Canang dan Kisah Dibaliknya

April 27, 2019 | Nora Ekawani

Jika berjalan kaki di Pulau Dewata, kita kerap menemukan sesajen-sesajen di banyak sudut ruang terbuka. Rangkaian sesajen kecil yang ada di mana-mana itu mempunyai arti penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali dan dikenal dengan nama Canang atau Canang Sari.

Sumber: Pexels.com

Canang Sari merupakan upakāra (perlengkapan) keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan tiap harinya. Persembahan ini dapat ditemui di berbagai Pura, tempat sembahyang kecil di rumah-rumah, dan di tempat umum lainnya sebagai bagian dari sebuah persembahan yang lebih besar. Kata canang terdiri atas dua suku kata bahasa Kawi, “ca” (indah) dan “nang” (tujuan). Dengan demikian, pengertian Canang dapat dijabarkan sebagai sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

sumber: dailymotion.com

Bali memiliki tiga tingkatan upakara yakni Nista, Madya dan Utama. Ketiga tingkatan inilah yang mendasari umat Hindu dalam melakukan yadnya (kurban suci) sesuai kemampuan masing-masing, agar yadnya yang dilakukan tidak memberatkan. Upakara dengan kuantitas terkecil dikenal dengan istilah Nista, di mana salah satu syaratnya adalah cukup dengan sarana upakara berupa Canang. Pembuatan Canang melibatkan banyak unsur mulai dari bunga-bunga hingga wadahnya yang biasa disebut tamas atau ceper.  Setiap unsur di dalam Canang punya makna dan menyimbolkan sesuatu.

  1. Ceper. Ceper adalah alas canang berbentuk segi empat. Ceper ini melambangkan angga-sarira (badan). Keempat sisi ceper melambangkan pembentuk angga-sarira yaitu Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, dan Panca Karmendriya. Canang yang dialasi ceper merupakan simbol Ardha Candra. Sedangkan yang dialasi oleh tamas kecil merupakan simbol dari Windhu.
  2. Beras atau wija melambangkan Sang Hyang Ātma, yang memberi kehidupan pada tubuh. Beras merupakan simbol benih di awal kehidupan yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Ātma.
  3. Porosan atau peporosan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir). Porosan ini melambangkan Tri-Premana yaitu Bayu (“pikiran”), Sabda (“perkataan”), dan Idep (“perbuatan”). Ketiganya memungkinkan tubuh yang bernyawa dapat beraktivitas. Porosan juga melambangkan Trimurti yaitu Siwa (kapur), Wisnu (sirih), dan Brahma (gambir). Makna dari Porosan adalah bahwa, setiap umat harus mempunyai hati (poros) penuh cinta dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  4. Jajan, Tebu, dan Pisang menjadi simbol dari Tedong Ongkara yang melambangkan kekuatan dalam kehidupan di alam semesta ini.
  5. Sampian Uras; atau juga disebut Duras terbuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar. Biasanya, Duras terdiri dari delapan ruas atau helai yang melambangkan roda kehidupan dengan astaa iswaryanya (“delapan karakteristik’) yang menyertai kehidupan setiap umat manusia.
  6. Bunga. Bunga yang diletakkan di atas Sampian Urasari melambangkan kedamaian dan ketulusan hati. Penyusunan bunga diurutkan sebagai berikut:
  • Bunga berwarna Putih disusun di timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara.
  • Bunga berwarna Merah disusun di selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Brahma.
  • Bunga berwarna Kuning disusun di barat sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Mahadewa.
  • Bunga berwarna Biru atau Hijau disusun di utara sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu.Kembang Rampai disusun di tengah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Panca Dewata.
  1. Kembang Rampai diletakkan di atas susunan bunga dan melambangkan kebijaksanaan serta simbol kekuatan Sang Hyang Panca Dewata. Bermacam-macam bunga, ada yang harum dan ada yang tidak, melambangkan kehidupan manusia yang tidak selamanya bahagia dan tidak pula selamanya menyedihkan.
  2. Lepa atau boreh miyik merupakan lambang sikap dan perilaku yang baik. Perilaku menentukan penilaian masyarakat terhadap baik atau buruknya seseorang.
  3. Minyak Wangi atau miyik-miyikan menjadi lambang ketenangan jiwa atau pengendalian diri. Dalam menata kehidupan, manusia hendaknya menjalankannya dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik.

Sumber: balilog.com

Canang sendiri merupakan salah satu bentuk banten atau persembahan. Dari segi penggunaan, bentuk, dan perlengkapannya, canang dibedakan menjadi beberapa macam. Antara lain Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, dan Canang Meraka.

 

  1. Canang Sari menggunakan ceper. Sampian urasarinya membentuk astadala, sehingga bentuknya bundar dan berfungsi sebagai sarining yadnya. Canang Sari terdiri dari dua jenis yaitu Canang Sari Ageng dengan sampian urasari berbentuk astadala dan Canang Sari Alit yang pada sampian urasari-nya menunjuk empat arah mata angin.
  2. Canang Genten pada intinya sama dengan Canang Sari, hanya saja ditambahkan dengan jajan kiping, pisang mas dan bubur sesuruh merah dan putih. Masing-masing bubur tersebut dibungkus dengan janur yang digiling menyerupai sebatang rokok serta diletakkan di bawah Sampaian Urasari. Fungsi canang ini adalah untuk memohon anugerah keremajaan, sehingga sering digunakan pada saat upacara matatah atau menek kelih (beranjak dewasa).
  3. Canang Pesucian dialasi dengan sebuah taledan kecil yang berbentuk segi empat panjang dan memiliki satu sibeh pada bagian pangkalnya. Canang ini menyimbolkan kekuatan Sang Hyang Iswar, simbol Sang Hyang Brahma, simbol Sang Hyang Mahadewa, simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu, dan simbol kekuatan Sang Hyang Siwa.
  4. Canang Gantal pada prinsipnya sama dengan Canang Pesucian. Kata ‘Gantal’ berasal dari kata Gana yang mengandung arti pertemuan, sedangkan kata ‘Tal’ dapat diartikan bersatu. Dengan demikian, Canang Gantal memiliki makna permohonan kedamaian kepada Tuhan.
  5. Canang Pangrawos pun pada prinsipnya sama dengan Canang Gental. Hanya saja pada Canang Pangrawos, di tengah-tengahnya terdapat sebuah takir berisi lima buah lekesan. Hal ini bertujuan untuk memohon kebulatan pendapat berdasarkan ketenangan hati untuk mencapai kedamaian. Canang ini biasa digunakan saat rapat ataupun pengajuman.
  6. Canang Tubungan. Canang ini pada prinsipnya sama dengan Canang Pangerawos. Perbedaannya hanya terdapat pada lekesan-nya saja. Canang ini merupakan penghormatan terhadap Ida Sang Hyang Widi agar manusia dianugerahkan kekuatan. Canang ini biasanya digunakan saat upacara nuntun atau mamendak.
  7. Canang Raka pada prinsipnya sama dengan Canang Sari. Pada Canang Raka tedapat lima jenis buah-buahan yang merupakan simbol permohonan peleburan panca mala. Selain itu, canang ini juga bertujuan agar dianugerahkan Panca Amertha. Panca Amertha terdiri dari Amertha Sanjiwani yang disimbolkan dengan pisang kayu, Amertha Kamandalu yang disimbolkan dengan buah salak, Amertha Kundalini yang disimbolkan dengan buah yang berwarna kuning, Amertha Pawitra yang disimbolkan dengan buah manggis, dan Amertha Maha Mertha yang disimbolkan dengan buah jeruk. Canang ini biasa dugunakan saat upacara Panca Yadnya, khususnya saat mendem pedagingan dan nyejer.
  8. Canang Tadah Sukla hampir sama dengan Canang Payasan. Perbedaan keduanya terletak pada isi celemik-nya. Canang ini merupakan simbol kekuatan iman, kesucian dan kesejahteraan. Canang ini biasa digunakan saat upacara pebersihan.
  9. Canang Pangengkeb pada prinsipnya sama dengan Canang Payasan, hanya di tengahnya berisi dua bua takir dengan penempatan pada kanan dan kiri. Pada bagian kanan diisi beras kuning dengan satu buah base tubungan, sedangkan takir yang kiri berisi cendana. Canang ini dimaksudkan untuk memohon kekuatan kewibawaan atau taksu dalam berkesenian. Canang ini biasa digunakan saat pementasan tarian sakral.
  10. Canang Saraswati menggunakan sebuah ceper sebagai alasnya. Di dalamnya berisi jajan, pisang, tebu, porosan, sampian plaus yang diletakkan pada bagian hulunya. Canang ini bertujuan untuk memohon anugerah kepintaran dan biasa digunakan saat hari Suci Saraswati.

 

Sebuah Canang Sari disempurnakan dengan meletakkan sejumlah kepeng (uang logam) atau uang kertas. Konon, uang logam atau uang kertas ini menjadi esensi dari persembahan. Canang memiliki peranan yang sangat penting dalam ritual keagamaan umat Hindu di Bali sehingga disebut juga dengan Kanista atau “inti dari upakara”. Sebesar apapun upakara, tidak akan lengkap tanpa diisi dengan Canang.

Sumber: videoblocks.com

Canang Sari digunakan sebagai persembahan harian kepada Sang Hyang Widhi Wasa sebagai ungkapan syukur atas kedamaian yang telah diberian kepada dunia. Ia merupakan bentuk persembahan rumah tangga yang paling sederhana. Filosofi dari proses persembahan ini adalah mengurbankan diri sendiri. Sebab, untuk membuatnya membutuhkan waktu dan tenaga. Canang Sari tidak digunakan saat ada kematian di dalam masyarakat atau keluarga.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : Canang Sari, Hindu Bali., Upacara
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik