Delapan Situs Warisan Dunia di Indonesia

April 11, 2019 | Ahmadie Thaha

Bangsa Indonesia mesti berbangga. UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) telah meresmikan delapan Situs Warisan Dunia di Indonesia. Lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini juga telah memasukkan delapan elemen budaya Indonesia yang kaya raya ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Kedelapan situs Warisan Dunia itu adalah Candi Borobudur (1991), Taman Nasional Komodo (1991), Candi Prambanan (1991), Taman Nasional Ujung Kulon (1991), Daerah Manusia Pra-sejarah Sangiran (1996), Taman Nasional Lorentz (1999), Hutan Hujan Tropis Sumatera (2004), dan Subak (2012).

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly mengatakan, satu di antara kedelapan situs itu dinyatakan terancam punah (in danger) sejak 2011. Situs Hutan Hujan Tropis Sumatera kini ditandai warna merah karena pembuatan lahan di atasnya, illegal logging, ekploitasi massal, dan pembangunan jalan raya.

Selain situs, UNESCO juga menetapkan delapan elemen budaya masuk ke daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yaitu wayang (2008), keris (2008), batik (2009), angklung (2010), tari saman (2011), noken Papua (2012), tiga genre tari tradisional Bali (2015), satu program pendidikan dan pelatihan tentang batik di Museum Batik Pekalongan (2009), serta terakhir seni pembuatan perahu pinisi (2017).

Dilansir dari situs resmi UNESCO, Rabu (28/12), berikut delapan Situs Warisan Dunia dari Indonesia:

 

  1. Candi Borobudur

Candi Borobudur yang dianggap sebagai candi suci agama Budha ini memang menakjubkan. Dibangun pada abad ke-8 dan ke-9, candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah, atau 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Pada tahun 1970-an, UNESCO juga membantu proses perawatan dan pemulihan candi tersebut.

 

  1. Candi Prambanan

Candi Prambanan juga masuk menjadi warisan dunia yang diakui UNESCO. Dibangun pada abad ke-10, Candi Prambanan ini merupakan sebuah kompleks candi terbesar yang didedikasikan untuk Siwa. Relief candi yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Klaten ini menggambarkan kisah Ramayana.

 

  1. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo ini memang khas dan unik, karena masih memiliki hewan purbakala. Taman Nasional ini mampu menampung sekitar 5.700 komodo. Tak heran, taman nasional tersebut masuk menjadi warisan dunia.

 

  1. Taman Nasional Ujung Kulon

Seperti namanya, Ujung Kulon, taman nasional ini terletak di ujung paling barat di Pulau Jawa. Tepatnya di semenanjung Ujung Kulon. Adapun hewan khas yang ada di Ujung Kulon adalah badak bercula satu.

 

  1. Museum Purbakala Sangiran

Museum Purbakala Sangiran ini terkenal dengan kawasan yang banyak ditemukan fosil-fosil prasejarah. Sekitar tahun 1936 hingga 1941 dilakukan penggalian pertama. Kemudian penggalian berlanjut hingga sekarang. Banyak fosil seperti Meganthropus Palaeo Javanicus dan Pithecanthropus Erectus atau Homo Erectus yang terkenal di dunia ditemukan di Sangiran. Pantaslah, kawasan ini masuk jadi warisan dunia.

 

  1. Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz terletak di Papua. Luas kawasannya sebesar 2,4 juta hektar sehingga menjadi taman nasional terbesar di Asia Tenggara. Taman nasional ini menjadi situs warisan dunia menurut UNESCO sejak tahun 1999.

 

  1. Hutan Hujan Tropis Sumatera

Kawasan hutan hujan tropis di Pulau Sumatera seluas 2,5 juta hektar ini melingkupi tiga taman nasional, di antaranya Taman Nasional Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Ia menjadi rumah bagi sekitar 10.000 spesies tanaman, 200-an mamalia, ratusan jenis burung, dan 21 hewan endemik.

 

  1. Sistem Pengairan Subak Bali

Sistem pengairan khas masyarakat Bali ini masuk menjadi warisan dunia dari Indonesia. Sistem pengairan yang memanfaatkan kanal dan bendungan itu terbukti mampu mengairi sawah dan kuil seluas 19.500 hektar. Subak sendiri mencerminkan konsep filosofis Tri Hita Karana yang menyatukan dunia manusia, alam gaib atau roh, dan alam semesta. Sistem ini dinilai egaliter dan demokratis untuk petani di Bali.


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik