Deprecated: Function create_function() is deprecated in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/plugins/master-slider/includes/classes/class-msp-main-widget.php on line 95
Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat | diversity.id

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Agustus 28, 2019 | Administrator Diversity.id

SABERIA

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua

(rhia.sabria@yahoo.co.id)

Peralatan tradisional telah ada dan digunakan sejak dahulu oleh manusia. Peralatan tradisional terdiri dari berbagai macam dan bentuk, yang dibuat dan digunakan sesuai kebutuhannya.Misalnya alat yang digunakan untuk mengangkat barang atau sebagai wadah tempat menaruh barang. Katakanlah, keranjang. Keranjang biasanya digunakan untuk menaruh barang atau apapun yang diinginkan oleh si pemilik keranjang. Seiring berjalannya waktu, keranjang mengalami perkembangan bentuk, model, dan juga bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Akan tetapi keranjang tradisionalyang ada pada setiap kelompok masyarakat tidak dilupakan begitu saja.Contohnya bisa dilihat pada masyarakat Matbat di Misool Timur.Sampai saat ini, mereka masih menggunakan keranjang tradisional yang disebut dengansaloi.

Misool Timur adalah salah satu distrik yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Raja Ampat. Wilayah ini didiami olehsuku bangsa Matbat, masyarakat asli daerah itu. Pada mulanya, mereka mendiami bagian pedalaman Pulau Misool.Kemudian, secara berangsur-angsur, merekaberpindah menetap di sepanjang pesisir pantai Pulau Misoolyang tersebar di beberapa kampung di bagian selatan pulau Misool seperti Lemalas, Folley, Temullol, Kafopop, Yellu, Fafanlap, Mage, Gamta dan Kapatcol. Sedangkan di bagian utara dikampungSalaven, Atkari, dan Aduwei.

Saloisangat berfungsi di dalam kehidupan seharri-hari orang Misool atau Matbat. Terutama bagi merekayang bermata pencaharian sebagai petani. Petani merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat Matbat di Misool Timur. Misool merupakan daerah perairan yang apabila kita hendak berkunjung ke kampung lain, kita mesti menggunakan alat transportasi air, kecuali Kampung Lemalas yang kini bisa ditempuh dengan jalan darat. Pemerintah daerah memang telah membuat jalan darat dari ibu kota distrik ke Kampung Lemalas.

Menarik melihat bahwa daerah Misool, khususnya Misool Timur, yang dikelilingi oleh perairan initernyata mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani. Jarang, bahkan bisa dikatakan tak adam, yang berprofesi sebagai nelayan, meski pun mereka hidup hanya sejengkal saja dari pantai. Kegiatan melaut tidak dilakukan secara rutin oleh masyarakat. Mereka melaut hanya untuk kebutuhan rumah tangga.

Setiap pagi sekitar pukul 08.00, masyarakat akan berbondong-bondongmenggendong keranjang (saloi) dan menenteng parang (dalam bahasa Matbat disebut dia) serta membawa seikat anak panah beserta busurnya menuju ke wilayah selatan kampung, tempat ladang-ladang mereka.

Kehidupan ekonomi masyarakat di Misool Timur, khususnya orang Matbat,adalah ekonomi subsisten. Mereka mengandalkan limpahan alam sebagai sumber kehidupan. Untuk mengelola alam disekeliling mereka, warga masih menggunakan cara-cara tradisional;bagi petani ladingmereka menggunakan parang (dia), kapak (dalam bahasa Matbat disebut mancadu),serta busur dan anak panah. Sedangkankeranjang (saloi) merupakanalat utama dalam mengumpulkan makanan. Sementara bagi penangkap ikan (nelayan),mereka menggunakannilon dan mata pancing, perahu, serta saloiyang juga difungsikan untuk  mengangkat dan menyimpan hasil pancingan.

Saloiatau keranjang tradisional ini dianyam dari bahan rotan. Bentuknya bulat memanjang.Bagian bawahnya lebih kecil dibandingkan bulatan bagian atas keranjang.Ada seutas tali yang ditempatkan di tengahnya agar dapat berfungsi seperti tas ransel. Saloibisa dibuat oleh semua kalangan, kaum muda maupun orang tua. Lama pembuatan sebuah saloibergantung pada sang pembuatnya. Jika bahannya sudah lengkap dan dikerjakan secara rutin, makaSaloidapat diselesaikan dalam sehari.Jika bahannya belum tersedia, biasanya mereka akan bersama-sama pergi mencari bahannya. Di dalam kasus yang demikian, pembuatan Saloi bisa memakan waktu lebih dari satu hari. Terkadang, Saloidilengkapi pula dengan pernak-pernik tertentu. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, cara pemakaian Saloiadalah dengan diangkat ke belakang punggung, digendong. Dengan begitu, memudahkanpemakainyauntuk mengangkat barang yang ada di keranjang. Kedua tangan bebas dan bisa membawa barang yang lainnya pula.

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Tarian Perang yang Atraktif

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik