Rosa Agapa Maestro Noken dari Papua

Maret 8, 2019 | Ahmad Gabriel

Noken sebagai hasil seni kriya masyarakat Papua, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam ICH LIST UNESCO pada tanggal 4 Desember 2012. Salah satu dari 11 Warisan Budaya Takbenda asal Indonesia yang memiliki unsur masterpiece yang diakui dunia ini memiliki maestro noken yang telah lama melestarikannya. Mari kita tengok mama Papua yang telah mendapat penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbud pada tahun 2013 ini.

***

 

Rosa Agapa atau biasa dipanggil Mama Rosa, adalah seorang pelestari Noken asal Nabire, Papua. Ia lahir pada tahun 1938 dan berasal dari Kampung Ugapuga, Kabupaten Dogiyai, Papua. Pengabdiannya sebagai seorang pelestari Noken sudah dijalaninya sejak usia muda. Ia juga cukup aktif berorganisasi di lingkungannya. Pada tahun 1988, Mama Rosa pernah bergabung di Perkumpulan Kaum Wanita sebagai bendahara dan juga merangkap sebagai tutor dalam kegiatan merajut noken, menjahit pakaian, dan selimut. Pada tahun 2002, Mama Rosa menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Paniai dalam 3 tahun untuk kegiatan merajut noken, baik noken anggrek, noken benang wol, selimut dan pakaian rompi.

Mama Rosa menetap bersama keluarganya di Nabire, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Pada tahun 2005, Mama Rosa sempat lama berhenti merajut karena merawat suaminya Samuel Mote yang sakit berat hingga akhirnya meninggal. Ia kembali aktif melanjutkan kegiatan merajut noken di Nabire pada tahun 2008 dan sempat mendapat kunjungan dari Dinas Sosial dan Kantor Pemberdayaan Wanita Kabupaten, sehingga kelompok noken Mama Rosa Agapa terpilih mewakili Kabupaten Nabire untuk mengikuti pameran di Jayapura dan mendapat Juara Umum. Selanjutnya pada Tahun 2012 Mama Rosa dan kelompoknya terpilih kembali mewakili Provinsi Papua untuk mengikuti pameran di acara HUT ke-32 Dewan Kerajinan Nasional di Jakarta.

Dalam Sidang Komite Antarpemerintah Sesi ke-7 untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Paris, noken ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak pada 4 Desember 2012.

Pada 8 Februari 2013, pemerintah Indonesia menerima sertifikat noken sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Sekretariat ICH. Selanjutnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyerahkan sertifikat dari UNESCO tersebut kepada Gubernur Papua Barat pada 7 April 2013.

Noken adalah jaring rajutan atau tas tenun buatan tangan dari serat kayu atau daun oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat Indonesia. Pria dan wanita menggunakannya untuk membawa hasil perkebunan, hasil tangkapan dari laut atau danau, kayu bakar, bayi atau hewan kecil serta untuk belanja dan untuk menyimpan hal-hal keperluan rumah tangga. Noken juga sering dipakai ketika perayaan tradisional, atau diberikan sebagai tanda keselamatan.

Metode pembuatan Noken bervariasi antara masyarakat, tetapi secara umum, cabang, batang atau kulit pohon kecil tertentu atau semak dipotong, dipanaskan di atas api dan direndam dalam air. Serat kayu yang tersisa dikeringkan kemudian diputar untuk menghasilkan benang kuat, yang kadang-kadang benang tersebut diberi warna menggunakan pewarna alami. Benang ini diikat dengan tangan untuk membuat tas yang bersih dengan berbagai pola dan ukuran. Proses ini membutuhkan keterampilan, perawatan dan rasa artistik yang sangat besar, dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menguasai hal tersebut.

Noken memiliki makna sosial yang terkait dengan hubungan antara sesama warga masyarakat, warga dengan pemimpinnya, serta warga satu komunitas suku dengan warga komunitas suku lainnya. Noken dapat menjadi identitas sosial sebuah komunitas suku karena mencirikan asal suku seseorang. Orang Papua data dilihat asal-usul kesukuannya dengan melihat bentuk dan ciri khas noken yang dikenakan. Noken Asmat misalnya, berbeda bentuk dan ciri khasnya dengan Noken Wamena; begitu pula noken Paniai berbeda dengan noken dari Biak, dan sebagainya. Jadi bentuk dan ciri khas noken ini dapat berfungsi sebagai ikatan sosial suatu suku di Papua.

Noken dapat pula dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan tolong-menolong karena seseorang yang memiliki sesuatu dalam noken itu dapat membagikannya kepada sesama yang memerlukan. Sebagai simbol sosial untuk berbagi dengan sesama, noken sekaligus mengandung makna pengakuan atas hak milik seseorang. Masyarakat Papua sangat menghargai hak milik seseorang dan bersikap hati-hati terhadap segala sesuatu yang menjadi hak milik orang lain, termasuk terhadap benda-benda yang terdapat di dalam noken. Walau terlihat jelas oleh orang lain, benda-benda dalam noken tetap aman di tangan pemiliknya. Artinya, orang Papua sangat menghargai hak milik bahkan ikut menjaga kepemilikan orang lain dengan tidak menginginkan barang milik orang lain. Noken mengingatkan mereka akan pentingnya penghargaan terhadap kejujuran dan pengakuan atas kepemilikan suatu barang.

Secara sosiologis, noken memperkuat interaksi sosial di antara kaum perempuan – para mama – Papua  pembuat noken. Di beberapa daerah, banyak dijumpai para mama membuat noken bersama di suatu tempat. Hal itu sebetulnya untuk mengusir rasa malas dan bosan apabila dikerjakan secara sendiri-sendiri. Dengan bekerja bersama maka satu sama lain saling memberikan semangat apabila rasa bosan mulai datang sehingga pekerjaan membuat sebuah noken terselesaikan. Dalam kegiatan ini, berbagai percakapan bermunculan, mulai dari hal-hal yang ringan hingga keluhan mengenai suatu masalah. Sering kali berbagai masalah kehidupan perempuan Papua terpecahkan ketika mereka bersama-sama membuat noken.

Pada seminar nasional tentang Noken Papua yang diselenggarakan oleh Kemendikbud di Jakarta, 25 Oktober 2013 lalu, Mama Rosa sempat menampilkan keahliannya merajut noken di depan para peserta. Saat itu Mama Rosa memperagakan cara membuat tas noken dan berbagai karya rajutan noken lainnya. Walhasil, aksinya itu membuat para peserta berdecak kagum, apalagi bagi orang yang tak pernah mengetahui cara pembuatan noken.

Merajut noken dalam berbagai jenis selama puluhan tahun, Mama Rosa Agapa pada Sabtu, 30 November 2013 mendapat penghargaan pada Malam Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi Tahun 2013 di Balai Kartini Jakarta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dari tiga mama Papua yang diajukan oleh Penggagas Noken Papua sebagai calon kandidat peraih penghargaan tersebut, Mama Rosa Agapa dinyatakan memenuhi syarat dan ketentuan tim penilai. Satu mama dari wilayah adat Lapago dan satu lagi dari wilayah adat Bomberai belum memenuhi secara akurat syarat yang diminta, dan Mama Rosa Agapa dari Wilayah Adat Saireri di Nabire telah terpilih sebagai penerima penghargaan Maestro Seni Tradisi 2013 berdasarkan rapat tim penilai di Jakarta.

Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang telah menghargai karya-karya seni budaya yang dihasilkan sebagai cara untuk penanaman nilai-nilai budaya kepada generasi berikut, khususnya generasi muda sebagai penguatan karakter bangsa. Dengan penghargaan ini, diharapkan akan membangkitkan semangat Mama Rosa dan mama-mama Papua untuk selalu berjuang menjaga dan memelihara nilai Noken melalui kreativitas mereka.

Noken sebagai kerajinan tangan masyarakat adat Papua yang sudah bernorma, beradat, berbudaya dan beretika peninggalan para leluhur hingga sekarang dianggap sebagai simbol kesuburan perempuan, kehidupan yang baik, dan perdamaian. Ada 250-an suku di Papua yang mengenal dan mengenakan Noken dalam kehidupan sehari-hari, dan Mama Rosa adalah satu dari sekian banyak mama-mama noken Papua yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan peninggalan budaya luhur ini.

 

Ahmad Gabriel
Penulis, desainer grafis, pencinta sastra dan budaya Indonesia, aktivis ormas pemuda, redaktur Majalah Indonesiana dan Diversity.id.

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Debus Muda Milenial

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik