Pantun Sebagai Media Komunikasi Nalar Kritis/Positif

Maret 27, 2019 | Administrator Diversity.id

Pantun merupakan kekayaan seni sastra asli masyarakat Nusantara. Pada awalnya, pantun tumbuh karena pengaruh sastra India dan Persia. Namun, pantun berkembang sesuai konteks dan identias sosial-budaya lokal.

Siapa yang tidak mengenal pantun? Semua orang di era digital ini sepertinya mengenal apa itu pantun. Walaupun banyak orang bisa jadi hanya mengetahui sedikit tentang pantun, mereka umumnya dapat menikmati dan menyukai bait-bait indah, sarat nilai serta lucu itu. Ini merupaBukti bahwa pantun yang merupakan tradisi sastra klasik ini masih lestari.

Sumber: alonrider.wordpress.com

Pantun adalah salah satu warisan kesusastraan rakyat Nusantara. Kita mengenal pantun Melayu yang sangat terkenal itu. Di Sumatera Barat juga terdapat kebiasaan orang berbalas pantun yang dikenal dengan istilah batombe. Di Jawa, pantun jamak disebut parikan atau wawangsalan, atau secara khas dinyanyikan dengan iringan musik sederhana dalam ludrukatau gendrung yang merupakan ciri pantun di Jawa Timur. Orang Sunda menyebut pantun dengan istilah paparikan atau sesebred. Masyarakat Betawi suka menggelar segmen pantun berbalas pantun pada saat prosesi pernikahan atau dalam pertunjukan Lenong.

Masih banyak lagi sebutan pantun seperti umpasa oleh masyarakat Batak, atau ende-ende dalam bahasa Mandailing. Mirip dengan adat Betawi, masyarakat Bugis lazim berpantun dalam mementum lamaran calon pengantin, sebagaimana pantun nasihat yang dibacakan dalam prosesi pernikahan adat Minangkabau. Masyarakat di kawasan Timur Indonesia umumnya, seperti Manado atau Maluku, juga mengenal pantun.

Sumber: alonrider.wordpress.com

Apa itu pantun?

Istilah pantun berasal dari kata patuntun dalam (bahasa Minangkabau), yakni ungkapan yang teratur. Menurut pakar sejarah Melayu Klasik asal Singapura,  Liaw Yock Fang, dalam bukunya Sejarah Kesusastraan Melayu Kelasik (2011), pantun merupakan istilah kromo (dalam bahasa Jawa) dari parik yang berarti pari/paribasa atau peribahasa dalam bahasa Melayu. Dalam bahasa Batak Toba, pantun berarti kesopanan atau kehormatan.

Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang strukturnya terikat alias tidak bebas.  Semua mafhum, selain pantun, puisi lama terdiri dari: gurindam, syair, karmina, mantra, dan talibun. Pantun terdiri atas empat larik, dan setiap baris terdiri dari 8 hingga 12 suku kata yang bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a.  Artinya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga, dan baris kedua sama dengan bunyi baris keempat. Dua baris pertama disebut sampiran atau pembayang, dan dua baris di bawahnya merupakan isi atau inti pesan yang biasanya berkaitan dengan perasaan, ide, atau perbuatan. Ada juga pantun yang hanya terdiri atas dua baris, atau enam bahkan delapan baris.

Sumber: thebridedept.com

Sampiran dan isi, meskipun merupakan satu rangkaian dalam mengantarkan rima/sajak,  tidak saling berhubungan. Simaklah pantun yang sangat tenar ini:

 

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari mata turun ke hati

 

Berpantun merupakan aktivitas yang mengandaikan kepiawaian berbahasa. Betapa tidak, orang dituntut untuk mematuhi aturan-aturan sehingga ada eserasian sajak dan irama, dan dalam waktu yang sama ia memikirkan ide, utamanya ketika menyusun sampiran. Diksi-diksi dalam sampiran biasanya berkaitan situasi atau lingkungan alam atau konteks sosial-budaya masyarakatnya. Misalnya pantun Betawi dalam peristiwa di depan palang pintu seperti digambarkan di bagian awal tulisan:

 

Makan sekuteng di daerah Pasar Jum’at

Tidak lupa mampir ke Rawa Jati

Aye ke sini ama rombongan dengan segala hormat

Mohon diterime dengan senang hati.

 

Gadis bukan sekadar gadis

Lantaran gadis ini perawan

Ne gadis kaga sadis

Kalau ente mau, lewatin dulu nih tangan

Di masa lalu, pantun tak pernah ditulis atau dicatat pengarang dan tahun pembuatannya. Ia dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, dan umumnya didedikasikan sebagai ungkapan nasihat. Namun, seiring kemajuan teknologi dan tradisi literasi yang kian marak, pantun mulai dituis sebagaimana karya-karya sastra lainnya. Contohnya adalah parikan Jawa besutan Koesalah Soebagyo Toer (2011) ini:

Kunir kuning temu ireng
temu lawak jamu galian
lencir kuning dhasar gantheng
kapan awak jajar lenggahan
(kunyit kuning temu hitam
temu lawak jamu galian
kuning semampai dasar tampan
kapan aku bisa duduk berdampingan)

Meskipun pantun merupakan tradisi lisan, menurut Teuku Iskandar (dalam Kesusatraan Klasik Melayu Sepanjang Abad; 1996), pernah dilakukan upaya penerbitan naskah Perhimpunan Pantun Melaju oleh W. Bruining di Batavia pada 1877. Bahkan, konon di tahun 1688, pantun sudah menjadi objek penelitian, khususnya pantun Melayu.

Kebudayaan Melayu memang sering disebut sebagai asal muasal pantun dan pusat pengembangan puisi lama, khususnya pantun. Bisa jadi, dan penyebarannya mengikuti dinamika perdagangan (era niaga di sepanjang abad ke-14 hingga abad ke-17) di Semenajung Malaka bahkan meluas hampir meliputi seluruh wilayah Nusantara yang kala itu menggunakan bahasa Melayu. Karena itu, tak heran bila dalam bahasa Tagalog (Philipina) pun ada kosakata tonton yang maknanya sama dengan tuntun atau panuntun alias pantun. Di Malaysia dan Brunei, dengan penduduk mayoritas suku Melayu, tak diragukan lagi, mengenal pantun sejak dulu hingga hari ini.

 

Pantun merupakan karya sastra asli masyarakat Nusantara. Akar tradisi puisi lama itu sendiri sebenarnya telah ada jauh sebelum era niaga, yakni sebelum sebelum era Hindu, Buddha, dan Islam datang,tidak sebatas di Melayu maupun di Jawa. Profesor Jacobus Ras, guru besar emeritus bahasa dan sastra Jawa pada Universitas Leiden, Belanda, berpendapat bahwa puisi lama telah tumbuh di Jawa pada abad ke-9. Teks tersebut terdiri atas 29 bait dalam berbagai matra, dipahat di atas batu sebesar 112 x 50 cm yang tersimpan di Museum Pusat Jakarta  seperti dikutip Bastian Zulyeno, pengajar Prodi Arab FIB UI (Republika , 2 September 2018).

Masih menurut Bastian, seni puisi lama, termasuk pantun sebagaimana yang kita kenal pada hari ini, lahir karena pengaruh budaya India, dan belakangan terkikis oleh budaya Persia melalui jalur perdagangan dan misi Islam. Dugaan ini masuk akal bila dilihat wilayah-wilayah Nusantara yang di masa lalu tidak terkena pengaruh dua budaya tadi seni pantun tidak sepesat darah lainnya, semisal Papua (di masa lalu).

 

Dari nasihat hingga ungkapan menghibur

Sebuah pantun, lebih dari sekadar mengikuti aturan-aturan penyusunannya, umumnya mengandung nilai-niai tertentu, memiliki manfaat, mudah disampaikan dan diterima berbagai kalangan serta memiliki keterkaitan dengan konteks sosial-budaya masyarakat di mana pantun dilahirkan. Itulah mengapa pantun dapat dikenali dari mana ia dilahirkan. Ia membawa identitas kultural tertentu.

Pandangan sastrawan Maman S. Mahayana (2005) tentang hakikat pantun layak disimak. Menurut Maman, pantun tak sekadar berkaitan dengan urusan kesamaan bunyi abab atau keserasian sampiran dan isi, tetapi terdapat di dalamnya pertimbangan yang radikal dan filosofis.Dengan kata lain, pantun mesti bersifatmengingatkandan memberi nasihat kepada semua orang dengan pesan-pesan moral (nilai-nilai agama dan norma setempat), tidak memfitnahatau merendahkan martabat kemanusiaan. Potongan pantun Melayu di bawah ini menggambarkan apa yang dimaksud Maman.

 

Apa guna orang bertenun

Untuk membuat pakaian adat

Apa guna orang berpantun

Untuk memberi petuah amanat

 

Apa guna orang bertenun

Untuk membuat pakaian adat

Apa guna orang berpantun

Untuk mengajar hukum dan syarak

 

Ada tiga kelompok pantun bila dilihat dari para penuturnya, yakni pantun orang tua, pantun anak muda, dan pantun anak-anak. Selain berisi nasihat, pantun orang tua umumnya berisikan perihal adat dan agama.

Pantun anak muda lebih dinamis. Oleh kelompok usia produktif ini, pantun merupakan ruang ekspresi untuk menyampaikan beberapa pesan seperti: perdagangan atau pantun nasib, pantun jenaka, pantun berkenalan, pantun asmara atau percintaan, pantun perceraian, pantun beriba hati. Sedangkan pantun anak-anak hanya berisi dua hal, yakni suka cita dan duka cita.

Dalam perkembangannya, pantun mengalami proses kreativitas penuturnya. Kini banyak diciptakan pantun yang menghibur. Dalam beberapa acara formal pun banyak orang kini gemar berpantun. Meskipun disampaikan sebagai sindiran, seloroh, dan jenaka, pantun-pantun menghibur masa kini tetap mengusung nilai-niai moralitas. Tidak ada tujuan lain kecuali ingin agar pesan sampai ke audiens tanpa menyinggung siapa pun.

 

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik