Permainan Kelereng: Dari Masa Romawi Hingga Kini

Juli 12, 2018 | Nora Ekawani

 

Kelereng, bola kecil permainan anak-anak yang terbuat dari tanah liat, marmer, atau kaca, dikenal dengan berbagai nama di Indonesia. Ada yang menyebutnya dengan gundu (Betawi, Jakarta), keneker (Jawa), kaleci (Sunda), ekar (Palembang), dan guli (wilayah Melayu), serta kleker (Banjar). Tentu saja, keberagaman nama untuk kelereng di pelbagai daerah di Indonesia ini menunjukkan bahwa kelereng dimainkan hampir di seluruh daerah di Indonesia.

 

 

Kelereng biasanya dimainkan oleh anak laki-laki di pekarangan. Jarang sekali kelereng dimainkan di dalam ruangan. Dengan demikian, permainan ini sangat bermanfaat dalam melatih kemampuan motorik anak. Selain itu, permainan ini pun punya manfaat-manfaat lain seperti melatih anak mengendalikan emosi, mengasah kemampuan berpikir, melatih tingkat kecermatan dan ketelitian. Selain itu, permainan kelereng pun melatih kemampuan sosial anak; Kemampuan berkompetisi maupun menjalin pertemanan dan kejujuran.

Bagaimanakah kelereng ini dimainkan? Yang paling mendasar dari permainan ini adalah tersedianya lapangan permainan yang cocok. Tentu saja tidak ada spesifikasi tertentu untuk lapangannya seperti panjang dan lebar lapangan yang definitif. Cukup dengan sepetak tanah kosong atau sepetak tanah berpasir, bahkan sepetak lantai semen, permainan ini bisa dilaksanakan. Di tengah sepetak tanah itu, dibuatlah sebuah lingkaran. Lantas, masing-masing pemain meletakkan sejumlah (jumlahnya disepakati bersama) kelereng miliknya. Nah, sekumpulan kelereng di dalam lingkaran ini adalah ‘target utama’ permainan ini. Selanjutnya, setiap pemain akan melakukan tembakan ke arah lingkaran dari jarak tertentu.

 

 

Yang dimaksud dengan menembak adalah demikian; Setiap pemain memegang satu kelereng di tangan dan dengan sentilan atau jentikan jari, kelereng di tangan itu diluncurkan ke arah lingkaran sekeras-kerasnya dan sekencang-kencangnya. Tujuan tembakan ini adalah agar kelereng-kelereng yang berada di dalam lingkaran bisa bergerak ke luar dari lingkaran. Setiap pemain, melalui tembakan kelerengnya, berusaha untuk mengeluarkan sebanyak-banyaknya kelereng dari dalam lingkaran. Tentu saja, boleh saja pemain tidak berusaha melakukan itu jika memang ia hendak menjadi pecundang di dalam permainan itu. Pemenang permainan adalah ia yang paling banyak berhasil mengeluarkan kelereng dari dalam lingkaran. Sedangkan permainannya berakhir ketika semua kelereng sudah berhasil dikeluarkan dari dalam lingkaran.

Kerapnya, kelereng yang berhasil dikeluarkan dari lingkaran pada giliran menembak akan menjadi milik si penembak. Namun, bisa saja kelereng tersebut kembali ke pemiliknya. Ini tergantung dari kesepakatan awal permainan; Apakah sekadar bersenang-senang saja atau sekaligus juga ada denda dan ‘bayaran’ tertentu yang berlaku.

Bagaimanakah sejarah permainan ini dan bagaimana kisahnya sehingga hampir di seluruh Indonesia ia dimainkan? Kelereng tertua yang berhasil ditemukan sejauh ini berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kini, kelereng tertua itu dikoleksi oleh The British Museum, London. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta, Yunani, pada situs Minoan of Petsofa. Kelereng memang cukup populer di era, setidaknya, Romawi Kuno. Penyair Romawi Ovid atau Publius Ovidius Naso (43SM-18M) penah menulis syair mengenai permainan ini. Raja-raja Romawi kerap memainkan permainan ini di masa kanak-kanaknya. Setidaknya, catatan tentang masa kecil Raja Romulus Augustus bisa menjadi bukti. Pada peninggalan-peninggalan era Romawi Kuno pun bisa kita temukan sejumlah relief yang menggambarkan anak-anak bermain kelereng dari biji-bijian. Bahkan, permainan ini menjadi salah satu bagian dari Festival Saturnalia yaitu semacam perayaan menjelang Natal bangsa Romawi. Pada saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan.

Di belahan bumi lain pun, permainan kelereng sangatlah populer. . Sejak abad ke-12, di Perancis telah dikenal permainan kelereng yang disebut bille yang artinya bola kecil. Sedangkan orang Belanda menyebutnya knikkers. Ditengarai, sekitar 1694 muncul permainan kelereng di Inggris. Oleh orang Inggris permainan ini disebut marbles. Marbles awalnya adalah sebutan untuk kelereng yang terbuat dari marmer yang didatangkan dari Jerman. Jauh sebelum itu, masyarakat Inggris sendiri sudah mengenal permainan ini dengan sebutan bowls atau knikkers. Kelereng pun dikenal di Turki dengan sebutan hakan tuncer.

Di wilayah Asia Tenggara, awalnya permainan kelereng menggunakan biji dan buah-buahan bulat. Bahkan di Birma, kerang cowrie dipakai untuk permainan ini. Wilayah Asia Tenggara memang kaya dengan permainan anak-anak. Studi-studi modern telah menunjukkan bahwa setiap komunitas besar di Asia Tenggara mempunyai lusinan mainan anak-anak dan banyak diantaranya serupa bentuknya dengan mainan-mainan di bagian dunia lainnya.

 

 

Nah, bentuk kelereng yang akrab kita kenal saat ini sesungguhnya adalah kelanjutan dari teknologi teknologi pembuatan kelereng kaca yang baru ditemukan pada 1864 di Jerman. Kelereng yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni menyerupai permen. Perang Dunia II mengakibatkan pengiriman dan pembuatan kelereng kaca terpaksa terhenti. Teknologi ini pun kemudian segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika, sebelum kemudian diproduksi secara besar-besaran dan dikembangkan di masing-masing negara hingga ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kelereng yang kita kenal sebagai permainan sehari-hari, yang kerap dimainkan di sore hari oleh anak-anak lelaki di kampung sebelah, ternyata mempunyai sejarah panjang dan perjalanan panjang untuk sampai di pekarangan kita.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : Kelereng
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik