Deprecated: Function create_function() is deprecated in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/plugins/master-slider/includes/classes/class-msp-main-widget.php on line 95
Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku | diversity.id

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

September 16, 2019 | Agam Radjawali

Maluku merupakan gugusan pulau yang jumlahnya mencapai 4.000-an. Tak heran jika kehidupan masyarakatnya banyak berkaitan dengan laut dan pantai. Pada saat tertentu,hamparan pantai di pulau-pulau ini, yang memang sudah luas, menjadi lebih luas lagi. Hal ini terjadi ketika air laut surut. Surutnya air laut di kepulauan ini bukan hanya hitungan meter, melainkanbisa mencapai ratusan meter. Fenomena alam ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai ‘Air Meti’ (air surut).

 

Pada saat inilah sebagian besar masyarakat, terutama kaum perempuan dan anak-anak, turun ke pantai yang surut tersebut untuk melakukan ‘bameti’. Bameti tidak dilakukan di semua tempatdi Maluku. Tradisi ini terutama ada di pulau-pulau dengan pantai yang ketika air laut surut, garis pantainya menjauh sampai ratusan meter dari garis awal. Tradisi Bameti yang menonjol terdapat di pesisir Sawai, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan Bameti di sana sudah berjalan secara turun temurun. 

 

Kaum Perempuan desa Ngilngof bameti di sore hari | foto: © WWF-Indonesia

Memungut di Kala Surut

 

Bameti merupakan kegiatan pengambilan sumber daya laut pada saat air laut surut. Ketikaair laut surut,banyak terbentuk kubangan-kubangan, tempatbiota-biota laut tertinggal dan berkumpul. Pia-pia, lola atau siput laut (Trochus niloticus), gurita (Octopus vulgaris), cacing laut (Eunice Fucata), bia atau kerang-kerang laut (Syrinx aruanus; Cypraecassisrufa; Cassis cornuta), ikan-ikan kecil, kerang pasir, dan beberapa lainnya adalah yang biasa terdapat pada kubangan-kubangan tersebut. Biota-biota laut seperti inilah yang diambol ketika Bameti.Tradisi ini terdapat juga di daerah Papua dan dapat ditemukanjuga di negara lain yang berkarakter sama seperti di Pulau Pamilacan (Filipina), Pulau Samoa, dan Pulau VitiLevu (Fiji).

 

Bameti merupakan tradisi kuno perikanan menggunakan tangkapan tangan (hand capture) dan alat-alat tangkap sederhana yang masih dipraktekkan hinggasaatini. Tradisi yang muncul merupakan respon masyarakat atas kondisi wilayah pesisir yang memiliki kontur sangat landai.Bameti juga dilakukan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari atau tambahan konsumsi, bukan merupakan mata pencaharian utama. Secara sosial, bameti menjadi aktivitas bersama keluargainti, keluarga semarga atau sekampung. Hasil tangkapan akan dimasak dan dikonsumsi bersama di pinggir pantai.

 

Ada beberapa penyebutan untukbameti ini:

Amanisa; menangkap ikan-ikan kecil dalam kolam-kolam kecil yang terbentuk waktu ‘air meti’. Caranya dengan memasang wadah jebakan atau tangkapan yang dibuat dari anyaman bambu dan hanya memiliki satu lubang atau mulut untuk jalan masuk ikan.

Cari Bia;mencari dan menangkap jenis-jenis siput atau keong laut (Bia). Alatnya adalah batang lidi. Lidi yang disodorkan akan digigit oleh siput atau keong laut. Setelah itu tinggal mengangkatnya.

Gale Taripang; menangkap teripang. Karena jenis teripang hidup di dalam pasir, diperlukan alat penggali untuk menangkapnya.

Balobe; kebalikan dari bameti yang biasa dilakukan oleh wanita pada pagi dan petang hari, balobe dilakukan pada malam hari oleh para pria. Kebanyakan menghasilkan teripang, ikan, gurita, dan bia/kerang, serta lobster.

Bia Kambi’bi merupakan salah satu hasil bameti di pantai desa Ngilngof | foto: © WWF-Indonesia

Pemenuhan Konsumsi dan Sosial

Tidak banyak hasil tangkapan dari ber-bameti, karena hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitar pesisir. Kegiatannya sendiri juga berada dalam katagori aktifitas sosial, berkumpul,dan berinteraksi.

Praktek Bameti adalahcontohbagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya lingkungannya. Penggunaan peralatan sederhana dan tradisional serta berlakunya aturan tidak tertulis untuk mengambil seperlunya saja menjadi suatu kearifan lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.

 

Lestarikan Tradisinya, Bukan Kegiatannya

 

Tradisi Bameti dicatat sebagai kearifan lokal Provinsi Maluku. Tahun 2019 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dalam domain pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta.

Kegiatan bameti sebagai tradisi perlu dilestarikan karena eksploitasi pada lingkungan cukup kecil. Selain itu, bameti memiliki dampak sosial yang positif, yaitu menjaga dan mempererat kekerabatan, serta solidarias sosial melalui berbagi informasi dan hasil tangkapan.

Namun jika kegiatannya tidak dikendalikan, tradisi ini dapat menyumbang kerusakan lingkungan pesisir secara jangka panjang. Berkembangnya alat yang digunakan—yang tidak ramah lingkungan—dan bertambah banyaknya jumlah orang yang berkumpul dalam satu waktu di lokasi yang sama akan mengubah tradisi yang arif menjadi salah satu penyebabkerusakan alam.

 

Salah satu upaya tradisional yang potensial dapat dilakukan untuk menjaga Bameti adalah melalui penguatan ‘sasi’. Buka sasidan tutup sasipada tradisi lain di Maluku telah memperlihatkankemampuan ‘sasi’ untuk dapat mejaga keberlangsungan pelestarian budaya dan alam.


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Tarian Perang yang Atraktif

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik