Candi Muara Takus: Peninggalan Bernilai Tinggi di Muara Sungai

April 10, 2019 | Ahmad Gabriel

Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs kompleks percandian berlatar belakang Buddhisme yang terletak di muara Sungai Kampar Kanan, tepatnya di desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 130 kilometer dari ibukota Pekanbaru.

Candi Muara Takus merupakan bangunan terbesar di pulau Sumatera yang bangunan utamanya adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Kompleks candi dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar areanya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, serta dua reruntuhan struktur bata yang belum dapat diketahui bentuk asalnya.

Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan bahkan pada abad kesebelas. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarawan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.

Pada 6 Oktober 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO dan saat ini telah masuk daftar usulan calon nominasi (tentative list) dari 20 situs asli Indonesia yang telah didaftarkan. Indonesia mempunyai delapan Situs Warisan Dunia yang telah diresmikan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan setiap tahunnya berperan aktif mengusulkan situs-situs warisan budaya ini ke UNESCO.

Berikut candi-candi yang terdapat dalam kompleks Candi Muara Takus:

 

  1. Candi Mahligai

Candi ini juga disebut Stupa Mahligai yang memiliki bangunan paling utuh di antara candi-candi lain di kompleks Candi Muara Takus. Stupa Mahligai terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian atap, bagian badan dan bagian kaki. Candi ini memiliki dasar berbentuk persegi panjang, dimana memiliki lebar 10.44 meter dan panjang 10,6 meter dan memiliki tinggi keseluruhan sekitar 14 meter. Bangunan ini mempunyai 28 sisi yang berada di sekitar bangunan utama candi, dan candi ini menghadap ke selatan.

Terdapat ukiran bergambar lotus ganda di bagian alasnya, sedangkan di tengahnya terdapat menara berbentuk silinder yang terdiri dari 36 sisi, dimana pada bagian dasar sisi memiliki bentuk kelopak bunga, dan pada bagian atas candi berbentuk lingkaran. Candi Mahligai memiliki bentuk seperti menara yang mirip seperti yoni.

Dahulu, pada setiap sudut sisi dasar candi terdapat patung singa yang sedang duduk dan dibuat dari batuan andesit. Dan juga pada bagian puncak menara, ada batu yang diukir dengan relief-relief, dimana salah satunya adalah lukisan daun oval. Candi Mahligai diperkirakan dibangun dalam dua tahap, dimana pada pembangunan terakhir adalah penambahan dari bagian kaki candi. Pada tahun 1978 candi mahligai mulai dipugar dan baru selesai pada tahun 1983.

 

  1. Candi Sulung

Candi Sulung yang juga disebut Candi Tua merupakan bangunan terbesar yang berada di kompleks candi muara takus. Sama seperti Candi Mahligai, Candi Tua juga dibagi menjadi tiga bagian, yatu bagian atap, badan dan kaki candi. Pada bagian kaki candi terbagi lagi menjadi 2 bagian, dimana pada bagian pertama memilki tinggi 2,37 meter, sedangkan pada bagian kedua memilki tinggi 1,98 meter.

Terdapat tangga masuk di bagian timur yang memiliki lebar 4 meter dan juga di bagian barat selebar 3 meter yang dijaga dengan patung singa. Candi Tua berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 7 meter persegi dan tinggi 2,5 meter.

Candi ini memiliki fondasi berbentuk persegi panjang dengan ukuran 31,65 meter x 20,20 meter dan memiliki 36 sisi. Pada bagian atas candi ini sudah agak rusak, dimana berbentuk bundaran, dan tingginyasekitar 8.5 meter. Candi Tua dibangun dengan menggunakan batu pasir dan batu bata cetakan.

 

  1. Candi Bungsu

Candi ini terletak 3,85 meter di sebelah timur Candi Mahligai. Candi Bungsu memiliki bentuk mirip seperti Candi Sulung, namun pada bagian atas candi memiliki bentuk persegi. Pada bagian timur candi terdapat sebuah tangga yang dibuat dari batu putih dan juga terdapat beberapa stupa yang berukuran kecil. Bagian alas dari candi bungsu mempunyai 20 sisi. Candi ini dibuat dari batu bata merah dan memiliki panjang 13,2 meter dan lebar 16,20 meter.

Salah seorang peneliti yang bernama Yzerman menemukan lubang di bagian pinggir padmasana stupa dimana di dalam lubang tersebut terdapat abu dan tanah. Yang mengejutkan, di dalam tanah tersebut ia menemukan tiga keping emas, sedangkan di bagian dasar lubang terdapat satu keping emas yang bergambar trisula dan tiga huruf nagari. Di bawah lubang, ia juga menemukan batu persegi, dimana pada bagian bawah batu terdapat gambar trisula dan sembilan huruf nagari.

 

  1. Candi Palangka

Candi Palangka memiliki ukuran panjang 5,10 meter dan lebar 5,7 meter dan memiliki tinggi kurang lebiih 2 meter, dimana candi palangka terletak di sebelah timur dari Candi Mahligai. Bangunan ini sepenuhnya dibuat dari batu bata. Candi ini menghadap ke utara, hal ini ditandai dengan terdapat pintu masuk yang berada di sisi utara bangunan candi. Diperkirakan pada zaman dahulu, Candi Palangka dipakai sebagai Altar.

 

Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan itu adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.

Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus.

Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek ‘gelap’. Di kompleks Candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai. Di Candi Sulung arca singa ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini, berdasarkan konsep yang berasal dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol dari kekuatan terang atau baik.

Situs Candi Muara Takus terus mempertahankan nilai-nilai universal yang luar biasa sebagaimana ditunjukkan oleh penemuan benda-benda budaya dan lingkungannya, baik dari masa lalu atau sekarang, yang dijaga relatif utuh dan terpelihara dengan baik. Selain itu, Situs ini mencerminkan nilai-nilai karya agung yang berasal dari kemampuan dan proses jenius untuk menjaga kesadaran akan hubungan yang harmonis antara Pencipta (Tuhan), manusia, dan alam dengan latar belakang agama Buddha. Oleh karena itu, Situs Candi Muara Takus dapat dianggap dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia.

 

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik