Siasat Para Leluhur: Rumah Tradisional Tahan Gempa

Agustus 9, 2019 | Nora Ekawani

Indonesia dan gempa tampaknya kian hari kian tak terbantahkan keterkaitannya. Sudah lama kita ketahui, hampir seluruh wilayah negeri ini berpotensi gempa bumi. Lantaran, posisi negeri ini yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia; Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik atau populer dengan sebutan Jalur Cincin Api Pasifik. Namun sadarkah kita bahwa, sebenarnya sejak ratusan tahun lalu leluhur bangsa ini ternyata sudah fasih menyiasati gempa yang seringkali terjadi untuk mengamankan rumah mereka? Berikut ini adalah beberapa kearifan leluhur kita di dalam menghadapi gempa, terkhusus di dalam hal konstruksi rumah.

 

Suku Besemah yang diperkirakan telah mendiami daerah Pagar Alam, Sumatera Selatan sejak  abad VI Masehi mewarisi pada kita Rumah Tradisional Besemah atau Ghumah Baghi, selain situs Megalitikumnya. Rumah tradisional dengan konstruksi yang sederhana ini mampu bertahan terhadap gempa yang sering terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Bahkan terbukti, Rumah Besemah ini mampu bertahan hingga ratusan tahun.

 

Rumah Besemah berbahan utama kayu. Rumah kayu memang cenderung memiliki bahan bangunan yang ringan. Namun,bila tidak memperhatikan prinsipnya,bisa terjadi kesalahan konstruksi. Terutama dalam hal pemilihan bahan bangunannya. Kesalahan yang banyak terjadi adalah penggunaan atap genteng dan kayu-kayu berat pada kuda-kuda atap. Maka saat terjadi gempa,struktur bagian bawah akanrusakkarena struktur atas yang terlalu berat. Namun,hal ini tidak terjadi pada Rumah Tradisional Basemah. Berdasarkan data, bahan konstruksi Rumah Besemah yang paling beratada di struktur bagian bawah sementara yang paling ringan ada pada struktur bagian atas. Dengan demikian, keseimbangan Rumah Besemah sangat baik dalam mengalirkan gaya atau beban yang ada pada bangunan. Keseimbangan ini memang harus diperhitungkan karena akan mengurangi resiko kerusakan saat gempa terjadi.

 

Harus disadari bahwa,yang berbahaya dari gempa bukanlah peristiwanya tetapi dampaknya; salah satunya adalah rubuhnya bangunan akibat gempa. Jelas bahwa,rumah yang materialnya berasal dari kayu atau bambu cenderung bertahan karena kayu dan bambu memiliki kelenturan terhadap guncangan gempa.

 

Secara umum, konstruksi bangunan adat berupa rumah panggung memang mampu menahan guncangan saat gempa bumi terjadi. Teknologi bangunan inilah yang menjaga bangunan tetap berdiri, aman dihuni, dan tahan terhadap gangguan. Rumah Tradisional Sunda/Jawa Barat misalnya, struktur bangunannya menggunakan bambu dengan sistem ikatan antar komponen bangunannya serta lantai panggung yang tingginya sekitar 60 centimeter. Dengan sistem struktur seperti ini, bila terjadi guncangan gempa, bangunan hanya bergoyang dan tidak mengalami kerusakan. Lantai panggung setinggi 60 centimeter dimaksudkan untuk menjaga bangunan tetap utuh meski punjatuh ke permukaan tanah akibat tanah longsor.

Sistem yang hampir mirip kita jumpai pada Rumah Aceh. Rumah ini memiliki struktur bangunan dari kayu yang saling dikaitkan satu sama lain. Dikunci dengan baji atau pasak, Rumah Aceh lebih dinamis dan tahan guncangan gempa. Bila gempa telah berlalu, masyarakat Aceh akan memeriksa baji atau pasak yang ada pada rumah masing-masing. Bila terlihat menonjol keluar, segera dikembalikan ke posisinya semula dengan dipukul.

 

Salah satu contoh konstruksi rumah yang menanggapi bencana gempa bisa kita jumpai pada pengalaman masyarakat Minahasa dalam menghadapi gempa besar pada 1845. Gempa tersebut mengakibatkan banyak rumah rusak. Sejak peristiwa tersebut, rumah-rumah penduduk dibangun dengan ukuran kecil.Tiang-tiangnya dipendekkan dan diperkecil serta rangka-rangka rumah dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah roboh. Menurut catatan Marwati dalam “Studi Rumah Panggung Tahan Gempa Woloan di Minahasa Manado” (Jurnal Teknosains, Vol. 8 No. 1, Januari 2014), sebelum1845, rumah-rumah orang Minahasa memiliki tiang-tiang penyangga yang cukup tinggi yaitu antara 3-5 meter. Setelah gempa, rumah tradisional Minahasa tidak mengalami banyak perubahan, kecuali panjang tiang-tiang penyangganya yang dikurangi menjadi 1,5 -2,5 meter dan diameternya diperkecil menjadi 30 centimeter.

 

“Rumah panggung Wuloan di Minahasa merupakan rumah panggung tahan gempa pada semua struktur fondasi, dinding dan balok rangka utama dari kayu besi memenuhi syarat sebagai konstruksi gempa. Setiap balok saling kait mengait. Dinding dari papan maka tidak mudah retak atau pecah,” tulis Marwati. Pengurangan tinggi tiang penyangga rumah dimaksudkan untuk memaksimalkan fungsi suspensi sehingga rumah tidak mudah roboh ketika ada getaran hebat.

 

Rumah tahan gempa berdasarkan kearifan lokal memang mengutamakan konstruksi yang lebih fleksibel. Misalkan saja Rumah Joglo. Ada beberapa alasan mengapa Rumah Joglo lebih tahan terhadap gempa. Pertama, rangka utamanya (core frame) yang terdiri dari umpak, soko guru, dan tumpang sari, dapat menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa.  Kedua, strukturnya yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan yang efektif, lebih fleksibel, juga stabil. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur dan konfigurasi kolom anak (soko-soko emper) terhadap kolom-kolom induk (soko-soko guru) merupakan unsur-unsur fleksibilitas dari rumah joglo terhadap gempa.

 

Sebagai Rumah tradisional, Rumah Gadang tak perlu diragukan lagi untuk urusan kekuatan dan kekohonannya. Sudah terbukti kuat menahan gempa berkekuatan 7,6 SR (Skala Richter; satuan ukuran kekuatan gempa) yang sempat mengguncang Kota Padang, Sumatera Baratpada 2009 silam. Konstruksinya yang lentur dan solid bahkan mampu menahan gempa berkekuatan 8 SR. Kuncinya terletak pada rangka kayu yang berbentuk seperti perahu. Tiang bangunan bagian bawah juga dialas dengan batu agar bisa menahan getaran.

Tentu kita masih ingat gempa berkekuatan 7,8 SR yang mengguncang Pulau Nias pada 2010. Ketika itu, Omo Hada—nama rumah tradisional masyarakat Nias—terbukti bisa bertahan. Berbentuk rumah panggung dengan ukuran besar memanjang ke belakang seperti sebuah kapal, rumah warisan kearifan lokal ini terbukti kokoh menahan gempa. Konstruksi Ono Hada didominasi kayu dan ‘cuma’ disatukan oleh pasak. Rahasia kekuatannya terletak pada kayunya. Omo Hada tersusun dari kayu-kayu pilihan yang memiliki elastisitas tinggi. Sehingga ketika ada gempa, kayu penyangganya tak sampai roboh. Paling-paling cuma bergeser sedikit.

 

Rumah-rumah tradisional di Bali pun, terutama di bagian utara,memiliki model konstruksi yang tidak menancap ke dalam tanah. Karena berada di atas permukaan, begitu ada pergerakan tanah dari bawah,bangunan akan bergeser mengikuti gerakan dan tidak hancur berantakan. Buktinya, ketika terjadi gempa di Seririt, Buleleng pada 1976, rumah-rumah adat di Desa Sidatapa, Bali tetap berdiri kokoh.

 

Kehidupan masyarakat zaman dahulu sangat menyatu dengan alam sehingga perilaku alam selalu menjadi perhatian utama mereka. Gempa menjadi salah satu pemicu untuk membuat rumah yang aman dan nyaman. Rumah pun kemudian dibangun dengan pengetahuan teknologi turun-temurun yang terus disempurnakan. Dengan fenomena akhir-akhir ini, bencana gempa yang terjadi susul menyusul, barangkali memang sudah saatnyakita kembali kepada kearifan lokal.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : gempa, rumah traditional
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Majalah Indonesiana

Debus Muda Milenial

Soal Imajinasi Budaya

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik