Missing Link di Tengah Keragaman Manusia Purba

Juli 30, 2019 | Ahmadie Thaha

Setiap kali berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran, akan timbul pada diri kita perasaan bangga sekaligus pertanyaan tentang diri kita sebagai manusia. Kita bangga karena bangsa Indonesia memiliki situs manusia purba Sangiran, salah satu situs berusia jutaan tahun.

Di situs yang diakui sebagai Warisan Dunia oleh Unesco ini, tak kurang seratus fosil tengkorak manusia purba ditemukan. Selain itu, berhasil juga dihimpun ribuan fosil hewan dan perangkat kerja manusia purba. Setiap kali berkunjung ke museum manusia purba ini, selalu terlintas di pikiran: Siapa mereka sebenarnya?

Pertanyaan serupa terpampang jelas di ruang pamer Museum Sangiran: Apakah homo erectus adalah missing link? Pertanyaan ini diiringi penjelasan bahwa upaya mencari “the missing link“—mata rantai yang hilang dalam garis evolusi kekerabatan manusia dengan kera besar—inilah yang membawa Marie Eugene Francois Thomas Dubois berpetualang sampai di Indonesia.

Ahli anatomi asal Belanda itu melakukan penggalian di Trinil, Kadunggalar, Jawa Timur, di mana dia menemukan fosil homo erectus pertama di dunia. Selanjutnya, sebagian besar temuan homo erectus Indonesia ditemukan di situs Sangiran. Tapi, dari seratus tengkorak yang kini dipajang di Museum Sangiran, hanya satu berwajah paling utuh, yaitu tengkorak Sangiran bernomor 17 (S17).

Dianggap sebagai temuan besar di bidang paleoantropologi, replika fosil ini dipajang di berbagai museum besar dunia. Penemuan S17 pada1969 seolah memuncaki pencarian fosil manusia purba yang sudah dilakukan di Indonesia sejak abad ke-18 di daerah sepanjang Sungai Bengawan Solodananak sungainya.

Pada mulanya,semua pencarian itu dilakukan antara lain didorong oleh kajian akademis untuk membuktikan teori evolusi. Charles Darwin (1809-1882) memaparkan teori evolusi dalam bukunya, The Origin of Species(1859) dan The Descent of Man(1871). Menurutnya, semua jenis makhluk hidup yang ada, termasuk manusia, berasal dari satu jenis makhluk bersel satu.

Melalui mekanisme seleksi alam, menurut Darwin, lambat laun berkembanglah aneka ragam jenis makhluk hidup. Binatang paling maju, sejenis kera, mengalami proses survival of the fittest, sedikit demi sedikit mengalami perubahan dan loncatan kemajuan. Perubahan secara gradual ini pada akhirnya mencapai fase kesempurnaannya dan muncullah spesies homo sapiens atau manusia modern.

Para ilmuwan seakan menyepakati asumsi paradigmatik bahwa evolusi manusia modern berlangsung secara linier. Pada mulanya,spesies manusia homo ergaster menurunkan homo erectus, lalu homo erectus menurunkan neandertal, dan neadertal melahirkan evolusi yang bermuara menjadi homo sapiens. Muncul asumsi kuat, pada satu kurun waktu tertentu,hanya ada satu tipe manusia (homo) yang menghuni bumi.

Melalui temuan-temuan fosil manusia purba, seolah para ahli telah mengungkap asal-usul homo sapiens secara terang benderang. Misalnya penemu fosil pithecanthropusoleh Eugene Dubois. Ia percaya bahwa fosil temuannya membuka mata rantai hilang (missing link), yang dapat dijadikan bukti sahih bentuk transisi dari skema evolusi Darwin.

Tapi kini, asumsi tersebut tampaknya harus ditinjau ulang. Saat ini capaian kemajuan ilmu genetika telah memberi kita perangkat untuk melacak DNA (Asam Deoksiribo Nukleat) manusia. Bukti-bukti baru hasil analisis atas sampel-sampel DNA kuna menegaskan, riwayat homo sapiens tampaknya jauh lebih kompleks dan rumit dari sekedar linieralitas evolusi Darwin.

Penelitian atas sampel-sampel DNA kuna menunjukkan, telah terjadi interaksi antara homo sapiens dengan manusia kuna seperti neanderthal, denisovan, homo erectus, homo florensiensis, yang kesemuanya sekarang sudah punah. Interaksi ini jelas berbeda dari evolusi yang mengesankan perubahan natural yang linear.

Sejak sekitar dua juta tahun hingga 10 ribu tahun lalu, dunia menjadi hunian sejumlah spesies manusia (homo) pada waktu bersamaan. Faktanya, banyak ditemukan kelompok spesies manusia purba yang hidup dalam periode waktu bersamaan, sebelum kelompok homo sapiens menjadi satu-satunya spesies manusia yang mengisi bumi seperti hari ini.

Penelitian di beberapa wilayah diIndonesia menghasilkan beberapa penemuan yang ikut membuktikan keragaman manusia purba. Di antaranya, penemuan fosil hominid pithecanthropus erectus di Trinil, Ngawi; fosil homo wajakensis di Tulungagung; dan fosil homo hobit floresiensis di Flores, spesies manusia bertubuh dan bervolume otak kecil.

Setiap spesies manusia purba memiliki keahlian masing-masing sesuai alam dan lingkungan hidup mereka. Penemuan fosil kulit kerang di Trinil, Ngawi Jawa Timur, memperlihatkan daya kreativitas manusia purba. Paling menarik, penemuan lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, memperlihatkan jejak seni tertua manusia purba di dunia.

Penelitian yang dilakukan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bersama beberapa peneliti sejumlah negara menemukan fakta tak kalah menarik. Dari riset pemetaan genetika (DNA) yang mereka lakukan baru-baru ini, terungkap pembauran leluhur manusia modern (homo sapiens) dan manusia purba lainnya terjadi paling intensif di Papua.

Menurut mereka, nenek moyang leluhur orang Papua merupakan kelompok migran pertama homo sapiens yang keluar dari Afrika dan tiba di kawasan ini sejak 70 ribu tahun lalu. Sebelum kedatangan homo sapiens ke Papua, kawasan ini telah dihuni oleh manusia purba denisovan. Jejak ini terlihat pada DNA orang Papua kini, yang memiliki gen denisovan berkisar 3-5 persen.

Tampaknya kelompok manusia modern dan kelompok manusia lama telah hidup saling membaur, kawin-mawin di antara mereka, juga saling berperang dan berinteraksi satu sama lain. Riset Eijkman pun menyimpulkan, pusat keanekaragaman kuna bukan berada di Eropa atau di Asia utara yang beku, melainkan justru di kepulauan tropis yang hangat di Asia Tenggara.***

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik