Kota Tua Semarang Terus Berbenah

April 9, 2019 | Ahmadie Thaha

Unesco di laman webnya mencatat delapan Situs Warisan Dunia terdapat di Indonesia. Selain itu, ia menyebut pula 18 situs alami dan budaya Indonesia yang masih diajukan atau situs yang termasuk kategori tentatif diajukan sebagai warisan dunia. Salah satunya, Kota Tua Semarang.

Menurut rencana, pemerintah akan mengusulkan kepada Unesco agar Kota Tua Semarang dimasukkan ke daftar Warisan Dunia (world heritage) pada 2020. Untuk itu, berbagai usaha pembenahan kota dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Biaya revitalisasi pada 2018 saja mencapai Rp 200 miliar.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan, revitalisasi kota lama ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk memenuhi standar Unesco. Proses revitalisasinya dibuat menjadi beberapa zona sesuai aturan penataan dan penggunaanya sebagai warisan dunia.

Ita menambahkan, “street furniture” atau aksesoris jalan nantinya juga akan melengkapi kawasan Kota Lama Semarang, yakni dengan membuat semacam jalur bunga di Jalan Letjen Suprapto Semarang. “Kami sudah usulkan khusus di Jalan Letjen Suprapto dibuat semacam jalur bunga. Meski heritage, ada kolaborasi dengan tanaman,” katanya.

Deretan pot bunga, kata Ita yang juga Wakil Wali Kota Semarang, akan menghiasi sepanjang jalan di kawasan Kota Lama Semarang. Hal yang sama dilakukan pemerintah Singapura dengan menambahkan deretan pot bunga, melengkapi pohon-pohon besar yang sudah ditanam sebagai peneduh.

Wajah Kota Lama Semarang pun semakin bersih dan indah. Beberapa ruas jalan yang sebelumnya berupa jalan paving telah diganti dengan batu alam. Jalan Letjen Soeprapto dulu bernama Heeren Straat, jalur utama kota peninggalan kolonial Belanda yang dibangun sejak abad ke-19, itu kini terlihat makin rapi.

Sementara itu, gedung-gedung tua yang menjadi cagar budaya tetap dipertahankan dengan kemegahannya. Di antaranya, Gereja Blenduk dibiarkan apa adanya. Gedung ini berdiri pada 1753 dan digunakan sebagai gereja Nederlandsche Indische Kerk. Ia sempat diperbaiki berturut-turut pada 1756, 1787, dan 1794, serta mengalami pemugaran pada 1894.

Demikian juga, gedung-gedung kuno lainnya yang mencapai 50 unit di atas lahan seluas 31 hektare tetap kokoh dipertahankan. Revitalisasi ringan perlu dilakukan tanpa mengurangi keasliannya seperti saat pertama kali dibangun dua setengah abad lalu. Arsitektur bangunan di sana umumnya bergaya Eropa sehingga mendapat julukan Little Netherland.

Eskavasi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2009-2014 menghasilkan temuan berupa dinding kota, diduga setinggi 2 meter dan tebal 60 sentimeter. Di samping itu, penelitian lain dilakukan secara mendalam, baik dari sisi arkeologi, sejarah, arsitektur, maupun ilmu-ilmu terkait lainnya. Pada 2012, dilakukan upaya akademik melalui konferensi internasional untuk mengumpulkan gagasan mengenai preservasi kota.

Kota Lama Semarang pada masa kejayaannya memang bukan saja menjadi pusat perkantoran niaga. Ia juga berfungsi sebagai benteng pertahanan militer. Sejak pertama kali dibangun, tempat tersebut hanya memiliki satu gerbang di sisi selatan dan memiliki lima menara pengawas bernama Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk, dan Bunschoten.

Kota Tua Semarang atau Oudstadt atau lebih populer lagi di kalangan masyarakat sebagai Kota Lama Semarang dibangun pada abad ke-17. Inilah sebuah kota kolonial pardu excellence.  Arsitektur dan tata kotanya hingga saat ini relatif tidak banyak berubah, kental dengan ragam gaya arsitektur dari masa medieval, baroque dan modern.

Kota Semarang bermula dari dibangunnya Benteng VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnier) di sekitar pinggiran kali Semarang. Benteng ini mempunyai lima bastion sehingga dikenal juga sebagai De Vijfhoek. Segera setelah benteng kota dirobohkan pada 1824, wilayah ini tumbuh dan berkembang menjadi kota perdagangan.

Revolusi industri juga ikut menjadi penyebab percepatan perkembangan daerah tersebut. Masuknya investasi asing menyebabkan area bekas benteng ini menjadi sesak dengan transaksi bisnis dan aktivitas perdagangan. Segera kemudian, wilayah ini pun dipenuhi perkantoran, gudang, toko, bank, dan kantor konsulat asing.

Pembangunan infrastruktur terus berlangsung. Pinggiran kali Semarang diperlebar, pelabuhan baru dibangun, serta sistem transportasi untuk publik dan keluar-masuk barang disiapkan. Wilayah ini juga dirancang terhubung langsung ke pelabuhan, ke stasiun kereta Tawang di sebelah utara kota, dan ke stasiun kereta Jurnatan di sebelah selatan. Ini penting di abad ke-19, ketika Indonesia menduduki peringkat kedua dunia sebagai penghasil gula.

Perkembangan arsitektur kota Semarang tumbuh pesat ketika Herman Thomas Karsten, seorang arsitek berkebangsaan Belanda menjabat sebagai penasehat Gementee (Kotapraja) Semarang. Dia merancang pengembangan dan perluasan kota Semarang. Banyak bangunan monumental berasal dari rancangannya. Antara lain Gedung Asuransi Nilmij (1916), sekarang dikenal sebagai kantor PT Asuransi Jiwasraya; Kantor perusahaan perkapalan atau pengangkutan laut Stoomvaart Maatschappij Nederland (1930) di jalan Westerwalstraat atau jalan Mpu Tantular dan saat ini menjadi milik PT Djakarta Lloyd; gedung-gedung di jalan Pemuda, dulu kawasan Bodjong; juga Pasar Djohar. Karya monumental Karsten dapat dijumpai tidak hanya di kota Semarang, tapi juga di banyak kota lain di Pulau Jawa, bahkan di Sumatera dan Kalimantan.

Selain Karsten, tampaknya banyak arsitek Eropa yang tinggal di Semarang. Mereka turut menyumbangkan ide pengembangan arsitektur di kota ini, seperti J.P. De Bordes sebagai arsitek Stasiun Tawang. Lalu H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas. Mereka mengubah arsitektur gedung Nederlandsche Indische Kerk atau Koepelkerk, yang lebih dikenal sebagai Gereja Blenduk, hingga tampak seperti sekarang. Lainnya M. Niestman, arsitek Susteran Ordo Fransiskan. Bahkan Semarang sempat mendapat julukan Little Netherland karena lanskapnya mirip kota-kota di Eropa dengan kanal-kanal air di sekelilingnya.

Tata kota dan lanskap kota Semarang tampaknya telah menempatkan diri sebagai saksi atas desakan teknologi sebagai penyangga perekonomian di masanya. Ia mampu mengubah sebuah kota benteng dan masyarakat yang tertutup menjadi sebuah kota perdagangan modern yang terbuka, kosmopolitan, dan multikultural.

Kota Lama Semarang merupakan lokasi penting bagi perkembangan kota Semarang saat ini. Aktifitas perdagangan yang melibatkan jalur pelayaran internasional telah dikembangkan sejak awal abad ke-20. Situs ini juga terintegrasi dengan pabrik-pabrik industri dan sumber daya alam yang berasal dari Jawa Tengah.

Kondisi itu menyumbangkan budaya modern kepada semua kota di Jawa Tengah. Arsitektur kolonial yang menyesuaikan dengan kondisi setempat memberikan karakter unik pada kota ini. Semua ini tentu saja semata-mata bertujuan menjadikan Semarang sebagai pusat perdagangan dan jasa.

Kota Lama Semarang merepresentasikan contoh perdagangan yang bersifat multikultural di Asia Tenggara. Banyak pedagang di sana berasal dari Jawa, Melayu, Tiongkok, dan Arab. Selain itu, kedatangan kolonial Belanda berdampak signifikan pada pertukaran nilai-nilai kemanusiaan yang penting pada aspek arsitektur, bentuk perkotaan dan teknologi pada abad ke-19.

Kota Lama Semarang sebagai kota yang multikultur dan perdagangan internasional menjadi lokasi perkantoran bisnis penting pada masanya. Salah satunya adalah perusahaan Oei Tiong Ham, taipan Tiongkok yang memonopoli perdagangan gula dan bisnis penting skala internasional. Bahkan, ia menjadi perusaha pertama yang memperkerjakan pegawai asing.

Kota Lama Semarang mencerminkan sebuah percampuran budaya, arsitektur dan lanskap kota yang tidak ditemukan di mana pun di Asia Tenggara, khususnya seperti gaya arsitektur pada gedung perkantoran, gudang, dan rumah kantor.

Banyak bangunan yang berbeda mencirikan perkembangan gaya, seperti Masa Pertengahan (medieval), Baroque dan Indis. Bahkan banyak arsitek tersohor yang inggal di Kota Lama Semarang seperti J.P. Bordes, W. Westmass. H.P. De Wilde, Henry Thomas Karsten, dan Lim Bwan Tjie.

Kota Lama Semarang juga menjadi lokasi pertama di Asia Tenggara yang menggunakan lokomotif bertenaga uap (1852 Brazil; 1852 Chili; 1853 India, 1854 Australia; 1857 Argentina; dan Semarang/Jawa 1864).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Kota No.8 tahun 2003, Kota Lama Semarang memiliki luas kurang lebih 40 hektar. Banyak peninggalan bangunan dan tata kota masih terjaga dengan baik dan utuh, khususnya yang berasal dari masa kolonial Belanda.

Namun, di satu sisi bangunan tersebut dalam keadaan rentan. Banjir, kelalaian, pencurian, dan tidak dihuninya bangunan turut mempercepat kerusakan dan kehilangan elemen unik pada bangunan. Namun berbagai upaya sudah dilakukan untuk menjaga dan membangkitkan kesadaran pelestarian Kota Lama Semarang. Upaya-upaya tersebut antara lain Festival Kota Lama, aktivitas komunitas, workshop, pameran, dan lain-lain.

 

 

Sumber Foto : https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Lama_Semarang

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik