Debus Muda Milenial

Agustus 8, 2019 | Ahmadie Thaha

Debus menjadi suguhan spesial malam puncak perhelatan Golok Day 2019 yang digelar di lapangan tengah kota Cilegon, Banten, Mei 2019lalu. Di malam cerah itu, sejumlah pedebus muda tampil di atas panggung acara yang bertema Banten Young Millenial Debus.

 

Dengan ucapan bismillah, lalu salam, acara dimulai. Lantunkan irama ayat suci al-Qur’an bergema.Dilanjutkan ucapan permohonan maaf ke penonton,”Ini hanya sebuah kesenian, tolong izinkan kami bermain. Jangan ganggu kami. Semua yang kami lakukan di atas sini hanya atas izin Allah.” Demikiankata pembawa acara.

 

Selanjutnya, aksi debus pun berlangsung. Seorang pedebus muda tampak maju ke atas panggung. Di bawah iringan musik tradisional, dia memotong rambut rekannya dengan golok tajam. Dia lalu mencium kepala kawan itu sejenak, merebahkan tubuhnya, kemudian menggorok lehernya dengan golok tajam tadi.

 

Berikutnya,tampil pedebus muda tanpa baju. Di tempat yang sama, dia beraksi dengan menghunuskan golok tajam ke lidah, tangan, dan kakinya. Lalu, dia mengambil pasak besi berujung lancip dan menusukkannya berkali-kali ke perutnya. Aneh, tak ada luka, tak ada darah keluar.

 

Sejumlah pedebus muda lain bergantian tampil dengan suguhan aksi tak kalah seru, masih dengan iringan musik yang sama. Atraksi mereka tak beda dengan pedebus tua;mengaduk-aduk perasaan penonton yang duduk melingkar di sekitar arena, di bawah sorot lampu terang.

 

Seni debus yang semula dipraktekkan kaum tua kini sudah dilakoni kawula muda. Misalnya, Ana Lestiana. Tak hanya suka berias, wanita yang belajar debus di sekolah ini mengunggah video yang mempertontonkan dirinya tengahmakan lampu neon yang lebih dulu dipecahkannya.

Tak tampak rasa takut di raut wajahAnaketika memakan benda tajam tersebut. Wajah peserta Sunsilk Hijab Hunt 2018 itu tetap cantik dengan hijab menutup kepalanya. Debus dianggapnya bagian dari kesenian daerah yang bisa diandalkan untuk menjaga diri.

 

Unsur iman kepada Tuhan YME menjadi unsur penting di dalam debus. Dipercayai bahwa sekeras apa pun seorang pedebus menjalankan latihan, tetap saja unsur iman pada Tuhan YME inilah unsur utamanya. Jika ada pedebus meragukan sedikit saja keberadaan Tuhan YME, kekuatan tubuhnya bisa hilang sehingga tak tahan menjalani aksi debus.

 

Pedebus senior Mulyadi (51) mengaku bahwa ia harus melakukan ritual serius dan panjang sebelum menggelar aksi debus yang dipastikan asli, bukan tipuan atau sulap. “Semua yang dilakukan dalam debus itu asli. Benda tajamnya sampai darahnya, asli semua,” katanya.

 

Dalam suatu pertunjukan, di tengah suara tetabuhan gendang dan suling, dia memakan paku yang berserakan di baskom, juga menusukkannya ke hidung. Dia lalu menjulurkan lidahnya ke penonton, seakan ingin membuktikan dia benar-benarmelumat besi tajam itu.

 

Dia enggan menjelaskan kondisi tubuhnya saat mengkonsumsi benda tajam selama aksi debus. “Itu rahasia,” tuturnya. Dia mengaku, benda itu bisa keluar dari tubuhnya dalam beberapa hari, bisa juga tidak. “Tergantung kemauan saya,” katanya tertawa.

 

Kata debus sendiri berarti benda berbahaya. Konon kata ini berasal dari dablus, senjata penusuk yang terbuat dari besi, berujung runcing dan tajam. Tapi, kata debus lebih dekat ke kata Arab dabbus, yang berarti peniti atau paku yang runcing dan tajam.

 

Debus merupakan kesenian bela diri yang berkembang di Aceh, Minang, dan Banten. Pada masa pemerintahan Ageng Tirtayasa di Banten (1651—1692), debus menjadi sarana untuk memompa semangat juang rakyat melawan penjajah Belanda yang menyengsarakan mereka.

 

Sebelumnya, Sultan Banten Maulana Hasanuddin (1532-1570) memperkenalkan debus ke masyarakat sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Selanjutnya, debus dikembangkan menjadi objek budaya yang mengombinasikan seni tari dan suara khas Banten.

 

Debus selanjutnya berkembang ke Sumatera Barat, disebut dabuih. Namun, debus kini hanya ditemukan di Kabupaten Tanah Datar dan Pesisir Selatan. Di Aceh, debus berasal dari tarekat Rifa’iyah dan digunakan pasukan Cut Nyak Dien (1848—1908) melawan penjajah.

 

Tarekat Rifa’iyah yang didirikan Ahmad ar-Rifa’i (1187) di Basra, Irak, dikembangkan di Aceh,Sumatera oleh Nuruddin al-Raniri. Pengikutnya berdzikir hingga mencapai ekstasi. Mereka suka melakukan hal-hal ekstrem dan berbahaya, seperti terjadi di debus.

 

Dalam pertunjukan debus, para seniman memang sering mempertontonkan aksi-aksi ekstrem dan berbahaya, seperti menusuk tubuh dengan besi runcing. Atau, menusuk perut dengan tombak, mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok, tanpa terluka.

 

Kadang mereka memakan api atau menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tembus tanpa mengeluarkan darah. Juga, menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.

 

Atraksi lainnyaadalahmereka suka menggoreng telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki susunan golok tajam, dan bergulingan di atas serpihan kaca atau beling. Itu semua membuat debus terbilang ekstrem bagi sebagian masyarakat.

 

Dewasa ini, debus sebagai seni beladiri banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan atau upacara adat. Pemerintah berusaha mempertahankan kesenian tradisional debus. Pada 2017 digelar Festival Debus di Bantenyangdihadiri 5.000 peserta.

 

Masa depan debus sangat tergantung pada pelestarian dan pewarisannya. Ini tak mudah dilakukan, karena aksi debus tak bisa dijadikan sumber penghasilan tetap. Namun, berbagai pentas debus yang tersedia terus mengokohkan keberadaannya.

 

 

 

 

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik