Pura di Bali: Sarana Ibadah Sampai Obyek Wisata

April 10, 2019 | Nora Ekawani

Pulau Bali atau yang dikenal pula di seantero dunia sebagai PulauDewata tidak hanya kaya akan keindahan alamnya tetapi juga kaya akan pura. Tidak heran, pulau yang sudah dikenal sebagai tujuan wisata sejak masa kolonial Belanda itu dijuluki pula dengan pulau sejuta pura. Bagi yang belum tahu, pura adalah nama tempat ibadah umatHindu. Tidak heran, pusat keberadaan pura adalah Pulau Bali lantaran mayoritas penduduk pulau itu memeluk Hindu.

 

Kata “Pura”sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sanskerta,-pur, -puri, -pura, -puram, -pore, yang berartikota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali, istilah “Pura” mengalami penyempitan makna sebagai penanda tempat ibadah.Sedangkan istilah “Puri”merujuk pada tempat tinggal para raja dan bangsawan.

 

Pura memang dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa area yang dikelilingi tembok. Masing-masing area dihubungkan dengan gerbang atau gapura berukir. Area yang dikelilingi tembok ini biasanya terdiri dari beberapa bangunan seperti pelinggihyaitu tempat suci bersemayam hyang, meruyaitu menara dengan atap bersusun, serta bale yakni pendopo atau paviliun.Sebagai tempat suci Umat Hindu, pura biasanya didirikan di tempat yang dikelilingi suasana asri seperti laut, gunung, goa, atau hutan. Tempat suci atau pemujaan ini biasanya disebut devalaya, devasthana, devalatau deul yang berarti rumah para dewa.

 

Jika dilihat dari fungsinya, ada 2 (dua) jenis pura yakni Pura Jagat sebagai tempat memuja Hyang Widhi (Dewa Pratistha) dan Pura Kawitan sebagai tempat memuja roh suci leluhur (Atma Pratistha). Jika ditinjau dari sisi karakternya, pura terbagimenjadi 4 (empat) kelompok yaitu Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kawitan.

Masyarakat Bali percaya bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur memasuki alam dewata. Karena itulah, pura menjadi penting di dalam kehidupan masyarakat Bali. Pura menjadi pusat kehidupan spiritual orang Bali. Di pura lah umat Hindu melakukan penyerahan diri dan mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan begitu, mereka meningkatkan kualitas hidupumat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dipura, diharapkan manusia dapat mengembangkan dirinya untuk saling mengenal diantara sesama umat sehingga kerukunan diantara umat Hindu dapat terwujud.

 

Pura digunakan oleh umat Hindu tidak hanya untuk upacara–upacara keagamaan. Di sana juga terjadi pendidikan dan pembinaan rohani. Biasanya,teradapat bangunan terpisah semacam kelas di samping pura yang dipergunakan sebagai tempat pembinaan keagamaan.

 

Struktur Pura

 

Strukturpura mengikuti konsep Trimandala yang memiliki tingkat derajat kesuciannya yakni:

▪ Nistamandala (Jaba pisan): zona terluar yang merupakan pintu masuk pura dari lingkungan luar. Zona ini biasanya berupa lapangan atau taman yang dapat digunakan untuk kegiatan pementasan tari atau tempat persiapan dalam melakukan berbagai upacara keagamaan.

▪ Madya mandala (Jaba tengah): zona tengah tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale Gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, dan Perantenan.

Utama mandala (Jero): zona paling suci daripura. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.

 

Ada pula pura yang terdiri dari dua halaman yaitu jaba pisan(halaman luar) dan jeroan (halaman dalam).Selain itu,ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) yang melambangkan ‘saptaloka’ yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas. Tujuh tingkatan itu adalah bhurloka, bhuvaaloka, svaaloka, mahaoka, janaloka, tapaloka dan satyaloka.Sedangkanpura yang terdiri dari satu halaman sesungguhnya menyimbolkan‘ekabhuvana’ yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas.

 

Pembagian halaman pura ini didasarkan atas konsep makrokosmos (bhuwana agung). Pembagian pura atas tiga bagian (halaman) itu adalah lambang dari ‘triloka’ yaitu bhurloka(bumi), bhuvaaloka (langit) dan svaaloka(sorga). Pembagian pura atas dua halaman (tingkat) melambangkan alam atas (urdhaa) dan alam bawah (adhaa).Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedangkan pembagian (loka) pada pelinggih-pelinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan prakati (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbol puruua (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan konsepsi prakatidengan puruua dalam struktur pura merupakan simbol dari “super natural power.”

Pemahaman masyarakat Hindu terhadap keyakinannya jelas tercermin didalam konsep bangunan pura. Dilihat dari struktur pembagian denah pura maupun bangunan yang ada di dalamnya, tampaklah filosofi alam yang dimiliki masyarakat Hindu Bali. Hal tersebut dilakukan karena masyarakat Bali menginginkan suatu keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Hyang Widi Wasa agar kebahagiaan dapat tercapai bagi seluruh manusia.

 

Selain itu,ada beberapa jenis pura yang berfungsi khusus untuk menggelar beberapa ritual keagamaan Hindu Dharma, sesuai penanggalan Bali. Mereka adalah;

  • Pura Kahyangan Jagad: pura yang terletak di daerah pegunungan. Dibangun di lereng gunung, pura ini sesuai dengan kepercayaan Hindu Bali yang memuliakan tempat yang tinggi sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan hyang.
  • Pura Segara: pura yang terletak di tepi laut. Pura ini penting untuk menggelar ritual khusus seperti upacara Melasti.
  • Pura Desa: pura yang terletak dalam kawasan desa atau perkotaan, berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Hindu Dharma di Bali.

 

Bagi umat Hindu, tempat suci punya dua pengertian yakni tempat suci karena kondisi alam dan tempat suci karena disucikan. Tempat suci karena kondisi alam contohnya adalah puncak gunungdansumber mata air. Sedangkan tempat suci yang dibangun adalah Pura.

 

Menurut catatan sejarah, ‘Pura’ yang berarti keraton atau istana rajadigunakan pada masa pemerintahan Dalem Kresna Kepakisan seperti Linggarsapura di Samprangan, Swecapura di Gelgel, Semarapura di Klungkung, Bandanapuradi Badung,dan Kawyapura di Mengwi.Sedangkan ‘Pura’ sebagai tempat pemujaan dimulai pada jaman sebelum Dalem Kepakisan, khususnya ketika Rsi Markandeya mendirikan Pura Besakih. Pada abad XI,Empu Kuturan mempopulerkan Pura dengan Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem) dan tempat memuja Sang Hyang Widhi yang disebut Meru. Pura merupakan tempat pemujaan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-NYA (manifestasi-NYA) dan atau Atma Sidha Dewata (roh suci leluhur) dengan sarana upacara yadnyadari Tri Marga.

 

Dalam Buku Materi Pokok Acara Agama Hindudisebutkan bahwa Pura sebagai tempat suci Umat Hindu memiliki arti dan fungsi yang sangat penting yaitu;

  1. Tempat untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya.
  2. Tempat umat mendekatkan diri dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan.
  3. Tempat dialog/komunikasi sosial masyarakat dan tempat persaksian atas suatu aktivitas.
  4. Tempat mengasah dan mendidik calon-calon pemimpin masyarakat.

 

Fungsi Pura dapat juga dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu:

  1. Fungsi spiritual: Dharma Sedana, Dharma Yatra.
  2. Fungsi pendidikan: Dharma Wacana, Dharma Tula.
  3. Fungsi sosial: Dharma Shanti, Dharma Gita.

 

Karenabegitu banyakragam dan lokasi-lokasinya yang menarik hati, tidak heran jika banyak orang ingin mengunjungi pura. Saat ini,pura pun bertambah fungsinya yaitu sebagai tempat wisata. Hampir seluruh pura besar di Bali dijadikan pula sebagai obyek wisata. Wisatawan yang datang ke Bali boleh mengunjungi dan memasuki pura-pura tersebut. Namun demikian, aturan tetap diberlakukan kepada para pengunjung.Umumnya,pengunjung diharuskan memakai kain untuk menghormatitempat tersebut, khususnya untuk wisatawan yang memakai celana pendek atau rok pendek. Lalu sebagaimana umumnya tempat suci, para wanita yang sedang ‘berhalangan’ juga dilarang memasuki wilayah pura, terutama wilayah-wilayah suci.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : Bali, Hindu Indonesia, Pura
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik