Kota Tua Jakarta belum Masuk Daftar Warisan Dunia

April 10, 2019 | Ahmadie Thaha

Warga Jakarta mesti bersabar. Keinginan mereka untuk memiliki Situs Warisan Dunia belum tercapai setelah UNESCO tidak mencantumkan Kota Tua Jakarta sebagai salah satu dari daftar 19 situs Warisan Dunia terbaru, awal Juli 2018.

Dalam laporannya setebal 313 halaman yang dirilis dalam pertemuan World Heritage Committee pada 24 Juni-4 Juli 2018 di Manama Bahrain, ICOMOS menyebutkan bahwa Kota Tua Jakarta tidak mempunyai ‘integritas’ dan ‘otentisitas’ sebagai kota tua.

ICOMOS (Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs) sebagai lembaga penilai yang ditunjuk UNESCO menilai, “Kota Tua tidak unik sebagai kota pelabuhan yang dibentuk oleh globalisasi rute perdagangan kegiatan kolonial.”

Banyak bangunan arsitektur abad ke-20 di wilayah itu digambarkan ICOMOS sebagai “intrusi yang tidak simpatik.” Bangunan-bangunan tersebut telah mengubah penampilan visual dan penampakan Kota Tua dari udara secara tetap.

Lembaga penilai yag berpusat di Prancis itu mencatat, meskipun menekankan masa kejayaan Kota Tua, hanya beberapa benda yang tetap berwujud di daerah tersebut. Ia manyebut contoh, kota dan kastil Batavia telah dihancurkan, sementara kanal-kanal bekas telah dikonversi menjadi jalan.

ICOMOS mengakui, Kota Tua berisi ansambel bangunan abad ke-20 yang mengesankan. Serangkaian bangunan ini didirikan untuk keperluan bisnis kalangan pengusaha Belanda yang terhubung dengan perdagangan maritim seperti bank, perusahaan asuransi, pialang penghasil, dan lain-lain.

Terakhir, ICOMOS merekomendasikan, hendaknya pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar pada investasi saat ini dan proyek revitalisasi untuk arsitektur abad ke-19 dan ke-20 di Kota Tua. Menurut ICOMOS, proyek-proyek ini perlu dipandu oleh kepedulian konservasi warisan untuk menjaga dalam jangka panjang, karakter kota.

Yunus Arbi, kepala Subdirektorat Warisan Budaya Benda Dunia Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, mengatakan bahwa pihaknya sudah menarik proposal untuk Kota Tua. “Jika UNESCO secara resmi memutuskan bahwa Kota Tua belum dapat menerima status Warisan Dunia, pemerintah memutuskan menarik dokumen itu,” katanya kepada media baru-baru ini.

Pemerintah Indonesia mendaftarkan Kota Tua dan empat pulau terluar di Kepulauan Seribu di Kabupaten Kepulauan Seribu–Onrust, Kelor, Cipir dan Bidadari–kepada UNESCO untuk dinominasikan sebagai Warisan Dunia pada 2015. Tim ICOMOS pun datang ke Jakarta untuk melakukan penilaian pada 17 September 2017. Mereka meninjau langsung kawasan Kota Tua. Dalam proposal berjudul  The Age of Trade: Old Town of Jakarta and 4 Outlying Islands, pemerintah Indonesia memperkenalkan Kota Tua sebagai kota yang menjadi saksi volume perdagangan terbesar di Asia selama abad ke-17 dan 18.

Disebutkan, Pulau Onrust di Kepulauan Seribu pernah digunakan sebagai galangan kapal milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sementara ketiga pulau lainnya—Kelor, Cipir dan Bidadari—digunakan sebagai benteng pertahanan dan pusat tahanan politik.

 

Kota Tua Jakarta, yang kini sering disebut warga Jakarta dengan “Kota Tua” saja, dahulunya dikenal sebagai Oud Batavia atau Old Batavia. Wilayah ini merupakan permukiman pertama orang Belanda di Jakarta. Wilayah ini merupakan areal penting selama abad ke-17 hingga abad ke-19 karena merupakan ibukota Hindia Timur Belanda.

Berlokasi di muara Sungai Ciliwung, Kota Tua Jakarta dibangun oleh VOC pada 1619 dengan perencanaan akan selesai pada 1650. Batas kota yang dinominasikan adalah tata kota tahun 1650 seluas 1,5 kilometer x 1 kilometer. Pulau-pulau terluar—Pulau Onrust, Kelor, Cipir dan Bidadari—yang merupakan lokasi galangan kapal dan benteng pertahanan yang sangat penting pada masa itu juga dihitung sebagai wilayah pendukung bagi ibukota.

Kisah Batavia dimulai pada 1526, ketika Kesultanan Demak mengirim Fatahillah bersama pasukannya untuk menduduki Pelabuhan Sunda Kelapa yang masuk wilayah kekuasaaan Kerajaan Hindu Pajajaran. Segera setelah ditaklukan pasukan Fatahillah, daerah ini diberi nama baru, Jayakarta.

Tapi, pada 1619, pasukan VOC di bawah komando Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta. Dalam waktu setahun kemudian, VOC membangun sebuah kota baru yang diberi nama Batavia. Pusat kota ini berada di sekitaran tepian timur Sungai Ciliwung, kira-kira sekitar Fatahillah Square sekarang. Penduduk Batavia disebut Batavianern, yang kemudian lebih dikenal sebagai suku Betawi.

Sekitar 1630, kota ini berkembang ke arah sisi barat Sungai Ciliwung, ke arah runtuhan yang dahulu merupakan wilayah Jayakarta. Kota ini dirancang dan dibangun menurut gaya Belanda di Eropa lengkap dengan benteng, tembok kota, ruang publik, gereja-gereja dan jalanan yang dibatasi dengan pepohonan, seperti layaknya asalnya.

Kota pun dibagi menjadi blok yang dipisahkan oleh kanal-kanal. Sayangnya, penduduk bersuku Jawa tidak diizinkan tinggal di sebelah dalam tembok kota, karena pemerintah khawatir mereka akan memicu pemberontakan. Kota ini kemudian menjadi markas VOC di Hindia Timur dan berkembang menjadi makmur berkat perdagangan rempah.

Kota Batavia mempertahankan statusnya sebagai pusat administratif Hindia Timur Belanda ketika VOC memindahkan kepemilikannya kepada Kerajaaan Belanda pada 1800. Jelas bahwa di abad ke-17 dan ke-18, VOC memiliki jumlah perdagangan terbesar di dunia yang dikelola dari Batavia.

Selama masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels pada 1808, administrasi kota dan militer dipindahkan ke sebelah selatan, yaitu ke Weltevreden, daerah Sawah Besar sekarang. Pusat kotanya direncanakan terletak di sekitar Koningsplein, yang sempat disebut sebagai lapangan Ikada dan kita sekarang mengenalnya sebagai lapangan Monas, serta di sekitar Waterlooplein, atau lebih dikenal sebagai Lapangan Banteng.

Selama pendudukan Jepang, pada 1942, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan terus berperan sebagai ibukota sampai sekarang.

Perjalanan panjang kota ini sejak jaman kolonial, yaitu sejak kedatangan Belanda di awal abad ke-17, menyebabkan peninggalannya rentan dimakan waktu. Kurangnya perawatan dan perhatian terhadap warisan era kolonial ini menyebabkan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Ali Sadikin, pada 1972 mengeluarkan keputusan resmi yang menjadikan Kota Tua sebagai Situs Warisan. Tujuannya, untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa. Sampai saat ini, upaya pelestarian Kota Tua masih terus dijalankan oleh pemerintah.

Batavia sebagai pusat administrasi perdagangan terbesar di dunia pada abad itu tentu memerlukan wilayah pendukung dari sekitarnya. Tidak ada kota yang dibangun oleh VOC semegah dan selengkap Batavia, baik dari segi arsitektur maupun perencanaan kotanya.

Karena secara geografis Batavia terletak di sebuah teluk, maka pemerintah Belanda memutuskan beberapa pulau terluar yang ada di muka teluk digunakan sebagai faktor penting untuk pertahanan. Maka Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Bidadari pun dilengkapi dengan benteng-benteng dan pertahanan lainnya.

Di Pulau Kelor, terdapat galangan kapal dan benteng VOC untuk menghadapi Portugis pada abad ke-17 serta makam awak kapal berbangsa Indonesia yang gugur melawan Belanda. Sedangkan di Pulau Cipir (Kuyper) atau Pulau Kahyangan, terdapat benteng buatan VOC. Uniknya, di pulau ini terdapat sumber air tawar yang jernih dan bersih.

Sementara Pulau Bidadari yang sebelumnya bernama Pulau Sakit, pada abad ke-17 merupakan penunjang aktifitas pulau Onrust. Pada 1679, VOC membangun rumah sakit lepra atau kusta di sana, karena itulah pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit. Saat yang bersamaan, Belanda juga mendirikan benteng pengawas yang berfungsi sebagai sarana pengawasan dan pertahanan terhadap serangan musuh.

Sementara Pulau Onrust, ia disebut juga Pulau Kapal karena sering dikunjungi kapal Belanda sebelum mencapai Batavia. Selain itu, ia juga mempunyai galangan kapal dan sebuah gudang yang dibangun pada 1615 di samping benteng dan penggergajian kayu.

Pada 1618, Jan Pieterszoon Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan, sebagai upaya antisipasi memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Benar saja, ketika Inggris melakukan blokade terhadap Batavia pada 1800, pasukan Kerajaan Inggris mengepung Onrust dan sekitarnya, lalu menghancurkannya.

Onrust baru kehilangan perannya dalam dunia pelayaran dan perkapalan ketika Pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada 1883. Lantas pada 1905, Onrust kembali mendapat perhatian, bersamaan dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan pulau Cipir.

Pada awal abad ke-20 Pulau Onrust sempat dimanfaatkan sebagai sanatorium TBC. Lalu pada 1911, Onrust berfungsi sebagai karantina haji hingga 1933. Sedangkan dari 1933 sampai 1940, ia sempat dijadikan tempat tahanan para pemberontak yang terlibat dalam Peristiwa Kapal Tujuh. Ketika Perang Dunia II meletus pada 1939, pulau ini dipakai Belanda sebagai kamp tahanan yang berisikan orang Jerman yang bermukim di Hindia Belanda dan dicurigai sebagai mata-mata.

Pada 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust kembali dijadikan tempat tahanan bagi para penjahat kriminal kelas berat. Juga sekitar 1945 hingga Januari 1946, Pulau Onrust sempat dimanfaatkan Sekutu sebagai tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia.

Pada masa kemerdekaan RI, pulau ini dipakai sebagai Rumah Sakit Karantina bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI. Sepanjang 1960-1965, ia pernah dimanfaatkan sebagai tempat penampungan gelandangan dan pengemis, selain dimanfaakan untuk latihan militer.

Pulau Onrust pun sempat terbengkalai. Akibatnya, hingga 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk. Ironisnya, hal tersebut dilakukan atas izin aparat setempat.

Akhirnya pada 1972, berbarengan dengan dekrit Kota Tua sebagai situs warisan, Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin mengeluarkan Keputusan yang menetapkan Onrust sebagai pulau bersejarah.

Dengan demikian, Pulau Onrust dan pulau-pulau pendukungnya seperti Pulau Bidadari, Cipir dan Kelor, ditetapkan Pemerintah sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu bersamaan dengan penetapan Kota Tua Jakarta sebagai Situs Warisan.

Kota tua Jakarta adalah contoh luar biasa dari perencanaan kota-kota kolonial Belanda pada abad ke-17 dan 18, pada periode VOC. Ahli tata kota Batavia sangat terpengaruh oleh idealisme Simon Stevins mengenai “kota ideal” berdasarkan aspek fungsional, institusi dan sentralisasi. Bukti tersebut tampak pada peninggalan fasilitas militer (benteng dan tembok pertahanan), teknik sipil (kanal, pintu air, dan jembatan) dan ruang publik.

Sebagai pusat dari jaringan perdagangan Asia, Eropa dan antarkepulauan di Indonesia, Batavia berkembang menjadi tempat persilangan budaya. Misalnya, budaya Maardijker (keturunan budak Portugis) serta budaya India dan budaya Cina Peranakan. Persilangan budaya ini terlihat dari gaya dan teknik arsitektur bangunan, perabotan, bahasa, kepecayaan, dan makanan. Selain itu musik pun mendapatkan pengaruh, seperti Tanjidor (Eropa) dan Keroncong (Portugis).

Di Batavia ini, VOC mencapai puncak volume perdagangan tertingginya, sehingga disebut Masa Emas Perdagangan (Golden Age of Trade). Hal ini terefleksikan di Batavia dengan pembangunan kanal berbentuk kisi-kisi yang berfungsi untuk mengeringkan rawa-rawa dan sarana transportasi untuk efisiensi perdagangan. Itu juga terefleksikan dari arsitektur dan teknologi gudang terbaik pada masanya, bahkan menjadi pengaruh pembangunan gudang-gudang di kota VOC lainnya.

Di muara sungai Kota Tua Jakarta terdapat dermaga untuk kapal-kapal layar dari berbagai penjuru Indonesia. Indonesia memiliki armada kapal layar komersil terbesar di dunia dan kapal tersebut berasal dari pulau yang berbeda dengan keunikannya masing-masing. Pelabuhan Kota Tua Jakarta adalah bukti nyata budaya maritim yang unik dan masih bertahan hingga kini.

Karena dahulunya sebagai pusat perdagangan dunia pada abad ke-17 dan 18, banyak lukisan dan tulisan yang menggambarkan kondisi kota saat itu. Berdasarkan kajian terhadap 400 tahun dokumen perkembangan Kota Tua Jakarta, dapat ditarik kesimpulan, tata kota masih mempertahankan elemen-elemen aslinya.

Ancaman terbesar Kota Tua Jakarta adalah ia berhadapan dengan perkembangan kota, seperti pembangunan rel kereta api, jalan tol menuju pelabuhan dan aktifitas pelabuhan Tanjung Priok yang perlahan-lahan mematikan aktifitas ekonormi di Kota Tua Jakarta.

 

 

 

 

Sumber Foto : https://en.wikipedia.org/wiki/Kota_Tua_Jakarta


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik