Inti ‘Bawang’ Kebudayaan

Agustus 5, 2019 | Nadjamuddin Ramly

Agenda Kemah Budaya Kaum Muda berlangsung sukses di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta, Juli lalu. Saking semangatnya memotivasi peserta, sampai-sampai salah seorang fasilitator menyatakan bahwa inti kebudayaan adalah imajinasi (Kompas, 24/7/2019).

Tampaknya dia hendak mendorong kaum muda peserta Kemah Budaya rajin-rajin berimajinasi agar bisa melahirkan karya budaya adiluhung. Dia lupa, di SMA mereka sudah diberi pelajaran bahwa inti kebudayaan itu bukan imajinasi, tapi sistem nilai, agama dan adat (Dyastriningrum, Antropologi Kelas XI, 2009).

Untuk menjelaskan hal ini lebih mudah, dengan merujuk Ralph Linton (The Study of Man, 1936), saya coba membandingkan budaya dengan bawang. Budaya, seperti bawang, terdiri atas lapisan yang bisa dikupas. Dalam budaya, kita dapat membedakan tiga lapisan.

Lapisan luarnya berupa sesuatu yang dikaitkan orang dengan budaya. Yaitu, realitas visual yang, dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, disebut sepuluh obyek pemajuan kebudayaan. Misalnya, perilaku, pakaian, makanan, bahasa, dll. Inilah tingkat budaya eksplisit.

Lapisan tengah kebudayaan mengacu pada norma dan nilai yang dipegang masyarakat: apa yang dianggap benar dan salah (norma) atau baik dan buruk (nilai). Norma seringkali bersifat eksternal dan diperkuat oleh kontrol sosial. Nilai cenderung lebih internal ketimbang norma. Masyarakat tidak memiliki banyak cara untuk mengendalikan penegakan nilai.

Nilai dan norma menyusun cara orang berperilaku dalam budaya tertentu. Inilah yang disebut Linton sebagai inti kebudayaan. Tetapi norma maupun nilai tidak terlihat, meskipun pengaruhnya terhadap apa yang terjadi di permukaan dapat diamati.

Lapisan ketiga bawang kebudayaan, sebagai lapisan yang yang paling dalam, adalah tingkat budaya implisit. Keberhasilan kita memahami inti dari bawang budaya ini merupakan kunci untuk berhasil bekerja dengan budaya lain, pada tingkat lokal maupun global.

Inti terdiri dari asumsi dasar, serangkaian aturan dan metode untuk menangani masalah reguler yang dihadapi. Metode pemecahan masalah ini menjadi sangat mendasar sehingga, seperti bernafas, kita tidak lagi berpikir tentang bagaimana kita melakukannya. Bagi orang luar, asumsi dasar ini sangat sulit dikenali.

Setiap budaya telah mengembangkan asumsi dasarnya sendiri. Asumsi dasar ini dapat diukur dengan dimensi. Setiap dimensi seperti sebuah kontinum. Namun, budaya berbeda-beda cara dalam berurusan dengan dimensi-dimensi ini, meski tidak berbeda dalam kebutuhan membuat semacam respons.

Linton lebih fokus menyebut nilai sebagai inti kebudayaan. Nilai budaya dibentuk oleh komunitas tertentu dan tidak secara individu. Setiap anggota komunitas tertentu menemukan nilai ini dan dapat mengambil sikap individu terhadapnya. Menemukan nilai dan mengeksplorasinya adalah karakteristik menentukan dari individu yang bebas, berpikir, dan aktif.

Dalam budaya masyarakat mana pun terdapat nilai-nilai yang menjadi kesepakatan umum mereka. Nilai itulah dasar identitas mereka. Tindakan institusi sosial dan individu berfokus padanya. Nilai menciptakan lingkungan merangsang. Implementasinya mengikat masyarakat bersama. Nilai juga menyatukan apa yang terfragmentasi dan menguniversalkan apa yang bersifat individual dan sementara.

Nilai-nilai tersebut disebut nilai pusat atau asli (A. Kłoskowska) atau nilai yang lebih tinggi (S.Ossowski). Ia menentukan kualitas masyarakat tertentu dan kekhasan budayanya. Dalam budaya apa pun, individu mencari pemenuhan diri, tetapi selalu terjadi dalam konteks sosial.

Karena kenyataan bahwa budaya selalu memiliki karakter sosial dan individu, suatu kelompok sosial mempertahankan budaya yang sama dan pada saat yang sama mengembangkannya. Setiap generasi baru memasuki warisan generasi sebelumnya dan menambahkan sesuatu yang baru padanya tetapi sesuai dengan nilai-nilai yang telah disediakan.

Produk dan perilaku material dapat berubah terus-menerus, banyak pula yang dilupakan. Tapi, nilai- nilai yang menjadi dasar pembentukannya tetap dan terus merangsang tindakan baru.

Ini berarti, budaya adalah pesan sosial dan karya yang membutuhkan upaya manusia untuk mematuhi apa yang sudah berharga bagi individu dan masyarakat. Tapi, pada saat sama, mereka menciptakan hal baru yang berkorelasi erat dengan warisan yang ada.

Di sini, relevan untuk merujuk Trisakti Bung Karno, yang menyebut bangsa Indonesia mesti berkepribadian dalam berkebudayaan. Kepribadian di sini tentulah nilai-nilai yang terangkum dalam butir-butir Pancasila. Itulah inti bawang kebudayaan Indonesia.

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik