Cerita Tentang Tenun Sumba

April 4, 2019 | Nora Ekawani

Sumber: Wahyu Sigit

Pulau Sumba terletak di sebelah selatan Pulau Sumbawa dan di sebelah barat Pulau Timor. Pulau ini sering kali salah diindentifikasikan sebagai Pulau Sumbawa. Padahal, Sumba dan Sumbawa adalah dua pulau yang berbeda. Keduanya sama-sama berada di dalam gugus Kepulauan Sunda Kecil atau Kepulauan Nusa Tenggara. Akan tetapi, Sumbawa terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sumba terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pulau Sumba hari-hari ini dikenal oleh karena kain tenunnya yang indah. Selain kain tenun, kekayaan budaya pulau ini pun menyedot perhatian. Katakanlah atraksi budaya Pasola dan perkampungan tradisional yang masih asli itu. Selain itu, alamnya pun indah dan punya hasil yang khas. Pulau ini dikenal sebagai pulau pengekspor kayu cendana dan keindahan padang sabananya tak terkirakan.

Di dalam konteks kain tenun, masyarakat Sumba sudah sejak lama memproduksi tenun ikat dan diduga telah mengembangkan tenun ikat sejak masa Prasejarah di bumi Nusantara. Memang, banyak daerah di Nusantara melakukan hal serupa. Katakanlah daerah-daerah di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi serta wilayah Nusa Tenggara lainnya. Di Pulau Sumba sendiri, wilayah Kanatang, Kambera, Kaliuda, Pahunga Lodu, Rindi, Pau, Umalulu, Mangili adalah wilayah-wilayah penghasil kain tenun ini. Mereka adalah wilayah-wilayah di pesisir Sumba. Sejak zaman dulu, memang wilayah pesisirlah yang dikenal sebagai penghasil kain tenun di Sumba.

Sumber: Wahyu Sigit

Tenun ikat Sumba yang di pasaran dihargai cukup tinggi itu dibuat dengan bahan-bahan seperti benang kapas, desain gambar dan ikat, pewarnaan, serta tenun dengan segala peralatannya. Kegiatan menenun ini merupakan kegiatan para wanita di Tana Humba, sebutan lain untuk Pulau Sumba, seperti banyak dilakukan suku-suku di Indonesia. Tenun ikat Sumba adalah hasil daya cipta kaum hawa Tanah Humba yang dibuat dengan cara benang dipintal dari kapas ditambah desain gambar maupun desain ikat tertentu serta menggunakan teknik pewarnaan alami. Peralatan yang digunakan adalah peralatan tenun tangan.

Jangan dikira menenun adalah pekerjaan yang mudah. Ya, tentu saja mudah bagi yang sudah terbiasa. Tetapi sangat sulit untuk yang sama sekali belum pernah mengalami. Proses menenunnya adalah sebagai berikut: benang pakan dimasukan secara horizontal pada benang-benang lungsi. Biasanya benang telah diikat dan sudah dicelupkan ke pewarna alami. Tidak seperti pada tenunan yang umum dijumpai di Indonesia di mana yang diikat pada mesin tenun ialah benang pakan, pada tenun Nusa Tenggara Timur umumnya dan Sumba khususnya yang diikat ialah benang lungsin. Benang pakan dimasukan secara horizontal terhadap benang lungsin yang telah diikat secara vertikal. Kain Sumba sebenarnya terdiri dari dua jenis utama yakni Hinggi, kain tenun ikat dengan bentuk empat persegi panjang yang biasanya digunakan oleh laki-laki, dan Lau, kain untuk perempuan berbentuk sarung.

Tenun ikat lungsi ala Sumba telah menarik perhatian publik terhadap budaya Sumba dalam beberapa tahun terakhir menggantikan Cendana yang berangsur langka. Jika sejak abad IV para saudagar dari bangsa-bangsa segala penjuru dunia datang ke Tanah Sumba demi Cendana, maka sejak masa kolonial tenun ikat mulai dilirik sebagai kekayaan warisan budaya Sumba (Transpiosa Riomandha: 2016).

Kain Sumba memiliki beberapa fungsi sosial budaya di dalam masyarakatnya. Secara garis besar fungsinya adalah sebagai pakaian, sebagai tanda hubungan kekerabatan, sebagai penanda status social, dan sebagai alat tukar dan komoditas.

Tenun ikat bagi masyarakat Sumba Timur merupakan sebuah pernyataan komunikasi dengan kelompoknya sendiri atau dengan pihak luar melalui simbol-simbol yang ditampilkan pada kain yang dikenakan. Tenun ikat Sumba juga menjadi alat untuk menyatakan status sosial bagi pemilik atau pemakainya serta menjadi alat pertukaran adat yang mengatur hubungan antar kerabat secara sosial budaya melalui upacara-upacara seperti perkawinan dan kematian. Pada awalnya, tenun memang merupakan alat pertukaran adat. Namun di kemudian hari, karena banyak mengadopsi simbol-simbol baru dan modern, menjadi komoditas yang bernilai secara ekonomis.

Di dalam pemahaman dan prinsip masyarakat tradisi Sumba, ketika kain tenun ikat Sumba dikenakan, ia adalah sebuah cermin. +Ketika kain dilipat menjadi dua tepat pada bagian tengah dan diletakkan pada pundak, maka baik dilihat dari depan maupun dari belakang, corak motif yang terlihat akan sama dan sebangun. Prinsip cermin ini ditafsirkan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur kehidupan selalulah hadir berpasang-pasangan; ada bulan dan matahari, siang dan malam, atas bawah. Hal ini juga sebangun dengan keyakinan Marapu, keyakinan asli masyarakat Sumba, yang selalu melihat leluhur berpasangan. Namun pada perkembangannya, prinsip ini mulai ditinggalkan. Motif disusun sebaris dari atas ke bawah atau setengah tampil.

Seluruh kegiatan produksi tenun ikat Sumba pada awalnya dilakukan secara manual dan tradisional dengan penggunaan pewarna alami. Semua proses pewarnaan ini dilakukan oleh perempuan. Pewarna alami biasanya dibuat dari akar-akar pohon dan dedaunan. Diketahui juga bahwa sistem kekerabatan di Sumba menganut garis patrilineal. Perempuan yang dinikahi (ana kawini) akan keluar dari rumahnya mengikuti suaminya serta menanggalkan nama kabihu keluarganya untuk ikut nama kabihu suaminya. Dengan demikian, pengetahuan kreasi tenun ikat Sumba adalah pengetahuan budaya yang diwariskan secara turun temurun dari garis perempuan yang dinikmati oleh garis keluarga laki-laki. Maka, perempuan yang bisa menenun adalah perempuan idaman untuk dinikahi.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika tenun mulai menjadi komoditas yang mampu meningkatkan pendapatan ekonomi, terjadi beberapa perubahan dalam proses pembuatan tenun. Selain bahwa benang sudah tidak lagi ditenun dari kapas namun sudah menggunakan benang jadi, pewarnaan pun sudah menggunakan zat-zat kimia. Kaum laki-laki pun mulai terlibat pada kegiatan tenun ikat ini.

Termasuk masyarakat yang tinggal di pedalaman yang awalnya tak memiliki sejarah pengetahuan budaya mengenai tenun ikat, kini aktif melakukannya. Hal ini lantaran proses kawin mawin yang dilakukan dengan orang pesisir. Mereka yang dari pesisir ini nantinya membawa pengetahuan dan teknologi menenun ini untuk mereka yang tinggal di wilayah pedalaman.

Secara tradisi, warna-warna utama dalam tenun ikat Sumba adalah putih, hitam, merah dan biru serta gradasi warna yang mengiringinya seperti merah muda, biru muda, coklat atau abu-abu. Konon hingga tahun 1990-an, masyarakat Sumba masih menetapkan aturan ketat bagi pemakai tenun. Tak ada yang boleh menggunakan motif tenun sesuka hati. Semua harus sesuai status sosial masing-masing.

Yang menarik adalah masyarakat Sumba menampilkan simbol-simbol hidupnya melalui selembar kain. Pada kebudayaan simbolik di Sumba, perempuan adalah guru pertama yang menghidupkan simbol-simbol tersebut dalam selembar kain, sang desainer tradisional. Apalagi pelajaran simbol ini dilakukan dengan cara ikat langsung pada benang lungsin tanpa digambar pola terlebih dahulu. Saat ini, laki-laki semakin banyak yang terlibat dalam desain tenun ikat, khususnya yang menggunakan teknik gambar terlebih dahulu sebelum diikat. Tidak hanya peran desainer yang dahulu adalah wilayah perempuan kini mulai bergeser menjadi wilayah laki-laki, bahkan keseluruhan proses pembuatan tenun di Sumba sudah dirambah kaum adam.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : pewarna alami, tana humba, tenun ikat sumba
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik