Drama Cinta dari Tanah Bali

April 4, 2019 | Agam Radjawali

Berabad lalu tersebutlah sebuah kerajaan kecil di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama desa Kalianget di wilayah Buleleng, Pulau Bali. Pada suatu ketika, Kerajaan Kalianget dilanda musibah wabah penyakit yang menyebabkan banyak penduduknya meninggal dunia. Baik rakyat biasa maupun kalangan istana. Seisi kerajaan berduka.

Selewat masa bahaya wabah, Raja Kalianget memutuskan untuk pergi ke luar istana untuk menengok keadaan rakyatnya. Dalam tinjauan kelilingnya, Sang Raja menjumpai seorang bocah lelaki sedang menangisi kematian kedua orang tuanya dan dua orang saudaranya yang menjadi korban wabah. Anak yang tinggal sebatang kara itu bernama I Nyoman Jayaprana. Menyaksikan kepiluan Jayaprana, Raja Kalianget jatuh iba. Teringat akan mendiang anaknya, Sang Raja pun mengajak Jayaprana ke istana dan mengangkatnya sebagai anak.

Hidup di istana, Jayaprana mendapat didikan layaknya pangeran. Dia tumbuh menjadi pemuda gagah, lihai bertarung, dan pula tampan rupawan. Banyak gadis dari kalangan dalam mau pun luar istana menaruh hati dan harapan kepadanya. Namun, Jayaprana tetaplah pemuda sederhana. Tujuan hidupnya adalah menjadi prajurit dan setia mengabdi pada Raja dan Kerajaan Kalianget.

Suatu saat ketika sedang berjalan di pasar, pemuda Jayaprana melihat seorang gadis penjual bunga. Parasnya yang jelita membuat Jayaprana terpukau, terpaku, dan membeku. Jayaprana pun jatuh cinta seketika. Gadis rupawan itu adalah anak Jero Bendesa dari Banjar Sekar. Namanya Ni Komang Layonsari.

Sekembalinya ke istana, Jayaprana menghadap raja dan menceritakan bahwa, dia telah menemukan pujaan hatinya. Raja Kalianget yang memang sudah meminta prajuritnya itu untuk mendapatkan pasangan hidup meminta bawahannya untuk membuatkan surat pinangan kepada Jero Bendesa.

Jayaprana sendiri yang kemudian membawa surat tersebut ke Banjar Sekar. Membaca surat pinangan dari Raja, Jero Bendesa menyatakan persetujuannya. Layonsari pun ternyata membalas rasa cinta Jayaprana. Tak ada aral melintang, Raja Kalianget yang dilapori hasil lamaran itu segera memerintahkan para perbekelnya untuk melakukan persiapan upacara perkawinan Jayaprana dan Layonsari.

Tibalah hari upacara perkawinan Jayaprana dan Layonsari dilangsungkan. Istana kerajaan telah dihias di sana-sini, penuh tebaran pernak-pernik dekorasi segala warna. Sang Raja Kalianget duduk tenang di singasananya. Berwibawa. Iring-iringan rombongan pengantin datang dan berhenti di depan istana. Lalu kedua mempelai turun dari kereta kuda dan langsung menghadap baginda raja untuk menghaturkan sembah hormat. Raja Kalianget yang menerima pasangan pengantin baru ini terdiam tak berkata-kata. Ia terpesona atas kecantikan mempelai wanita dari anak angkatnya yang baru dilihatnya itu. Raja Kalianget seketika jatuh hati pada Layonsari.

Hari berlalu, Raja tak bisa menyingkirkan perasaannya terhadap Layonsari, istri anak angkatnya. Tanggungan rasa cinta yang berat membuatnya terobsesi dan membutakan akal sehat raja yang selama ini dikenal bijaksana. Yang menjadi fikiran raja sekarang adalah bagaimana menyingkirkan Jayaprana sehingga kemudian bisa mengambil Layonsari sebagai istrinya.

Saat itu, di Teluk Terima, kawasan pengulon kerajaan, terjadi peristiwa penyusupan orang-orang seberang laut. Mereka memburu dan membunuhi hewan-hewan yang ada di sana. Timbul akal licik sang raja. Ia berniat menunjuk Jayaprana memimpin pasukan untuk menyelidiki dan membereskan kekacauan di sana. Lalu diam-diam, memerintahkan patihnya, Sawung Galing, untuk membunuh Jayaprana sesudahnya.

Masih dalam hari-hari berbulan madu, Jayaprana dipanggil ke istana. Ia bersama Sawung Galing serta sepasukan prajurit esok harinya akan berangkat ke Teluk Terima untuk menumpas pemberontakan di perbatasan barat kerajaan. Demikian isi perintah raja yang diterimanya.

Kembali ke rumah, Jayaprana menyampaikan tugas yang diterimanya kepada sang istri. Malam harinya, Layonsari bermimpi buruk. Saat terbangun, ia menceritakan mimpi tersebut kepada suaminya. Ia meminta Jayaprana untuk membatalkan kepergiannya. Layonsari merasa bahwa, mimpinya itu merupakan firasat akan terjadi sesuatu yang buruk pada sang suami.

Sebagai prajurit yang setia, Jayaprana tidak dapat meragukan titah rajanya. Walaupun dengan perasaan galau karena firasat buruk dan bersedih karena harus meninggalkan istrinya yang sangat khawatir akan nasibnya, pagi hari Jayaprana begabung dengan pasukannya dan berangkat ke arah barat.

Seusai memulihkan situasi di Teluk Terima, masih berada di hutan, Sawung Galing menyerang untuk membunuh Jayaprana. Karena Jayaprana lebih mumpuni dan mungkin Sawung Galing menyerang dengan setengah hati, serangan-serangan tersebut tidak berhasil. Jayaprana bertanya mengapa sang patih ingin membunuhnya. Sawung Galing yang dalam hati nuraninya berkeberatan namun sebagai abdi raja tak bisa menolak perintah pembunuhan tersebut mengatakan bahwa, itu merupakan perintah Raja Kalianget. Lebih lanjut dikatakan bahwa, sang raja menaruh hati pada Layonsari dan ingin mejadikannya sebagai istri.

Apa yang dirasakan Jayaprana ketika mendengarkan kata-kata itu tak bisa digambarkan melalui kata-kata pula. Semenjak diangkat menjadi anak, raja sangat baik hati dan penuh perhatian pada dirinya. Dan ia telah bersumpah untuk membalas budi baik tersebut dengan segala yang ada pada dirinya. Ia telah bersumpah untuk mematuhi apapun titah raja. Tetapi untuk menyerahkan istrinya, tak pernah terbersit sedikitpun dalam hati dan pikiran Jayaprana. Bagi Jayaprana, ia tak memiliki apapun di dunia ini kecuali Layonsari dan cintanya kepada istrinya itu.

Tak terlalu sulit bagi Jayaprana untuk mengalahkan dan berbalik membunuh Sawung Galing saat itu. Namun apa yang akan terjadi selanjutnya, pikir Jayaprana. Tetap tak bisa ia menemui istrinya lagi.

Dalam kesedihan yang teramat dalam Jayaprana menyerahkan kerisnya kepada Sawung Galing. Keris itulah kelemahan kesaktian Jayaprana. Ia juga meminta agar menyampaikan pesan kepada istrinya bahwa, ia mati untuk memenuhi sumpah; ketaatan dan kesetiaan kepada raja.

Airmata Sawung Galing berderai ketika menerima keris Jayaprana. Ia menusukkan keris tersebut ke tubuh Jayaprana. Jayaprana rubuh terbunuh dengan sekali tikam. Dan keajaiban datang menyeruak. Dari tubuh Jayaprana yang bersimbah darah, menyerbak wangi harum melingkupi seantero hutan.

Alam seperti ikut berduka. Sontak, terjadi hujan dan angin kencang, hewan-hewan meraung menjerit layaknya teriakan pilu. Lalu entah darimana datangnya, muncul seekor macan berwarna putih yang langsung melompat menerkam Sawung Galing hingga sang patih pun tewas.

Berbeda dengan waktu berangkat, sisa pasukan yang selamat kembali ke ibukota dengan langkah gontai dan wajah menunduk. Sesampai di istana mereka melaporkan peristiwa yang terjadi kepada raja. Sebagian pergi menyampaikan berita duka dan pesan terakhir pimpinan pasukan mereka kepada Layonsari.

Tak menunggu lama setelah menerima laporan, Raja Kalianget menyambangi Layonsari di rumahnya. Ia menyampaikan berita kematian Jayaprana seraya memperlihatkan keris yang masih berjejak darah Jayaprana. Raja pun menyampaikan niatnya memboyong Layonsari ke istana untuk dijadikan permaisuri. Layonsari yang dalam keadaan duka dan amarah, merebut keris tersebut lalu menusukkan ke jantungnya sendiri. Istri Jayaprana itupun tewas menyusul suaminya. Keajaiban yang sama terulang. Dari jasad Layonsari muncul bau harum yang menyerbak ke penjuru kota. Bahkan konon, melingkupi seluruh wilayah kerajaan.

Mengartikan jasad yang berbau wangi sebagai pertanda bahwa orang tersebut tak memiliki dosa, rakyat Kalianget lalu membawa jasad Layonsari ke hutan di Teluk Terima untuk dipertemukan kembali dengan mendiang suaminya, Jayaprana. Di tempat itu mereka membangun dua makam; satu untuk Jayaprana dan Layonsari, satunya untuk Patih Sawung Galing. Makam Sawung Galing yang ditempatkan di lokasi yang sama ditujukan sebagai tugas abadi sang patih untuk menjaga pasangan arwah suci tersebut.

Saat ini, lokasi yang dipercaya sebagai makam Jayaprana dan Layonsari sudah dibangun Pura dan disebut Pura Puncak Luhur Sari Teluk Terima atau Pura Teluk Terima. Namun lebih sering disebut sebagai Pura Jayaprana. Banyak yang datang berkunjung ke Pura ini, terlebih karena tempatnya ayem dan berpemandangan indah. Dari puncak bukit dapat dilihat laut dengan hamparan karang dan koral yang berwarna-warni di bawahnya, ditambah latar belakang bentangan hijau hutan Taman Nasional Bali Barat dan sosok Pulau Menjangan. Tidak itu saja. Jika cuaca cerah, tampilan alam akan menjadi sempurna dengan kemunculan penampakan puncak-puncak gunung di Jawa Timur.

Catatan:

Sebagaimana sebuah kisah legenda, terdapat beberapa versi cerita JayapranaLayonsari ini, namun kerangka ceritanya tetap.

Ada juga beberapa versi nasib Raja dan Kerajaan Kalianget dalam akhir kisah ini. Ada yang menceritakan Raja menjadi lebih berduka lalu turun tahta dan kemudian mengasingkan diri. Ada pula kisah yang menceritakan bahwa, Raja menjadi lupa diri kemudian mengamuk dan membunuh banyak orang. Situasi kerajaan menjadi sengkarut dan pada akhirnya Kerajaan Kalianget runtuh, rakyatnya habis, dan wilayahnya menjadi hutan belantara. Taman Nasional Bali Barat dianggap sebagai hutan yang tersisa saat ini.

Cerita tentang Jayaprana dan Layonsari menjadi kisah wiracarita bagi masyarakat Bali. Kisah ini sudah diwujudkan dalam berbagai bentuk kesenian: dongeng, lagu, tari, dan sendratari.

Nama Layonsari dalam legenda ini sebenarnya muncul pada saat istri Jayaprana tersebut melakukan bunuh diri dan kemudian jasadnya mengeluarkan bau harum. Layon berarti jasad dan Sari berarti wangi. Tidak diketahui apakah pernah ada sebutan nama lain sebelumnya.

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

  1. This is very interesting, You’re a very skilled blogger.
    I have joined your rss feed and look forward to seeking more of your wonderful post.
    Also, I’ve shared your website in my social
    networks!

  2. crecer el pene berkata:

    Thanks in favor of sharing such a good thought, article is
    pleasant, thats why i have read it fully

  3. pene tamano berkata:

    It’s perfect time to make a few plans for the
    longer term and it’s time to be happy. I have learn this post and if I could I desire to suggest
    you some interesting issues or suggestions. Maybe you could
    write subsequent articles relating to this article.
    I desire to read even more issues about it!

  4. Yes! Finally someone writes about lecherous.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Tarian Perang yang Atraktif

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik