Menjadi yang Tercepat pada Balap Kerbau Makepung

Maret 8, 2019 | Ahmad Gabriel

Jika Prix d’Amérique di Paris terkenal sebagai tradisi balapan kuda bergengsi di dunia, maka di Bali ada tradisi sama yang bernama Makepung. Makepung adalah nama grand prix utama di Kabupaten Jembrana, Bali. Bedanya, makepung menampilkan balapan kerbau dengan nuansa eksotis. Sepasang kerbau diikatkan bersama pada gerobak kayu tradisional yang telah dimodifikasi dan dipacu oleh seorang joki dalam kompetisi ini.

Ratusan kerbau pembalap atau biasa disebut pepadu, bersaing di berbagai sirkuit balapan terbuka di babak penyisihan. Serangkaian babak ini diadakan di berbagai kecamatan di Kabupaten Jembrana. Mereka bersaing mendapatkan tempat di final, yang memperebutkan Piala Bupati Jembrana dan Piala Gubernur bagi para pemenang.

Makepung berasal dari kata makepung-kepungan (bahasa Bali) yang artinya berkejar-kejaran. Inspirasinya muncul dari proses pengolahan sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai lampit/ bajak. Lampit ditarik oleh dua ekor kerbau yang pada lehernya dikalungi gongseng besar (sejenis lonceng) sebagai hiasan, sehingga apabila kerbau berjalan maka akan terdengar bunyi lonceng seperti alunan musik.

Karena di area persawahan terdapat banyak lampit yang masing-masing ditunggangi seorang pembajak, maka terjadilah kejar-kejaran antar sesama lampit yang menimbulkan rasa gembira ketika membajak sawah. Atraksi ini pun menjadi keunikan bagi warga desa yang melihatnya dan dikembangkan menjadi perlombaan.

Dalam perkembangannya, Makepung kemudian dilakukan di jalanan yang ada di sekitar sawah. Jalan tanah berpasir merupakan lokasi favorit untuk balapan. Lintasan seperti ini mengharuskan peserta makepung melakukan beberapa perubahan agar balapan berlangsung lebih efektif. Lampit/ bajak yang digunakan pada lintasan lumpur kemudian diganti pedati kecil sejak tahun 1930-an. Lama kelamaan, Makepung semakin banyak diminati orang. Terbukti dengan banyaknya penonton yang datang ketika permainan ini dilakukan, sehingga sampai saat ini tradisi Makepung dianggap sebagai sebuah atraksi budaya yang menarik dan harus dilestarikan.

Dalam Makepung, terdapat dua kelompok berbeda yang bertanding. Kelompok Ijogading Barat berbendera hijau, sedangkan kelompok Ijogading Timur berbendera merah. Pembagian kelompok ini berdasarkan aliran Sungai Ijogading yang membelah ibu kota Kabupaten Jembrana.

Pada hari perlombaan, pengunjung yang datang juga akan terhibur oleh ‘peragaan busana kerbau’. Para peserta saling berlomba untuk menghias pepadunya secantik mungkin, baik itu joki, pedati maupun kerbaunya. Mereka dihias dengan berbagai riasan. Mulai dari cat warna-warni pada pedati, hiasan kerbau dari kuku, tanduk dan kepala, hingga bendera kelompok yang berwarna merah dan hijau. Bagi yang mendapatkan nilai terbaik, akan diberikan hadiah khusus pada kategori busana terbaik.

Kerbau yang dipilih untuk Makepung juga bukan sembarang kerbau. Kerbau pacuan merupakan kerbau terbaik. Sebelum mengikuti pacuan, kerbau diberi makan, jamu serta ramuan-ramuan khusus. Ini dimaksudkan agar kerbau memiliki stamina ekstra sehingga bisa cepat dan kuat berlari dalam pertandingan. Sebelum kompetisi dimulai, para pemilik kerbau biasanya melakukan ritual-ritual khusus agar memperoleh kemenangan.

Makepung biasa dihelat pada bulan Juni hingga November dan dapat Anda temui di Kabupaten Jembrana, Bali. Tradisi ini terbuka untuk umum bagi siapapun yang ingin melihat. Tradisi ini mengilhami penciptaan tarian Bali dengan nama yang sama (Tari Makepung) pada tahun 1984. Tarian ini dilakukan oleh tujuh hingga sembilan peserta pria dan wanita, dan menggambarkan pengendara dan kerbau itu sendiri. Salah satu fitur unik dari tarian ini adalah ia disertai oleh orkestra bambu Jegog yang juga merupakan ciri khas kabupaten ini. Makepung telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan menjadi event tahunan yang menarik wisatawan berkunjung ke Bali.

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik