Deprecated: Function create_function() is deprecated in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/plugins/master-slider/includes/classes/class-msp-main-widget.php on line 95
Rakai Langit: Meningkatkan Minat Baca Kaum Muda dengan Augmented Reality | diversity.id

Rakai Langit: Meningkatkan Minat Baca Kaum Muda dengan Augmented Reality

Juli 9, 2019 | Ahmad Gabriel

Angin sepoi-sepoi menghapus keringat yang menempel di tubuh kelima anggota Rakai Langit. Pagi itu (Senin, 22/7/2019) mereka berteduh di bawah bayangan tenda raksasa yang disulap menjadi 16 kelas kecil. Mereka baru selesai mengikuti sesi Kelas Paralel di salah satu ruang kelas bersama tiga kelompok lain dan seorang fasilitator yang memberi masukan terhadap proposal mereka. Sesi ini masuk dalam rangkaian acara Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) yang diselenggarakan sejak 21-25 Juli 2019 di Bumi Perkemahan Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.

Rakai Langit adalah salah satu dari 131 kelompok yang terpilih mengikuti ajang kebudayaan khusus kaum muda ini. Acara diikuti 561 peserta hasil seleksi dari 3.058 pemuda atau 735 kelompok yang mengirimkan proposal selama proses pendaftaran. Mereka adalah para pemuda berusia 18-28 tahun, yang terdiri dari tiga hingga lima orang peserta per kelompok.

Rakai Langit masuk ke dalam kategori terberat, yaitu Puwarupa Aplikasi, dimana 46 kelompok bersaing mendapatkan tiga posisi teratas. Tiga kategori lain yaitu Purwarupa Fisik dan Aktivasi Kegiatan masing-masing berisi 31 kelompok. Sedangkan Aktivasi Kajian berisikan 25 kelompok.

Di dalam kelas, mereka memaparkan proposal di hadapan fasilitator dan kelompok lain yang bebas bertanya bahkan mengkritik puwarupa aplikasi yang mereka buat. Ini adalah momen latihan sebelum esok harinya mereka akan mempresentasikan proposal aplikasinya di hadapan dewan juri. Masukan-masukan dari fasilitator dan kelompok lain mereka catat dan diskusikan bersama di belakang tenda, tempat mereka mencari angin ditemani latar belakang Candi Prambanan yang menjulang tinggi, membuat pikiran dan badan kembali segar.

Rakai Langit beranggotakan lima muda-mudi yang kesemuanya merupakan alumni Universitas Negeri Malang. Tim ini diketuai Teguh Dewangga, dengan anggota Aji Setiawan, Monica Widyaswari, Alfina Musfira, dan Ekki Septian Putra. Ceritanya, Rakai Langit ini sudah mereka kembangkan sejak masa kuliah hingga launchingpada 2017 silam. Bentuknya adalah sebuah buku antologi cerpen yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Indonesia.

Proyek ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang berada pada angka 0,021% atau hanya 21 orang yang melekbuku dari 1000 penduduk. Peringkat minat baca masyarakat Indonesia pun sangat rendah, yaitu berada pada posisi 60 dari 61 negara. Teguh dkk., kemudian mengusung ide kreatif membuat buku yang lebih menarik. Cara kerja buku juga sederhana, melibatkan gadget, animasi dan audio visual.

Mereka pun membuat buku kumpulan cerita pendek dengan puluhan ilustrasi berwarna. Setiap ilustrasi akan memunculkan animasi dalam bentuk audio visual yang berasal dari teknologi Augmented Reality (AR) yang belakangan boomingkarena permainan Pokemon Go. “Tujuannya kan meningkatkan minat baca, berhubung hampir semua siswa punya gadget, akhirnya kita pikir gimana caranya bisa kolaborasi gadgetdan buku, pakai program tersebut (AR) deh”, ujar Teguh yang juga penulis cerpen-cerpen dalam buku ini.

Rakai Langit memuat sepuluh cerita pendek yang tema besarnya adalah kearifan lokal. Bahkan, delapan puluh persen cerita-cerita tersebut pernah dimuat di media cetak dan menjuarai lomba kepenulisan cerpen tingkat kampus hingga nasional.

Selain itu, nilai kearifan lokal yang diangkat juga menjadi salah satu poin penting, seperti kejujuran, sikap toleransi, gotong-royong, persatuan, kekeluargaan, menghargai kepercayaan masing-masing dan sebagainya. Apalagi, nilai-nilai tersebut semakin hari semakin hilang.

Penggunaan program pada buku pun cukup mudah. Program yang telah terinstaldalam android akan terintegrasi dengan aplikasi kamera. Untuk menikmati animasi AR, cukup arahkan kamera pada setiap ilustrasi yang ada. Animasi akan muncul pada layar dan menggambarkan bagian cerita secara audio visual.

“Ilustrasi yang ada juga disesuaikan dengan isi naskah, agar nilai-nilai kearifan lokal tersebut muncul. Selain itu, puluhan ilustrasi yang dicetak berwarna juga menjadi salah satu cara agar pemula lebih tertarik untuk membaca bukunya,” ungkap Aji, ilustrator buku ini. Ia mengungkapkan kesulitan awalnya adalah bagaimana menyederhanakan cerita di buku ke dalam bentuk ilustrasi. Dengan ilustrasi yang tepat, pembaca menjadi lebih tertarik dan juga bisa menangkap pesan cerita dengan lebih cepat.

“Rakai Langit bukan sekedar brandbiasa, tapi sudah menjadi intellectual property, yang nantinya bisa diturunkan ke banyak produk,” lanjutnya. Ia mencontohkan bahwa Indonesia mempunyai banyak budaya, tapi belum diaktivasi secara maksimal ke dalam bentuk cerita. Akan lebih hebat jika cerita-cerita budaya Indonesia lebih disederhanakan dan dikorelasikan dengan anak muda yang menyukai unsur pop dan modern, seperti Marvel atau Disney. “Makanya aplikasi yang akan kita buat bukan hanya sebagai platformmenulis tapi juga bisa membuat intellectual propertyseperti itu,” pungkasnya.

Inovasi ini pun telah di-reviewoleh Prof. Dr. Imam Suyitno, guru besar Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan Andreas Syah Pahlevi selaku ketua Asosiasi Desain Grafis Indonesia Kota Malang. Dari review kedua ahli tersebut, diambil kesimpulan bahwa program dan ilustrasi tersebut dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan minat baca seseorang.

Alfina dan Ekki yang bertanggungjawab dalam bidang produksi dan pemasaran mengungkapkan bahwa segmentasi dari pengguna buku seharga Rp 60.000,- tersebut adalah usia sekolah menengah atas hingga dewasa. Alfina manambahkan, bahwa keikutsertaan mereka di KBKM juga ingin memperkaya jaringan dan networking. “Karena di sini pesertanya berasal dari seluruh Indonesia. Tentunya kita sama-sama membawa ide masing-masing sehingga bila Rakai Langit membutuhkan tambahan penulis, programmer, pemasaran bisa dikolaborasikan dengan kelompok lain, begitu juga sebaliknya,” tutupnya.

Monica selaku programmerjuga menambahkan, aplikasi Rakai Langit yang berisi program augmented realityjuga sudah bisa didownload secara gratis di Playstore, sehingga pembaca cukup membeli bukunya.

Teguh mengenang, cerpen-cerpen di dalam buku itu ia tulis selama empat tahun. Sedangkan untuk pembuatan aplikasi dan penerbitan bukunya sendiri memakan waktu satu bulan. “Buku ini kami terbitkan sendiri dengan 150 eksemplar di cetakan pertama dan sudah terjual ke seluruh Indonesia serta sampai ke enam negara. Di antaranya Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailand, Jerman, dan Belanda,” ujarnya.

Ia mengaku tahu hajatan KBKM dari akun Instagram @budayasaya. Bersama teman-temannya, ia pun langsung mendaftar dan mengirimkan proposalnya ke laman KBKM. “Dengan mengikuti acara ini, kami berharap Rakai Langit tidak hanya dalam bentuk buku saja tapi bisa dikembangkan ke berbagai diversifikasi produk. Seperti film, komik, webtoon dan serial youtube,” lanjutnya. Teguh berkeinginan membuat platform Rakai Langit sebagai tempat di mana semua orang dapat ikut menulis cerita-cerita mengenai kearifan lokal dan budaya. Ia juga ingin mengembangkan aplikasinya menjadimarket place untuk penjualan buku dan merchandise Rakai Langit.

Ia pun merasa sangat senang kelompoknya dapat terpilih untuk mengikuti acara ini. “Hanya hawanya saja. Kami di Malang terbiasa dingin, nah disini itu panas,” kelakarnya yang disambut dengan gelak tawa dari seluruh anggota Rakai. Ia melanjutkan, tujuan utamanya adalah untuk lebih mendekatkan buku kepada anak muda dengan memakai teknologi Augmented Reality (AR). “Harapan kami, minat baca anak-anak muda semakin meningkat,” tutur Teguh menjelaskan mimpi besar timnya.

 

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik