Irendra Radjawali Berbagi Kiat Sukses Industri 4.0 di KBKM 2019

Juli 9, 2019 | Ahmad Gabriel

Sore itu, para peserta Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) 2019 tak menyangka akan kedatangan Irendra Radjawali, pendiri Akademi Drone pertama di dunia. Radja, begitu panggilan akrabnya, pada Senin (22/7/2019) menjadi narasumber Forum Inspirasi bersama Biyanto Rebin, Arief Yudi,dan Ananda Sukarlan di Lapangan Siwa Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.

Mereka masing-masing mewakili empat katagori yang dilombakan dalam KBKM yaitu Purwarupa Fisik, Purwarupa Aplikasi, Aktivasi Kegiatan, dan Aktivasi Kajian. Hajatan KBKM sendiri digelar oleh Kemendikbud dan berlangsung sejak 21-25 Juli 2019. Acara ini dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhajir Effendy dan diikuti 561 peserta hasil seleksi dari 3.058 pemuda yang mengirimkan proposal selama proses pendaftaran. Mereka adalah para pemuda yang berusia 18-28tahun dan terbagi ke dalam 132 kelompok, masing-masing terdiri dari tiga hingga lima orang peserta.

Sosok Radja yang ikonik dengan mesin terbang tanpa awak buatannya sendiri ini menjadi magnet penarik perhatian para peserta sehingga mereka antusias mendengarkan penjelasannya. Awalnya,ia mengingatkan masa-masa revolusi industri kepada pada peserta. “Revolusi Industri pertama adalah ketika ditemukannya mesin pencipta uang,” ungkap Radja. Ia melanjutkan, mesin ini mengubah pola kerja manusia. Revolusi Industri kedua adalah ditemukannya listrik dan revolusi ketiga adalah internet yang mengubah peradaban.

“Dulu,cara kita berkomunikasi tidak semudah saat ini. Sekarang,apapun yang kita pikirkan bisa kita kirimkan pada orang dalam sekejap mata,” papar Radja. “Nah, kini kita masuk ke Revolusi Industri 4.0 di mana kita masuk ke ruang data,”lanjutnya. Radja ingin menyadarkan bahwa saat ini bukan kita yang menguasai internet, namun sebaliknya. Google merekam dan menganalisis tingkah laku kita di internet. Karenanya, internet bisa merekomendasikan hal yang berbeda pada setiap penggunanya dengan data yang direkam tadi.

“Revolusi 4.0 ini menuntut kita untuk menjadi manusia yang sadar dan cerdas, agar sebuah prediksi yang tertulis di buku Homo Deustidak terjadi, yaitu kekhawatiran bahwa kalau manusia tidak berpikir dengan benar, dunia akan dikuasai robot,” pesannya. Ia pun menekankan pentingnya memperkaya literasi dengan membaca buku karena menurut penelitian, manusia Indonesia menghabiskan kurang lebih 8 jam per hari di internet dan membaca buku kurang lebih 1 halaman saja selama 15 hari.

”Kalau tidak ada budaya, dunia akan menuju ke otoritarianisme data. Maka dari itu,kita butuh berbudaya, membumi bersama alam, kita bisa mencegah terjadinya aturan hidup berbasis data,”pungkasnya.

Pencipta Drone Berbiaya Murah dan Pemerhati Lingkungan

Irendra Radjawali menamatkan pendidikan sarjananya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas Teknik Sipil, pada 2002. Kemudian,ia melanjutkan studi S-2 Planologi di perguruan tinggi yang sama dan lulus pada 2004. Setahun kemudian,laki-laki kelahiran Malang, 8 September 1974 ini mendapat beasiswa ke Universitas Paris 1 Pantheon-Sorbonne, Perancis.

Tamat dari Perancis pada 2008, ia disambut dengan beasiswa ke Universitas Bremen, Jerman untuk belajar S-3 mengenai ekologi politik. Selesai S-3, bersama sejumlah aktivis lingkungan hidup, Radja melakukan riset-riset seputar ekologi sosial di Kalimantan Barat. Saat melakukan riset itulah, ia menemui beberapa kendala. Salah satunya adalah tak bisa mengakses lokasi yang menjadi objek penelitian. Ia dan teman-teman peneliti dari Swandiri Institute juga sering terhalang izin masuk ke lahan perusahaan perkebunan. Padahal, sangat mungkin terjadi pembalakan liar di lahan tersebut. Dari problem-problem itulah,muncul ide untuk melakukan pemantauan lokasi menggunakan pengamatan dari udara.

Ia sempat terpikir untuk menggunakan helikopter, tapi ternyata biaya sewanya mahal. Pengamatan ekologi memang bisa dilakukan lewat citra satelit seperti halnya Google Maps. Namun, cara itu dinilai masih kurang akurat dan efisien. Salah satu kelemahan pemantauan lewat citra satelit adalah kurang bisa merekam objek dengan detail. Apalagi, beberapa pencitraan satelit masih sering terganggu awan.

Maka, tercetuslah gagasan untuk menggunakan pesawat tanpa awak yang dikendalikan dengan remote control. Alumnus Teknik Sipil ITB itu sempat bertemu teman sealmamater yang bergerak dibisnis drone. Ia meminta bantuan agar dibuatkan drone dengan ”harga teman”. Namun, setelah dihitung, biaya pembuatan drone tersebut tetap tak terjangkau.

Temannya biasa menjual drone untuk perusahaan perkebunan di kisaran harga Rp 1,5 miliar. Namun harga teman yang disodorkan ternyata masih tinggi, sekitar Rp 300 juta. Lantaran mentok, akhirnya ia berinisiatif membuat sendiri drone yang diinginkan. Ia lantas belajar secara otodidak lewat buku-buku dan internet. Salah satunya dari YouTube dan aktif diskusi dalam forum Do It Yourself (DIY) Drone. Ia mengaku diuntungkan dengan banyaknya perangkat drone yang open source.

Dengan begitu, ia bisa leluasa melakukan modifikasi untuk menghasilkan drone yang murah, namun dengan kualitas yang tidak kalah dengan drone yang berharga ratusan juta. Dari forum itu,ia juga bisa mendapatkan komponen-komponen dari Tiongkok dengan kualitas bagus.

Radja berhasil membuat drone pertama saat pulang ke Jerman. Di negara itu,ia sekaligus melakukan uji coba lapangan ketika musim salju. Ia pun harus beradaberjam-jam di luar rumahdalam keadaankedinginan untuk mencoba drone-nya. Ia membutuhkan waktu tiga minggu untuk berhasil merancang drone buatannya sendiri dengan bodi dari kayu. Ia menghabiskan biaya sekitar 400 euro, dengan komponen yang paling mahal adalah otopilot asli dari Amerika.

Belakangan,komponen yang paling penting itu sudah diproduksi di Tiongkok. Harganya pun jauh lebih terjangkau. Dengan begitu, harga pembuatan drone-drone berikutnya pun bisa ditekan hingga sekitar Rp 3 juta.

Tak dipungkiri, lompatan dalam “karier” Radja dengan drone terjadi saat ia memenangi Wismilak DSC 2015. Ia memenangi kompetisi itu lewat desain Mesin Terbang Tanpa Awak (MATA) atau drone. Atas kemenangannya, Radja mendapat dana hibah sebesar Rp 500 juta. Lewat DSC, Radja kemudian merealisasikan ide-ide bisnisnya, yaitu membuat drone berbiaya jauh lebih murah dari yang kini beredar di pasaran.

Radja tidak percaya bahwa untuk berteknologiorang harus selalu bersekolah setinggi mungkin. Namun, ia juga tidak mengatakan bahwa orang tidak perlu sekolah. Intinya, berteknologi itu bisa dilakukan oleh siapa saja, yang mau berpikir dan peduli terhadap suatu gagasan-gagasan yang timbul dari dalam diri.

Hal itulah yang memicu Radja mencoba menularkan semua ilmu yang telah didapatnya kepada masyarakat. Ia ingin menerapkan transfer of knowledgekepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai pelosok daerah, khususnya dalam bidang pengolahan data. Ia tak peduli apa pun latar belakang pendidikan masyarakat tersebut.

Mulailah ia membangun kelompok-kelompok masyarakat di beberapa daerah dengan nama Akademi Drone. Lewat komunitas itu, ia berharap bisa menularkan kepedulian dan keberhasilannya dalam menyederhanakan teknologi pembuatan drone.

Tak terbilang daerah-daerah di pelosok yang sudah dijelajahinya dengan drone buatannya. Sejumlah daerah di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, serta beberapa pulau lainnya sudah merasakan manfaat drone buatannya. Melalui berbagai institusi di daerah-daerah tersebut, drone buatan Radja menjadi begitu memasyarakat. Drone, teknologi mutakhir yang tak terjangkau harganya itu, kini ia perkenalkan secara akrab kepada masyarakat.

Sukses dengan Akademi Drone di beberapa daerah Indonesia, nama Radja semakin berkibar. Bahkan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) langsung memintanya membuat Akademi Drone di wilayah mereka untuk membantu menyelesaikan permasalahan di daerah-daerah tapal batas Indonesia dengan teknologi drone murah buatannya.

Tak hanya itu. Kini Radja tengah disibukkan dengan persiapan proyek kerja sama dengan Balai Sabo, Kementerian Pekerjaan Umum RI, untuk mitigasi bencana longsor letusan gunung api dengan menggunakan drone. Proyek berskala nasional tersebut akan dimulai dari Gunung Sinabung di Sumatera Utara dan selanjutnya di 129 gunung api di seluruh Indonesia.

Radja menuturkan, kepiawaiannya mengolah data memang dimanfaatkannya untuk membantu mencarikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi, khususnya dari sisi data spasial. Data spasial merupakan data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference). Dalam hal itu, berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial.

Saat ini, data spasial menjadi media penting untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan pada cakupan wilayah kontinental, nasional, regional, ataupun lokal. Pemanfaatan data spasial itu kian meningkat setelah adanya teknologi pemetaan digital dan pemanfaatannya pada sistem informasi geografis.

Menurut Radja, metodologi data penginderaan jarak jauh yang bersumber dari citra satelit memang bagus. Hanya saja, data hasil metodologi itu masih memiliki keterbatasan dari sisi presisi. Ia fokus ke data spasial dengan memanfaatkan drone karena adanya kebutuhan terhadap data spasial yang bisa diproduksi sendiri dengan metode ilmiah, serta berbiaya murah, dengan presisi yang tinggi.

Dengan merakit drone sendiri, lanjut Radja, ia bisa mereduksi biaya. Selain itu, secara otomatis, ilmunya pun bisa ia bagikan kepada masyarakat demi kepentingan sosial kemasyarakatan.

Radja mengaku tidak menampik soal banyaknya tawaran mengalir dari luar negeri. Proses metodologi pemetaannya dianggap unik dan tidak bisa didapatkan secara sembarangan. Contohnya adalah data yang ia dapatkan dari aplikasi kamera Near Infrared(NIR). Radja mengaplikasikan NIR itu pada drone buatannya.

Dengan NIR, ia bisa memetakan, misalnya, pada lahan pertanian untuk mengetahui mana tanaman padi yang sakit. Jadi, petani tidak perlu memberi pupuk pada keseluruhan lahan padi tersebut, tetapi cukup pada tanaman yang sakit sehingga bisa menghemat biaya cukup besar.

Ia berharap, akan muncul lebih banyak lagi para entrepreneur sosial yang tidak hanya berorientasi profit, tetapi juga benefit dalam arti bisa bermanfaat bagi orang lain. Harapannya, ketimpangan sosial bisa diminimalkan di negeri ini.

 

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Tarian Perang yang Atraktif

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik