Dari S17, Tubuh Manusia Purba Sangiran Direkonstruksi Utuh

April 12, 2019 | Administrator Diversity.id

Para ahli paleoantropologi tentu sepakat menyimpulkan, Pulau Jawa merupakan salah satu tempat tinggal spesies manusia paling awal di dunia. Berdasar buti-bukti yang ditemukan, bisa dipastikan di pulau ini pernah hidup jenis manusia purba homo erectusjutaan tahun lampau.

Penemuan fosil manusia purba hominid memang tercatat cukup banyak di sepanjang Sungai Bengawan Solo,berikut anak sungainya. Wilayah temuan fosil manusia purba itu membentang dari daerah Sangiran di Jawa Tengah hingga beberapa daerah di Jawa Timur.

Pencarian fosil hominid pun masih berlangsung hingga sekarang di Ngandong, Sangiran, Sambungmacan, dan Trinil, daerah-daerah yang dianggap tambang penemuan fosil manusia purba. Namun, di antara situs-situs artefak purbakala di Indonesia ini, nama Sangiranlah yangpaling terkenal.

Sangiran masyhur di dunia sebagai situs yang mampu menyumbangkan bukti-bukti penting mengenai perubahan fisik manusia, evolusi fauna, kebudayaan, dan lingkungan. Evolusinya terekam membentang sejak lebih dari dua juta tahun silam.

Di sana ditemukan jejak peninggalan paling lengkap dan utuh kala Pleistosen, skala waktu geologi yang berlangsung antara 2.588.000 hingga 11.500 tahun lalu. Berbekal bahan temuan ini, para ahli paleoantropologi bisa lebih mudah merangkai benang merah sejarah manusia purba.

Unesco lantas menetapkan Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia Nomor 593 pada 1996 dengan nama The Sangiran Early Man Site. Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun terus mengembangkan dan memajukan Situs Sangirantersebut.

Saat ini, situs seluas 59,21 kilometer persegi tersebut dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kemendikbud. Tentu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Sragen, dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar, ikut terlibat di dalamnya.

Sangiran sendiri sebenarnya nama dukuh kembar di kaki Gunung Lawu. Dukuh kembar ini berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar. Kedua dukuh Sangiran dibelah oleh Kali Cemoro yang mengalir menuju Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa.

Dukuh Sangiran bagian utara masuk Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Sedangkan saudara kembarnya di selatan masuk Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Di Krikilan itulah Museum Manusia Purba Sangiran dibangun.

Di Museum Sangiran dengan kelima klasternya tak hanya disimpan kekayaan arkeologis berupa fosil manusia dan hewan. Di sana juga tersimpan alat-alat batu dan tulang hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak dua juta tahun lalu sampai sekarang tanpa terputus.

Kemasyhuran Sangiran sebenarnya telah bergema dan terekam di jurnal-jurnal ilmiah masyarakat dunia sejak akhir abad ke-19. Laporan penemuan fosil pertama dari Sangiran muncul di tahun 1864, ketika PEC Schmulling menemukan fosil hewan vertebratadi Desa Kelioso.

Pelukis naturalis Raden Saleh asal Jawa tak ketinggalan pernah menggambar fosil-fosil yang dikumpulkannya pada 1866 dan 1967 di Gunung Pandan dan di Kedung Lumbu (dekat Kedung Brubus) di Lembah Kendeng. Lukisannya kini tersimpan di Museum Geologi dan Mineralogi di Leiden, Belanda.

Maria Eugene Francois Thomas Dubois juga tercatat sempat melakukan eksplorasi di Sangiran pada 1893. Tapi, dia lebih dikenal sebagai penemu fosil hominid di Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Temuannya antara 1891-1892 ini bahkan dianggap sebagai tonggak sejarah penting bagi dunia paleoantropologi.

Itu pula sebabnya, popularitas Sangiran kemudian lebih lekat dengan nama GHR von Koeningswald ketimbang Dubois. Koeningswald melakukan eksplorasi di Sangiran untuk menindaklanjuti pemetaan geologi di kawasan Sangiran yang telah dilakukan LJC van Es pada 1932.Dari penggaliannya yang tak kenal lelah sejak 1934, Koeningswald berhasil menemukan fosil hominid sekitar 1936. Dan hingga 1941, dia intensif melakukan eksplorasidi sana.

Semakin banyaknya fosil-fosil yang ditemukan sebagai hasil dari eksplorasi yang intens itu, membuat Koenigswaldmenyimpulkan dan mengajukan temuan fosil homoerectusistilah ini berasal dari Koenigswald sendiri—yang artinya manusia setengah kera. Secara ilmiah dia menyebut homo erectussebagai phitecantropus erectus, yaknimanusia yang berdiri tegak. Inilah fosil penting dari tahapan evolusi manusia sebelum menjadi homo sapiens (manusia modern).

Secara keseluruhan, menurut Kasi Pemanfaatan Sangiran,Iwan Setiawan Dimas, di Sangiran telah ditemukan lebih dari seratus fosil individu manusia. Ini mewakili 65 persen fosil homo erectusdi Indonesia. Bahkan jika diperbandingkan dengan temuan di berbagai belahan bumi, Sangiran telah menyumbang 50 persen temuan fosil homo erectusdi dunia. Sumbangsih Sangiran pada dunia palaeontologi demikian luar biasa.

Setelah itu, tahun demi tahun penelitian semakin banyak dilakukan di Sangiran. Ini menghasilkan berbagai temuan berupa fosil manusia, fosil hewan, serta peralatan yang terbuat dari tulang dan batu.Iwan Setiawan menjelaskan, pengelolaan Situs Sangiran agak berbeda dari situs paleontologi lainnya di dunia. Di Sangiran, masyarakat dilibatkan secara aktif menjaga situs ini. Bila tiba-tiba menemukan fosil, mereka akan menyerahkannya kepada pengelola pelestarian situs manusia purba Sangiran.

Pemerintah menyediakan imbalan tertentu bagi anggota masyarakat yang menemukan fosil dan menyerahkan hasil temuannya kepada BPSMP Sangiran. Pemberian imbalan ini sudah dianggarkan setiap tahunnya. Manfaatnya jelas, ia dapat menekan penjualan gelap fosil oleh masyarakat.

Upaya menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya fosil bagi ilmu pengetahuan terus dilakukan. Tak heran,banyak temuan Sangiran berasal dari masyarakat. Bahkan, fosil Sangiran 17 (S17) yang dianggap spesimen penting untuk Indonesia dan dunia ditemukan oleh Tukimin, seorang warga dusun Pucung, di sebuah tebing di Dayu, Karanganyar, selatan Bengawan Solo pada 1969.

Berbeda dari fosil lainnya, tengkorak Sangiran 17 memiliki kelengkapan bagian wajah yang masih baik. “Sangiran 17 ini menjadi acuan dasar peneliti internasionaluntukbisa merekonstruksi wajah homo erectus,” kata Iwan menjelaskan.

Memang cukup sulit bagi seorang ilmuwan untuk merekonstruksi fosil tengkorak menjadi figur wajah yang utuh. Tapi temuan tengkorak Sangiran 17 yang relatifutuh telah mempermudah proses itu. Élisabeth Daynès, seorang pemahat asal Perancis yang punya spesialisasi merekonstruksi hominid dari sisa tulang, dilibatkan dalam proses rekonstruksi Sangiran 17 menjadi figur manusia.

Pembuat topeng teater dan pemilik studio Atelier Daynès tersebut, dengan bekal keilmuan, pengalaman di bidang seni patung dan anatomi komparatif, berhasil merekonstruksi bentuk wajah manusia Jawa purba berdasarkan tengkorak S17. Tak sekedar wajah, dia juga merekonstruksi keberadaan tubuh manusianya. Ini pada akhirnya membawanya pada kesimpulan bahwa S17 adalah homo erectuslaki-laki berusia 700.000 tahun.

Temuan S17 semakin melengkapi koleksi Situs Sangiran. Bahkan, keberadaan S17 yang dianggap temuan fosil penting dalam dunia palaeontologi telah mendorong banyak museum dunia mengoleksi replikanya. Tak berlebihan kiranya jika dikatakan, S17 adalah karya besar Sangiran.

Situs Sangiran merupakan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Dengan demikian, semua nilai penting yang terkandung di dalamnya dapat terus dipelajari, dimanfaatkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Upaya pelestarian Situs Sangiran terus dilakukan dengan berbagai cara seperti kegiatan sarasehan, sosialisasi, dan edukasi kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan penelitian tentu masih terus dilakukan. Diadakan pula pameran keliling di beberapa kota setiap tahun, bioskop keliling, pembuatan buku/jurnal, konservasi fosil, dan sebagainya.

 

 

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik