis di kulit kayu, bilah bambu, tanduk kerbau, rotan, kertas, stempel atau cap. Bahkan di perbatasan Lampung-Bengkulu, pernah ditemukan nisan yang beraksara Ka-ga-nga. Bentuk fisik nisannya sendiri sudah raib. Beruntung, ada seorang Belanda yang sempat menyalin tulisan tersebut ke dalam kertas.

Naskah aksara Ka-ga-nga berbahan kulit kayu bentuknya dilipat seperti buku. Untuk membacanya, lipatan-lipatan itu harus dibentang memanjang. Panjang kulit kayu itu relatif. Ada yang bahkan mencapai hampir dua meter. Jika dicermati sepintas, bentuk aksaranya ada yang runcing, ada pula yang melengkung, dengan kemiringan ke kanan sekitar 45 derajat. Sedangkan alat yang digunakan untuk menulisnya berupa pisau tajam atau lidi dari kayu aren. Yang uniknya, tinta dari naskah-naskah tersebut tetap awet meski pun telah berusia ratusan tahun.

Adapun muatan atau isi naskah tersebut bermacam-macam. Ada syair sastra, petuah, mantera, ramuan pengobatan, prosedur bercocok tanam, etika bersosialisasi, hingga religi. Di beberapa naskah, ada juga semacam simbol-simbol yang belum banyak diteliti fungi dan maknanya. Memang, seiring perkembangan zaman dan kebutuhan, di beberapa daerah ada penambahan jumlah aksara dan tanda baca.

Sejauh ini belum banyak penelitian, pendokumentasian, dan kajian yang dilakukan terhadap naskah-naskah beraksara Ka-ga-nga. P. Voorhoeve adalah salah satu orang Belanda yang meneliti sekaligus mendokumentasikan naskah aksara Ka-ga-nga. Telaahnya kerap menjadi rujukan ihwal manuskrip dan aksara Ka-ga-nga di Sumatera bagian selatan. Ihwal lain kajian pertama mengenai aksara Lampung dilakukan oleh Herman Neubronner van der Tuuk dan diterbitkan dalam Les Manuscrits Lampong (1868). Sampai saat ini belum ada kajian mengenai naskah-naskah beraksara Lampung dalam buku tersebut.

Aksara Ka-ga-nga adalah bukti intelektualisme masa lampau. Sejak lama, di beberapa kotamadya dan kabupaten di Sumatera bagian selatan, pemerintah setempat telah mengeluarkan peraturan sebagai upaya untuk mempertahankan aksara Ka-ga-nga sebagai bagian dari warisan budaya lokal. Salah satu upaya itu misalnya adalah mewajibkan papan petunjuk nama jalan memakai aksara Ka-ga-nga di bawah aksara latin. Beberapa daerah sampai saat ini pun menjadikan penulisan aksara Ka-ga-nga sebagai muatan lokal di sekolah.

Selain tersimpan di rumah pribadi dan museum daerah, manuskrip Sumbagsel juga tersimpan di sejumlah museum dan perpustakaan di luar negeri seperti di Belanda, Amerika Serikat, Denmark, Inggris, Irlandia, Jerman, dan Prancis. Dari hasil penyisiran data, ditemukan informasi bahwa naskah tertua beraksara Ka-ga-nga dari Lampung kini tersimpan di British Library.

foto: www.pojokseni.com

Di Sumatera bagian selatan sendiri pun, kita bisa menemukan banyak pihak yang masih menyimpan naskah-naskah kuno beraksara Ka-ga-nga ini. Umumnya, mereka adalah sesepuh adat atau orang dari kalangan terpandang yang mendapatkan naskah tersebut melalui warisan secara turun temurun dari leluhur mereka. Sayangnya, masih banyak pula yang menganggap naskah tersebut sebagai barang keramat hingga tidak bisa dilihat oleh sembarangan orang. Akibatnya, banyak naskah tersebut yang belum ditransliterasi dan diketahui isinya. Bersamaan dengan itu, kini sudah sangat sedikit orang yang bisa membaca aksara Ka-ga-nga. Yang masih bisa membacanya pun mayoritas sudah berusia tua. Salah dua yang cukup terkenal dari yang sedikit ini adalah Rapanie Igama di Palembang dan Bapak Suwandi di Lubuklinggau.

Untunglah, dewasa ini sejumlah pihak sudah mulai melakukan langkah konkret dan strategis untuk menyelamatkan aksara Ka-ga-nga dari kepunahan. Upaya-upaya pendokumentasian manuskrip beraksara Ka-ga-nga terus dilakukan, baik oleh lembaga pemerintah atau independen. Tentu saja tujuannya agar naskah beraksara Ka-ga-nga itu tidak musnah bersama waktu.

Bahkan, di dalam satu dekade belakangan ini, ada gairah di kalangan peminat budaya dan sejarah di Sumatera bagian selatan untuk menggali, melestarikan, dan mengaktifkan kembali penggunaan aksara Ka-ga-nga. Didukung perangkat teknologi, beberapa pihak bahkan membuat aplikasi aksara Ka-ga-nga yang dapat digunakan di komputer atau gawai. Dengan demikian, aksara warisan leluhur itu menjadi up to date¸ beradaptasi dengan kemajuan zaman.

 

Penulis: Arman AZ


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Response

  1. Pojok Seni berkata:

    Terima kasih sudah membahas terkait aksara KaGaNga. Salam hangat dan jabat tangan erat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik