Deprecated: Function create_function() is deprecated in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/plugins/master-slider/includes/classes/class-msp-main-widget.php on line 95
Pakaian Perang Suku Minahasa dan Waraney, Sang Prajurit. | diversity.id

Pakaian Perang Suku Minahasa dan Waraney, Sang Prajurit.

Agustus 9, 2019 | Nora Ekawani

Itulah visi dan misi prajurit Waraney dari Minahasa yang berarti, Satu Kita Semua! Satu Lalu Dipisahkan Tempat Karena Kebaktian Agama/Ajaran. Tapi Kita Semua Satu! Satu di Bagian Dalam! Bersatu Menghadap Musuh Dari Luar!

 

Minahasa, dulu disebut Tanah Malesung, adalah kawasan semenanjung yang berada di provinsi Sulawesi Utara. Kawasan ini terletak di bagian timur laut pulau Sulawesi. Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Minahasa memiliki kekayaan budaya yang kental. Salah satunya adalah Tari Kabasaran. Tarian ini adalah tarian adat yang dibawakan oleh pria, lengkap dengan senjata tajam berupa pedang atau tombak dan sangat mirip dengan gerakan perkelahian ayam jantan.

 

Tarian Kabasaran adalah tarian adat untuk perang atau tarian untuk mengawal salah satu tokoh adat penting di Minahasa. Dahulunya,tarian ini hanya dikeluarkan saat upacara-upacara adat. Namun seiring dengan perkembanganzaman, tarian sakral inipun dipertontonkan di dalam dalam rangka pariwisata.

 

Tarian Kabasaran biasanya dimainkan dalam tiga babak, yaitu cakalelekumoyak, dan lalayaan. Cakalele berasal dari kata sakayang berarti berlaga dan lele artinya berkejaran dengan melompat-lompat. Jadi pada babak ini, sang penari melakukan gerakan berlaga, berkejaran sambil melompat-lompat.

Sedangkan kumoyak berasal kata koyak yang artinya mengayunkan senjata tajam,pedang atau tombak, turun naik, maju mundur untuk mengendalikan amarah ketika berperang. Kata koyak sendiri bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan. Sedangkan pada babak ketiga, lalaya an, penari menari bebas dengan riang gembira,melepaskan diri dari keberangan. Di babak ini para penari berekspresi jauh lebih riangdibandingkan dengan dua babak sebelumnya yang mengharuskan mereka berwajah garang tanpa senyum.

Busana Tari Kabasaran berwarna merah. Sedangkan hiasan kepala para penari terbuat dari kain yang diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Kelengkapan topi juga kerap menggunakan hiasan bulu dan paruh burung Enggang, atau burung Uwak, sebagaimana suku Dayak. Kesamaan dengan suku Dayak ini juga tampak pada baju perang yang terbuat dari kulit binatang. Jikasuku Dayak menggunakan kulit harimau akar, di Minahasa digunakanlahkulit sapi hutan, anoa,yang disebut Wa’teng. Bentuk pedang pun memiliki kesamaan yakni sama-sama melebar pada bagian ujungnya, di Minahasa disebut Santi. Masih ada beberapa kesamaan lagi antara suku Dayak dan Minahasa. Selain hiasan kepala, juga kesamaan bentuk gerakan tarinya. Hiasan atau ornamen lainyang digunakan adalah lei-lei atau kalung-kalung leher, wongkur(penutup betis kaki), serta rerenge’en atau giring-giring lonceng yang terbuat dari kuningan.

Menurut arkeologi dan antropologi asal Australia, Peter Bellwood, suku Minahasa dan suku Dayak Kalimantan memang banyak mempunyai kesamaan karena sama-sama termasuk suku Melayu Tua (Proto Melayu) dengan ciri fisik; mata agak sipit, kulit kuning, rambut lurus, termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia (atau kadang disebut “bahasa kepulauan’ yang persebarannya mulai dari dari Taiwan, Hawaii, hingga Selandia Baru, serta dari Madagaskar hingga Pulau Paskah).

 

Mengenai asal usul nama kabasaran, tari keprajuritan tradisional Minahasa ini, ia sebenarnya diangkat dari kata wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tari Kabasaran biasanya diiringi oleh tambur dan/atau gong kecilatau pun kolintang, yang biasa disebut “Pa ‘Wasalen”. Para penarinya disebut Kawasaran, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung. Jika diperhatikan, tari ini mirip dengan Tari Cakalele dari Maluku.

Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi “Kabasaran” yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian”. “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga berubah menjadi Kabasaran.

 

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa. Sebagaimana ditulis oleh P. N. Wilken pada 1830 di dalam buku Alfoersche Legenden, Tari Kabasarandari  Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini,tiap sub-etnis di Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenuntersebut. Khusus untuk Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih sukabusana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran dalam berperang.

 

Sangat disayangkan bahwa sejak 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga Kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya hampir miripseperti: Kokerah, Tinonton, Pasolongan dan Bentenan.

Para penari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam membuat Kabasaran tak pernah redup daya tariknya. Warna pakaian dominan merah dengan berbagai aksesoris berupa topi berhias sayap dan paruh burung uwak (buceros exaratus)atau burung jenis lainnyaadalah juga pesonanya. Kalung dengan tengkorak monyet (macaca nigra), gelang dan lain-lain pun semakin menambah kesempurnaan seorang prajurit yang gagah perkasa.

Pada zaman dahulu,para penari Kabasaran hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun dalam kehidupan sehari-harinya,mereka adalah petani dan orang kebanyakan. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi Waraney.

Para Waraney yang memiliki sifat jujur, pemberani dan bijaksana merupakan simbol ketangguhan Bangsa Malesung yang memiliki arti bahwa keturunan bangsa Malesung harus selalu menjaga tanah Minahasa agar selalu tentram dan damai, dimana para Waraney di masa ini dituntut untuk rajin bekerja, membangun daerah, serta berjuang untuk anak cucu.

Menjadi seorang Waraney yang demikian tidaklah mudah. Proses ritual dari jalan hidup seorang Waraney cukup panjang. Sejarah panjang Waraney yang merupakan prajurit perang pemberani dari bangsa Malesung (Orang Minahasa) yang tidak pernah mundur dalam setiap peperangan yang terjadi di zaman kolonial maupun sebelum zaman kolonial sudah teruji.

Pada masa kolonialisme, kejayaan Waraney ini mulai meredup. Sebelumnya,Waraney merupakan tentara bangsa Malesung yang menjadi ujung tombak suku Minahasa didalam setiap kondisi ancaman, baik itu ancaman dari binatang buas maupun manusia.

Tugas seorang Waraney bukan saja sebagai prajurit untuk berperang. Waraney yang dimaksud adalah juga seorangpelindung dan pemimpin suklu, penafkahkeluarga dan penjaga tradisi dari para leluhur Minahasa. Jadi Waraney disaat itu adalah mereka sebagai para pemburu, petani, ahli seni, ahli bangunan, nelayan, ahli pengobatan, dan ahli perang.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik