Pakaian Dinas Prajurit Keraton

Agustus 6, 2019 | Nora Ekawani

Keraton Kesultanan Yogyakarta sampai saat ini masih memiliki kelompok pengawal. Ada sepuluh kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada. Jumlah keseluruhan prajurit cukup kecil, hanya sekitar 600 orang. Setiap pasukan atau bregadadipimpin oleh perwira berpangkat Kapten,kecuali bregadaBugis dan Surakarsa yang dipimpin oleh seorang Wedana.

 

Pakaianatau seragam prajurit ini sebenarnya telah dikenal dalam sejarah Kesultanan Yogyakartasejak lama, bahkan sejak Pangeran Mangkubumi masih berperang melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Pakaianatau seragam ini kemudian berevolusidari waktu ke waktu,hingga yang kita kenal saat ini.

 

Pakaian Prajurit pada Awal Kesultanan

Gubernur VOC Nicolaas Hartingh pernah mendeskripsikan pakaian yang dikenakan Pangeran Mangkubumi saat pertemuan pribadi mereka di Pedagangan, Grobogan, saat menegosiasikan tuntutan Pangeran Mangkubumi atas bumi Mataram. Diceritakan bahwa Pangeran Mangkubumi menggunakan pakaian putih dan kain, memakai dua keris, serta tutup kepala ulama yang dibalut dengan ikat kepala linen halus berjahit benang emas. Para pengiring Pangeran Mangkubumi juga mengenakan pakaian yang mirip.

 

Deskripsi mengenai pakaian yang dikenakan Pangeran Mangkubumi dalam berperang menunjukkan bahwa pakaian keprajuritan pada awal Kesultanan Yogyakarta dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Namun demikian, menilik beberapa lukisan tentang prajurit Jawa pada masa-masa awal Kesultanan Yogyakarta, tidak dapat dikatakan bahwa corak Islam sepenuhnya ada dalam tiap seragam prajurit.

 

Masuknya Pengaruh Eropa pada Pakaian Prajurit Keraton Yogyakarta

 

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana IV (1816-1823), desain Eropa mulai dipakai pada pakaian prajurit keraton. Hal ini terjadi bersamaan dengan diterimanya pengaruh-pengaruh Eropa pada beberapa hal, termasuk pemberian pangkat Mayor Jenderal tituler pada Sultan yang berkuasa.

 

Selepas kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830), pemerintah Hindia Belanda memangkas kewenangan militer Kesultanan Yogyakarta.Prajurit keraton pun hanya berfungsi sebagai kesatuan pengawal istana dan di dalam upacara keraton saja. Mulai masa itulah pakaian prajurit keraton berkembang menjadi pakaian yangkita kenal sekarang. Saat ini,kita bisa melihat unsur-unsur Eropa tersebut diselipkan secara bijaksana dalam bentuk kaos kaki, sepatu, maupun topi.

 

Makna Warna Pada Pakaian Prajurit Keraton

 

Desain dari pakaian prajurit keraton tidak sekadar mengejar keindahan semata. Mulai warna hingga motif kain punyamuatan filosofisnya. Dalam dunia simbolik Jawa terdapat istilah mancapatdan mancawarna. Segala sesuatu dalam dunia dibagi ke dalam empat bagian yang tersebar sesuaiarah mata angin dan satu bagian tengah sebagai pusatnya. Hal ini seiring sejalan dengan pemahaman akan empat macam nafsu manusia yaitu aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah. Keempat nafsu ini kemudian diwujudkan dalam empat macam warna yaitu hitam, merah, kuning, dan putih.

Keempat warna ini menempati posisi arah mata angin tadi. Yakni, warna hitam terletak di utara, warna merah di selatan, warna putih di bagian timur, warna kuning bertempat di barat, dan sebagai pusat adalah perpaduan berbagai warna tersebut. Masing-masing warna tersebut memiliki asosiasi dengan berbagai macam hal. Seperti sifat benda-benda, maupun titah alus(mahluk halus).

 

Pada pakaian prajurit keraton, warna-warna ini juga memiliki makna maupun asosiasinya masing-masing. Warna hitam digunakan secara dominan pada baju, celana, dan topi Prajurit Bugis, baju prajurit Prawiratama, baju sebagian Prajurit Nyutra Ireng, dan topi mancungan dari Prajurit Dhaeng. Warna hitam adalah warna tanah. Dalam masyarakat Jawa, warna ini dapat diartikan sebagai keabadian dan kekuatan.

 

Warna wulung, hitam keunguan, digunakan oleh hampir semua prajurit. Ia misalnya digunakan pada blangkon Prajurit Dhaeng atau untuk dodot yang dikombinasikan dengan warna putih. Warna wulung dekat dengan warna hitam sehingga bermakna sama.Warna biru digunakan secara terbatas. Misalnya pada kaos kaki Prajurit Jagakaryadan lonthong (sabuk) Prajurit Dhaeng. Makna dari penggunaan biru dekat dengan makna warna biru yang berkonotasi teduh.

 

Dominasi Warna Merah pada Pakaian Prajurit Wirabraja

 

Warna merah digunakan terbatas pada beberapa pasukan. Prajurit yang paling dominan menggunakan warna merah adalah Prajurit Wirabraja yang menggunakan warna ini pada topi centhung, baju sikepan, celana, srempang, dan endhong. Prajurit Wirabraja mudah dikenali lewat pakaian yang dominan merah. Termasuk topinya yang berujung lancip sehingga sering disebut sebagai Prajurit Lombok Abang.Prajurit lain yang juga menggunakan warna merah adalah Prajurit Dhaeng. Warna merah diterapkan pada hiasan di depan dada, ujung lengan baju, serta plisir pada samping celana.

 

Prajurit Nyutra Abang menggunakan warna merah pada baju tanpa lengan dan celana. Prajurit Prawiratama menggunakannya sebagai celana. Prajurit Patangpuluh menggunakan warna merah untuk pelapis baju serta rangkapan baju dan celana. Warna merah juga digunakan dalam kain cindhe yang dikenakan oleh berbagai pasukan prajurit. Warna jingga atau oranye digunakan untuk baju dalam Prajurit Jagakarya. Warna ini jarang digunakan dan sering dimasukkan ke dalam warna merah.

 

Merah sering dikonotasikan dengan keberanian. Dalam mancapat, warna merah berasosiasi dengan api, arah selatan, logam swasa (campuran antara emas dan tembaga), burung wulung, lautan darah, hari pasaran Pahing, serta Dewa Brahma. Warna ini merupakan perwujudan nafsu amarah, dimana manusia memiliki nafsu untuk bercita-cita hidup sejahtera, termasuk nafsu untuk memiliki harga diri.

 

Warna kuning tidak digunakan secara dominan pada prajurit keraton. Warna ini hanya digunakan sebagai hiasan saja. Warna kuning bermakna keluhuran, ketuhanan, dan ketentraman.

 

Warna emas dianggap dekat dengan warna kuning. Warna kuning emas digunakan misalnya oleh Prajurit Wirabraja untuk plisir pada topi centhung Panji dan plisir pada baju sikepan Panji. Warna emas digunakan antara lain untuk membedakan antara Lurah dan Prajurit Jajar. Warna emas adalah lambang kemuliaan dan keagungan.

 

Warna putih digunakan oleh hampir semua prajurit dalam berbagai bentuk, terutama untuk bagian yang sekunder seperti baju rangkap atau sayak. Pasukan yang menggunakan warna putih secara dominan adalah Prajurit Dhaeng dan Surakarsa.

 

Warna putih berdekatan dengan makna kebersihan dan kesucian. Warna ini merupakan perwujudan nafsu mutmainah, di mana manusia memiliki jiwa yang bersih dan bisa membedakan hal baik dan hal buruk.

 

Makna Motif Pada Pakaian Prajurit Keraton

 

Selain dibedakan atas warna, kain yang digunakan untuk bahan dan perlengkapan pakaian prajurit juga memiliki motif. Motif yang ada antara lain batik, lurik, dan cindhe.

 

Kain dengan motif batik digunakan oleh para Manggala, Wedana Ageng, Pandhega, dan Panewu Bugis. Kain batik digunakan secara simbolik untuk menunjukkan adanya hirarki. Kain batik dengan ragam hiasnya yang bervariasi memiliki lebih banyak makna dan relatif lebih mahal.

 

Kain dengan motif lurik digunakan sebagai baju luar untuk Prajurit Jagakarya, Ketanggung, Mantrijero, Patangpuluh, dan Langenastra. Filosofinya juga tidak sesarat kain batik. Kain ini cenderung digunakan untuk pakaian sehari-hari seperti surjan dan peranakan. Oleh karena itu, makna kain ini cenderung kepada kesederhanaan, kesetiaan, dan kejujuran. Namun makna yang lebih dalam lagi adalah kesetiaan prajurit kepada rajanya, serta tali persaudaran antara prajurit yang tak boleh sampai renggang.

 

Kain dengan motif cindhedigunakan untuk celana panji-panji, lonthong (sabuk), serta bara. Cindhemerupakan motif kain yang terpengaruh dari India. Penggunaan motif ini dapat bermakna teknis yakni sebagai aksen dari kain-kain polos dan batik. Biasanya berdasar warna merah.Dengan mengamati warna dan motif pakaian, prajurit keraton dapat dibedakan dengan mudah. Prajurit Wirabraja mudah dikenali lewat pakaian yang dominan merah, sehingga disebut sebagai Prajurit Lombok Abang.

 

Pakaian prajurit keraton memang telah kehilangan fungsi praktisnya dalam peperangan. Hal ini sesuai dengan fungsi prajurit keraton yang sebelumnya sebagai kesatuan militer yang lantasberubah menjadi pengawal kebudayaan. Walau demikian, simbol-simbol yang diwakili oleh pakaian dan atribut yang dikenakan oleh prajurit keraton tidak lantas pudar. Watak ksatria yang dimiliki oleh prajurit keraton diharapkan tetap dipegang teguh oleh para prajurit dan dapat dipancarkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Tarian Perang yang Atraktif

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik