Makna Tersembunyi dalam Gerakan Tari Saman

Maret 8, 2019 | Ahmad Gabriel

Hari itu Iskandarsyah bersama teman-temannya berkumpul bersama 12.262 penari lain di Stadion Negeri Seribu Bukit, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Mereka berkumpul dalam rangka memecahkan rekor Pagelaran Tari Saman oleh Penari Terbanyak. Pertunjukan itu merupakan promosi wisata budaya dari Kabupaten Gayo Lues, daerah asal tari Saman, pada 13 Agustus 2017. Setelah pertunjukan tari berakhir, seluruh penonton yang memenuhi stadion bertepuk tangan dan mengucapkan selamat atas keberhasilan tersebut. Mata Iskandarsyah basah dalam pelukan teman-temannya.

Tari yang dicetuskan oleh Syekh Saman pada abad ke-14 itu awalnya permainan rakyat bernama Pok Ane. Melihat minat yang besar dari masyarakat Aceh pada kesenian ini, Syekh mengakulturasi budaya dan syair-syair Islam ke dalamnya sehingga tari Saman penuh dengan makna. Dahulu latihan Saman dilakukan di bawah kolong Meunasah (surau dengan bangunan panggung) sehingga mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat berjamaah. Sejalan dengan kondisi Aceh yang dalam peperangan maka syekh menambahkan syair-syair yang menambah semangat juang rakyat Aceh. Kemudian tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya.

Iskandarsyah menyeka matanya, ia merasa latihannya membuahkan hasil. Kondisi ini berbeda dibandingkan beberapa dekade yang lalu ketika tari Saman hanya ditampilkan pada acara formal seperti upacara keagamaan dan peristiwa penting dalam adat. Hanya sedikit tetua yang menguasai tarian ini dan tak banyak generasi muda melestarikannya. Baru pada tahun 1975 ketika Saman ditampilkan pada peresmian TMII, gemuruh Saman menggemparkan tidak hanya nusantara namun sampai ke mancanegara. Generasi baru mulai belajar menarikan Saman. Hingga akhirnya tahun 2011, setelah Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang mendesak untuk dilestarikan, pertunjukan-pertunjukan dan lomba diperbanyak, sanggar-sanggar tari dibantu pemerintah dan tari saman dipromosikan ke luar negeri. Generasi muda-mudi pun merasa bangga dan banyak yang belajar tarian ini.

Bagi penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam pertunjukan karena menyedot perhatian yang besar dalam setiap penampilannya. Tarian Saman termasuk cukup unik, karena hanya menampilkan gerakan badan dan gerakan tepuk tangan dalam posisi duduk tanpa iring-iringan alat musik, melainkan dengan diiringi nyanyian syair Gayo dan irama tepukan para penari. Keunikannya terlihat dari kerjasama dan saling percaya antara sjeh (pemimpin dalam tarian) dengan para penarinya, serta kekompakan dalam memadukan gerakan-gerakan yang membuatnya terlihat harmonis dan dinamis.

Saman adalah tari yang mengandung konsep perjuangan yang disimbolkan lewat irama dan gerak. Dari komposisi, sjeh (pemimpin) atau disebut juga ‘Pengangkat’ harus duduk di tengah para pemain yang jumlahnya ganjil (13, 15 atau 17 orang). Sjèh bukan pengatur untuk menggerakkan orang lain beraksi, tetapi sosok pemimpin yang mesti sinkron dengan aturan main; memimpin sekaligus menjadi orang yang dipimpin; memimpin dengan memberikan contoh.

Karena tari ini dimainkan dalam bentuk grup, maka sjeh didampingi oleh ‘Pengapit’ (staf) sebelah kiri dan kanan yang berperan membantu gerak maupun syair. Jadi, tari Saman, menolak falsafah ‘individualisme’ dan menganut ‘collectivisme’. Kebersamaan harus disokong dan diperkuat oleh tiang penyangga antara sesama anggota. Karena itu, dipasang ‘Penupang’, yang posisinya berada di sisi paling kanan dan kiri. Peranan ‘penupang’ disifatkan sebagai akar tunggang rumput “jejerun” (bahasa Gayo), yaitu sebagai simbol kekokohan.

Komitmen Saman adalah “Bersatu teguh, bercerai rubuh,” maka jangan ada satu pun anggota yang membuat kesalahan gerak. Karena akan berimbas dan menghancurkan seluruh gerak dan irama. Sinkronisasi gerak dan satu irama perasaan sangat diutamakan. Ini berarti, pemimpin baik dalam situasi perjuangan atau damai, harus berada di tengah-tengah masyarakat, tidak merasa dirinya sebagai tokoh tunggal, akan tetapi sebagai bentuk kekuatan kolektif yang ditopang oleh anggota.

Tari Saman dimulai dengan gerak “Rengum”, yakni: suara ngauman dipimpin oleh sjeh, senyawa dengan ucapan “salam”. Pada tahap ini, terdengar suara magis berdengung, mengalun bersama ayunan tubuh yang lentur dalam posisi ‘berlembuku’ (duduk) rapat membujur membentuk garis horizontal, sambil melafadhkan kalimah:

“Hmmmm laila la ho

Hmmmm laila la ho

Hmmmm tiada Tuhan selain Allah

Hmmmm tiada Tuhan selain Allah”

 

Nada dan gerak “rengum” bertujuan untuk memulai tari, agar masing-masing peserta memusatkan kekuatan konsentrasi. Atas nama kalimat tauhid inilah gerakan grup berawal. “Rengum” diucapkan dalam suara minor yang mampu menghidupkan jiwa-jiwa yang mati dan membuat perasaan lemah menjadi garang. Kalimat tauhid ini sengaja disisipkan sjèh Saman sebagai misi dakwah Islam lewat tari Saman.

Gerakan ini mengganti rasa ke-aku-an (individualisme) kepada rasa ke-kami-an (collectivisme), dan melarutkan diri masing-masing ke dalam lautan gerak dan irama hidup. Mereka layaknya seperti pasukan lebah menyerang, dimana sang ratu lebah tidak nampak; semua penari adalah komandan dan anak buah.

Tahap kedua adalah gerak “Dering”, yaitu: varian gerak yang dimainkan oleh semua penari. Gerak ini diantarkan oleh irama ‘kepala lagu’. Para penari akan memasuki tahap memperagakan berbagai ragam gerak. Proses perubahan dari gerak “rengum” kepada “dering” hanya berlangsung dalam seketita saja. Setelah dirangsang oleh suara syèh, secara perlahan-lahan penari memperagakan variasi gerak tangan, menepuk dada, gesekan badan dan putaran kepala. Pada peringkat ini, suara dan gerakannya masih datar dan lamban.

“Dering” adalah bentuk pengajaran kepada masyarakat yang berbeda tingkat pengetahuan dan pemahaman; tidak ada unsur paksaan, disuarakan dalam bahasa asli (Gayo) yang sopan dan jelas. Barulah kemudian, syèh mengalunkan suara melengking, sekaligus memberi aba-aba akan memasuki tahap gerak cepat. ‘Warning’ itu berbunyi: “Inget-inget pongku male i guncang” (“Ingat-ingat teman akan diguncang”). Inilah klimaks gerakan tari saman, dimana penari secara optimal mengetengahkan varian gerak putaran kepala yang mengangguk (girik), tangan yang menepuk dada dan paha maupun gerakan badan ke atas-bawah, miring ke kiri-kanan bersilang (singkéh) maupun petikan jari (kertèk). Di sini tidak terdapat lirik, irama dan suara. Sepenuhnya aksi.

Tahap ketiga adalah: gerak “Redet”. Menampilkan lagu dalam lirik singkat dan jelas. Pesan yang harus didengar sambil menanti arahan selanjutnya. Pengkabaran (informasi) agar orang tahu persis akan pesan yang disampaikan. Yang berarti, manusia adalah pelaku dari informasi yang didengarnya.

Tahap keempat adalah: gerak “Syèh”. Menyampaikan pesan ilahiah. Pada peringkat ini, syèh mengalunkan lagu dengan suara tinggi melengking dan panjang, sebagai aba-aba akan terjadi pertukaran gerak. Inilah kiat dari roda kehidupan manusia yang sarat dengan perubahan. Penciptaan dan penghancuran; penjajahan dan kemerdekaan; kekayaan dan kemiskinan; kehidupan dan kematian.

Tahap kelima (terakhir) adalah: gerak “Saur” atau penutup. Gerak ini adalah pengulangan bunyi reff yang disuarakan syèh oleh seluruh penari. Ini mengisaratkan tentang komitmen massal, dedikasi, setia dan taat kepada pemimpin.

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa:

  • “Rengum” adalah kesadaran, kesaksian dan komitmen;
  • “Dering” berarti introspeksi, pengenalan, pengajaran dan kesopanan;
  • “Redet” adalah pesan singkat, nota penting dan harapan;
  • “Syèh” ialah seruan umum, kepemimpinan dan tanggungjawab, dan
  • “Saur” yang berarti pernyataan kesetiaan, dedikasi dan kekompakan.

 

Keseluruhan variasi gerak Saman adalah refleksi dari pesan-pesan tersembunyi suku Gayo. Nilai-nilai kehidupan, perjuangan, kehormatan, persatuan dan kebersamaan nampak tersirat dari gerakan dan nyanyian para penari Saman yang memukau mata, telinga dan hati seluruh dunia.

 

 

Sumber Foto : Ribuan penari tampil pada pagelaran tari tradisional Saman massal di stadion Seribu Bukit, Blang Kejeren, Gayo Lues, Aceh, Minggu (13/8). Pagelaran Tari Saman telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda itu diikuti 12.262 peserta dari berbagai komponen masyarakat termasuk PNS, aparat TNI/Polri. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/aww/17.

 

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik