Roro Jonggrang: Dongeng Rakyat Asal Muasal Candi Prambanan

April 10, 2019 | Ahmad Gabriel

Alkisah pada zaman dahulu kala di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan besar yang bertetangga, yaitu Kerajaan Pengging dan Kerajaan Boko. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Maya. Prabu Damar Maya memiliki putra bernama Raden Bandung Bondowoso, seorang ksatria yang gagah perkasa dan memiliki kesaktian yang tinggi.

Sedangkan kerajaan Boko dipimpin oleh raja denawa(raksasa) pemakan manusia yang kejam bernama Prabu Boko. Dalam memerintah kerajaannya, Prabu Boko dibantu oleh seorang Patih bernama Patih Gupolo yang juga adalah raksasa. Akan tetapi, meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Boko memiliki putri yang sangat cantik jelita bernama Roro Jonggrang.

Roro Jonggrang tersohor di tanah Jawa sebagai seorang gadis berparas cantik dan bertubuh langsing. Kulitnya putih sempurna dengan rambut hitam tergerai. Sorot pandang matanya tajam menikam. Aura dari tubuhnya memancar sempurna layaknya seorang bidadari surga yang memikat setiap laki-laki yang memandangnya. Dengan segenap kesempurnaan ia hadir sebagai wanita dengan harga diri yang tinggi, tak mudah ditaklukkan oleh kekayaan dan kegagahan laki-laki manapun.

Prabu Boko berhasrat memperluas kerajaannya dengan merebut kerajaan Pengging. Bersama Patih Gupolo, Prabu Boko melatih balatentara dan menarik pajak dari rakyat untuk membiayai perang. Saat balatentaranya dirasa siap, Mereka pun segera menyerbu kerajaan Pengging.

Pertempuran hebat pun meletus di kerajaan Pengging antara tentara kerajaan Boko dan tentara kerajaan Pengging. Demi mempertahankan kerajaannya dan mengalahkan para penyerang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya, Pangeran Bandung Bondowoso bersama bala tentara kerajaan untuk bertempur melawan Prabu Boko.

Pertempuran antara keduanya pun berlangsung begitu hebat dan lama, namun berkat kesaktiannya yang tinggi, Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Boko sang raksasa perkasa. Ketika Patih Gupolo melihat kekalahan dan kematian rajanya, ia merasa putus asa dan segera melarikan diri dari medan perang bersama pasukannya, mereka pun mundur kembali ke kerajaan Boko.

Pangeran Bandung Bondowoso yang merasa kemenangan telah diraihnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mengejar Patih Gupolo yang telah mundur. Ketika Patih Gupolo tiba di Keraton (istana) Boko, ia segera melaporkan kabar kematian rajanya kepada Putri Roro Jonggrang. Mendengar kabar duka ini sang putri bersedih dan meratapi kematian ayahandanya.

Kerajaan Boko tidak dapat mempertahankan diri saat balatentara Pengging menyerang balik mereka. Raja mereka yang perkasa telah mati dan banyak pasukannya yang tewas di medan perang. Kerajaan Boko pun jatuh ke tangan Pangeran Bandung Bondowoso. Ketika ia menyerbu masuk ke dalam Keraton Boko dan melihat Putri Roro Jonggrang, seketika itu pula Bandung Bondowoso terpikat dan terpesona kecantikan sang putri yang luar biasa. Saat itu juga Bandung Bondowoso jatuh cinta dan melamar Roro Jonggrang untuk menjadi istrinya. Akan tetapi sang putri menolak lamaran itu, tentu saja karena ia tidak mau menikahi pembunuh ayahandanya dan penjajah negaranya.

Bandung Bondowoso terus membujuk dan memaksa agar sang putri bersedia dipersunting. Akhirnya Roro Jonggrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso, tetapi dengan mengajukan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan.

Syarat pertama adalah ia meminta kepada sang pangeran untuk dibuatkan sumur raksasa yang dinamakan sumur Jalatunda, dan syarat kedua adalah untuk dibangunkan seribu candi untuknya dalam satu malam. Meskipun syarat-syarat itu teramat berat dan mustahil untuk dipenuhi, Bandung Bondowoso tetap menyanggupinya.

Syarat itu pun segera dikerjakan. Dengan kekuatan dan kesaktiannya sang pangeran berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda. Setelah sumur selesai, dengan bangga sang Pangeran menunjukkan hasil karyanya. Putri Roro Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran dengan membujuknya untuk turun ke dalam sumur dan memeriksanya.

Setelah Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, sang putri memerintahkan Patih Gupolo untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu-batu, mengubur Bondowoso hidup-hidup. Akan tetapi upaya membalaskan dendam ayahandanya itu gagal, karena Bandung Bondowoso yang sakti dan kuat gagah perkasa berhasil keluar dengan mendobrak timbunan bebatuan itu.

Sang pangeran sempat dibakar kemarahan akibat tipu daya sang putri, akan tetapi berkat kecantikan dan bujuk rayunya, sang putri berhasil memadamkan kemarahan sang pangeran.

Untuk mewujudkan syarat kedua, sang pangeran bersemedi dan dengan kesaktiannya ia memanggil makhluk halus, jin, setan, dan dedemit dari dalam bumi. Dengan bantuan para makhluk halus yang memiliki kekuatan besar ini, Sang Pangeran dengan cepat berhasil menyelesaikan 999 buah candi pada malam itu.

Ketika Roro Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan tugas Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia juga memerintahkan agar mereka juga membakar gundukan jerami di sisi timur.

Mengira bahwa pagi akan tiba karena ayam berkokok melihat cahaya di timur dan para perempuan menumbuk padi, para makhluk halus lari ketakutan dan bersembunyi masuk kembali ke dalam bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun pada malam itu dan secara otomotis Bandung Bondowoso telah gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang.

Namun ketika mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu. Maka sang putri pun berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi yang terakhir.

Menurut legenda rakyat ini, situs Ratu Boko di dekat Prambanan adalah istana Prabu Boko, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Loro Jonggrang yang berarti “gadis yang ramping”.

***

 

Legenda ini adalah dongeng atau cerita rakyat yang menjelaskan asal muasal dari situs-situs bersejarah di Jawa, yaitu Keraton Ratu Boko, Candi Sewu, dan Arca Durga di ruang utara candi utama Prambanan. Meskipun candi-candi ini berasal dari abad ke-9, akan tetapi diduga dongeng ini disusun pada zaman yang kemudian yaitu zaman Kesultanan Mataram.

Tafsiran lainnya menyebutkan bahwa legenda ini mungkin merupakan ingatan kolektif samar-samar masyarakat setempat mengenai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kawasan ini. Yaitu peristiwa perebutan kekuasaan antara wangsa Sailendra (penganut Budha) dan wangsa Sanjaya (penganut Hindu) untuk berkuasa di Jawa Tengah. Prabu Boko mungkin dimaksudkan sebagai Raja Samaratungga, Rakai Pikatan sebagai Bandung Bondowoso, dan Pramodhawardhani, putri Samaratungga sekaligus istri Rakai Pikatan, sebagai Roro Jonggrang.

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik