Bonet: Tradisi Ungkapan Isi Hati

April 5, 2019 | Nora Ekawani

Di Pulau Timor, tepatnya Timor Barat di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, ada sekelompok masyarakat yang nampaknya sangat akrab dengan istilah Bonet. Bonet merupakan tradisi tuturan berirama atau puisi lisan yang dilagukan dan dilakukan dengan menari. Melalui tradisi ini masyarakat TTS mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan mereka melalui syair serta pantun pada upacara adat.

Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tari Bonet merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat Pulau Timor yang paling tua. Tarian ini menggambarkan kebudayaan, hidup dan kehidupan masyarakat Suku Dawan, Timor. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, tari Bonet diyakini telah ada pada fase kehidupan berburu yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dawan. Tarian ini dilakukan sebagai bentuk suka cita karena telah memperoleh binatang buruan untuk keberlangsungan hidup mereka. Dimana sebelum binatang buruan dimasak dan dinikmati bersama-sama, diadakanlah upacara penyucian roh binatang buruan dan juga ritual persembahan kepada dewa sebelum makanan itu disantap bersama-sama. Tari Bonet adalah sebuah tari tradisional yang melambangkan semangat dan kebersaman masyarakat Suku Dawan. Dalam tari ini terdapat beberapa unsur penting yakni seni gerak, seni vokal dan seni sastra (Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia, 2017).

Sedangkan tuturan Bonet, mengutip http://kemdikbud.go.id, berbentuk satuan-satuan berupa penggalan yang ditandai dengan jeda. Satuan ini membentuk bait atau kuplet. Jumlah larik tidak selalu sama. Sedangkan ciri lainnya adalah pengulangan bentuk. Berdasarkan isi dan fungsinya, Bonet dibedakan atas empat jenis yakni boennitu (puji-pujian kepada arwah), boen ba’e (puji-pujian dalam suasana ceria seperti kelahiran, menimang anak), futmanu-safemanu (penyambutan tamu) dan boenmepu (nyanyian kerja).

Sumber: ceuceumeo2.blogspot.com

Warisan budaya ini merupakan salah satu bagian dari sastra lisan yang sudah mewarnai budaya Kabupaten TTS. Jika sekumpulan orang menari dengan membentuk lingkaran, saling bergandengan tangan dan berputar serta melantunkan pantun dengan syair-syair yang biasanya memiliki rima mengulang, itu lah Bonet. Bentuk lingkaran dengan bergandengan tangan ini dipercaya masyarakat TTS melambangkan persatuan dan kesatuan tiga suku di kabupaten itu yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo. Dulunya, Tari Bonet digelar saat masyarakat Suku Dawan hendak meminta perlindungan kepada Tuhan agar menjaga kesuburan jagung, sebagai makanan pokok mereka, sampai musim panen berikut. Kini, seiring dengan perkembangan zaman, Tarian Bonet sudah pun menggunakan pula lesung dan alu di dalam tariannya serta digelar dalam situasi apa pun; mulai dari pernikahan sampai acara penyambutan tamu.

Di dalam Bonet ada muatan pesan/informasi yang disampaikan kepada sesama. Bonet mampu membawakan pesan. Warga Boti Dalam yang merupakan bagian dari masyarakat Dawan misalnya pernah menggunakan Bonet untuk memprotes pembangunan gedung gereja yang berada di dekat wilayah mereka.

Bonet juga memiliki fungsi mendidik. Salah satu syair yang paling terkenal adalah syair yang berkisah tentang pesan perkawinan. Melalui Bonet diharapkan juga agar setiap warga yang telah terikat perkawinan secara adat tidak melakukan perceraian.

Ada dua jenis Bonet. Bonet pasan untuk hiburan dan bone’ naek atau Bonet Adat untuk penyelesaian masalah adat. Orang Boti melaukan Bone’ naek untuk upacara toit ai yang artinya minta api. Kegiatan toit ai ini bermula dari nenek moyang orang Boti di masa lalu. Ketika itu, jika hendak memasak tetapi tidak ada sumber api, maka mereka akan mendatangi keluarga atau kerabat untuk meminta bara api.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : bonet, boti, nusa tenggara timur., pantun
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik