Barus Titik Awal Islam di Nusantara

Juni 10, 2019 | Ahmadie Thaha

Peradaban Islam Nusantara bukan berawal di Pulau Jawa, tapi di Pulau Sumatera. Kepastian ini ditandai dengan peresmian Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara oleh Presiden Jokowi di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2017. Hadir mendampinginya dalam peresmian itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Dalam sambutannya, Presiden mengaku sudah lama mendengar sejarah kota Barus. Ia mengutip literatur yang menyebutkan, mumi-mumi di Mesir bisa diawetkan karena memakai kapur barus asal Barus. Sejak ratusan tahun lalu, katanya, nenek moyang Indonesia telah berhubungan erat dengan saudagar dari Timur Tengah yang menyebarkan agama Islam pertama di Nusantara.

Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara yang diresmikan Presiden berupa sebuah tugu bola dunia yang didirikan di bibir pantai Barus. Sebagai simbol peresmian, Presiden dan Mendikbud Muhadjir Effendy bersama-sama menekan tombol sirine. Tampak hadir di situ dan memberi kata sabutan pula, Gubernur Sumatera Utarakala itu,Tengku Erry Nuradi.

Pada kesempatan itu, Presiden juga menyempatkan diri berziarah ke Makam Mahligai. Pemakaman yang berada di Desa Aek Dakka ini merupakan cagar budaya yang menandai Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-6. Salah satu nisan di makam itu diyakini bertahun 48 Hijriyah atau 661 Masehi.

“Ini menunjukkan hubungan antara Timur Tengah dengan Indonesia sudah ada sejak abad ke-6,” kata Presiden (24/3/2017). Di kompleks pemakaman Mahligai, terdapat makam Syeikh Rukunuddin. Pada batu nisan ulama besar tersebut tertulis tahun 672 Masehi, lebih tua 410 tahun dari nisan Islam tertua di Pulau Jawa yang ditemukan pada 1920 di Leran, Gresik.

Menurut Teuku Kemal Fasya, antropolog dan Dewan Pakar NU Aceh, penentuan Barus sebagai titik nol peradaban Islam Nusantara tentu tidak jatuh begitu saja. Salah satu ormas Islam kabarnya ikut mendukung program Barus sebagai pusat masuknya Islam pertama di Nusantara. Namun, banyak ahli yang masih memperdebatkan posisi Barus sebagai awal peradaban Islam di Indonesia.

Sementara Gubernur Sumutkala itu,Tengku Erry Nuradi menjelaskan, Barus termasuk kota tertua di Indonesia. Ia sudah terkenal di dunia sejak abad ke-6 dengan kapur barus, kampar, dan hasil hutan lainnya.

Terletak di pantai barat Kabupaten Tapanuli Tengah, kota Barus berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Dalam catatan sejarah, pesisir barat Pulau Sumatera ini merupakan jalur perdagangan dunia dan gerbang masuknya berbagai agama.

Kota Barus kuna juga tidak bisa dipisahkan dari era Dinasti Ramses II. Pada masanya, Firaun terbesar dalam sejarah Mesir kuna itu mengekspor kamper dari Barus. Di Mesir, kamper dijadikan bahan pembalseman dan pengharum untuk mumi.

Dahulu kala,bunga kamper memang tumbuh suburdi Kota Barus. Pohon inilah yang menjadi daya tarik para pedagang dunia datang ke kota perlintasan yang menjadi gerbang masuknya Islam ke Nusantaraini.

Ironisnya, pohon kamper saat ini nyaris punah. Hanya di Desa Siordang, pohon kamper masih tumbuh di antara pohon sawit. Jumlahnya pun kurang lebih seratus pohon. Para peneliti telah menjadikan desa ini sebagai lokasi riset pembudidayaan pohon kamper.

Selain ahli tanaman, para arkeolog dunia juga datang ke Barus untuk melakukan penelitian. Lubang-lubang bekas penggalian di Desa Lobu Tua, Kecamatan Andam Dewi, menjadi penanda aktivitas mereka. Dari lubang-lubang itulah mereka menemukan benda-benda purbakala seperti keramik, tembikar, manik-manik, hingga mata uang emas yang berusia ribuan tahun.

Di Lobu Tua itu pula ditemukan petilasan kejayaan Barus kuna. Salah satunya, Prasasti Lobu Tua yang berbahasa Tamil. Prasasti berangka 1088 Masehi itu berisi perjanjian perdaganganyang melibatkan serikat dagang Bangsa Tamil di Barus.

Selain itu, para arkeolog menemukan banyak petilasan berupa makam para ulama besar penyebar agama Islam. Salah satunya, makam Syekh Mahmud di Bukit Papan Tinggi yang batu nisannya berasal dari abad ke-7 Masehi. Makam itu terletak di atas bukit yang bisa dicapai dengan melewati lebih dari 700 anak tangga. Panjang makam Syekh Mahmud mencapai tujuh meter. Nisannya terbuat dari batu putih setinggi 1,5 meter berukiran Arab kuna yang didatangkan dari India.

Selain makam Papan Tinggi, juga terdapat makam Tuan Syekh Badan Batu yang sering disebut Makam Aulia 44 Negeri Barus. Ia terletak di atas ketinggian Desa Bukit Hasang, sekitar dua kilometer dari Kota Barus.

Sementara,Pemakaman Mahligai terbentang seluas tiga hektar, juga terletak di atas bukit. Di sini dikubur sejumlah ulama besar asal Timur Tengah yang hadir ke Indonesia untuk menyebarkan agama Islam.

“Sejarah tentu meninggalkan bukti atau situs,” kata Presiden Jokowi usai berziarah ke Makam Mahligai, sebagaimana dikutip LKBN Antara. “Di sana terdapat banyak makam pedagang dari Timur Tengah yang kita yakini sebagai aulia pembawa masuknya agama Islam melalui Barus.”

Didasarkan temuan makam-makam, disimpulkan bahwa agama Islam telah masuk ke Barus sejak abad ke-6. Barus pun diyakini sebagai awal mula masuknya Islam di Nusantara, jauh lebih tua dari era Walisongo di Pulau Jawa.

Menurut Gubenur Sumutkala itu, meski sudah banyak dikaji, Barus sebetulnya masih menyimpan misteri. Banyak pemakaman kuna yang masih bisa digali oleh para sejarawan dan arkeolog untuk menguak sejarahnya. Tak kalah penting, sejumlah kajian juga diarahkan pada karya-karya tulis ulama Barus.

Barus mulai memudar ketika bisnis kapur mulai meredup di abad ke-16. Namun demikian, dakwah Islam tetap bertahan di sana. Sejak Kerajaan Pasai melemah dan redup pada akhir abad ke-15, poros peradaban dan sastra Melayu akhirnya pindah ke wilayah Barus dan Singkil di pantai barat-selatan.

Di daerah inilah dua aspek keilmuan Islam berkembang secara bersamaan, yaitu filsafat Islam dan kesusastraan Melayu. Sejumlah karya para ulama asal Barus terbit dengan ciri khasnya tersendiri,kemudian mewarnai corak keislaman di berbagai belahan Nusantara.

Tokoh utama falsafah dan kesusastraan Melayu dari Barus adalah Hamzah al-Fansuri yang lahir sekitar1570-an dan wafat pada 1630-an. Fansur sendiri berarti “kapur barus.” Pemikir besar lainnya yang lahir di Singkil, 120 kilometer dari Barus, ialah Syekh Abdurrauf as-Singkili (1615-1693).

Berbeda dengan pengembangan Islam di wilayah Pasai yang berporos pada fikih mazhab Syafi’iyah, Barus dan Singkil menjadi tempat bersemainya gagasan tasawuf yang menjadi katalisator berkembangnya Islam toleran, inklusif, dan progresif. Budaya zikir dan suluk yang berkembang di Nusantara dipengaruhi pemikiran sufisme dari Barus dan Singkil.

Terdapat satu hal yang masih menghubungkan antara Pasai dan Barus. Karya-karya ulama tasawuf dan fiqih, seperti Syarab al-‘Asyikinkarya Hamzah al-Fansuri, serta Mir’atut Thulab, Tarjuman al-Mustafid, ‘Umdat al-Muhatajin ila Suluk Maslak al-Mufradinkarya Abdurrauf As-Sinkili, ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab gaya Pasai.

Saat ini, riwayat Barus sebagai kota perlintasan para pedagang dunia nyaris tak kelihatan jejaknya. Selain makam-makam kuna, lubang galian di Lobu Tua, dan Tugu Nol Peradaban Islam Nusantara, tak ada lagi yang menautkan Barus dengan masa kejayaannya. Syukurlah, karya-karya para ulama masih akan tetap mengharumkan nama Barus hingga ribuan tahun ke depan.


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik