Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik

Januari 17, 2019 | Administrator Diversity.id

Rasanya belum hilang dalam ingatan kita pesona acara pembukaan (opening ceremony)  Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada medio Agustus silam. Selebrasi pembukaan pesta olahraga se-Asia ini memperoleh apresiasi masyarakat luas karena dianggap unik sekaligus menakjubkan. Salah satu daya tarik welcome party ini adalah pementasan 19 tarian tradisional sebagai sajian utamanya.  Berkat sentuhan dan eksplorasi desainer kondang Rinaldy Yunardy serta kareografer kenamaan  Eko Supriyanto dan Dany Malik, serangkaian tarian etnik yang dimainkan secara kolosal dalam beberapa segmen itu mampu memukau jutaan pasang mata penonton yang hadir dan permirsa di negara-negara Asia, bahkan dunia, melalui saluran langsung televisi.

Semua mafhum, tidak semua dari  karya-karya seni tradisional yang dipentaskan pada malam itu lazim disebut tarian penyambutan tamu. Demikianlah kelenturan karya seni (sebagai anak kandung kebudayaan), khususnya seni tari. Diawali pentas tari kreasi baru Aceh, Ratoh Jaroe  (mirip tari Saman), yang melibatkan  ratusan siswa SMA se-DKI Jakarta, panggung segera mengetengahkan tarian Sipitu Cawan, Gending Sriwijaya, Piring, Zapin, Transisi Bunga, Lenong Betawi dan Jaipongan. Berkat penggarapan rancangan panggung serta kolaborasi antar-segmen yang nyaris sempurna, segmen ini mampu mengekspresikan pesan simbolik ucapan selamat datang bangsa Indonesia kepada para atlet (baca: tamu agung bangsa-bangsa se-Asia). Suasana kompetisi pada Asian Games 2018 pun berlangsung hangat, selain sarat nuansa persaudaraan masyarakat Timur.

Peristiwa kebudayaan di atas lebih dari sekadar sebuah afirmasi bahwa Indonesia kaya akan karya seni tari tradisional, khususnya tarian penyambutan tamu. Bayangkan, Indonesia teridiri dari 300 kelompok etnik dan 1.340 suku bangsa. Hampir setiap suku dan kelompok etnik memiliki jenis tarian ini, baik yang lahir atau diangkat dari tradisi keraton, kebiasaan suku dan masyarakat, atau perpaduan dari ketiga unsur tersebut. Beberapa tarian penyambutan tamu itu antara lain tari Makakero (Raja Ampat, Papua Barat), Remo (Jawa Timur), Kataga (Nusa Tenggara) dan Pendet (Bali),  Mappakaraja  (Kalimantan),  Gending Sriwijaya dan Tanggai (Sumatera Selatan) Tepak Sirih (Riau), Bubuka (Sunda), Gambyong (Jawa Tengah) dan Tari Remo (Jawa Timur).

Tidak sedikit dari tarian yang diperuntukkan memuliakan tamu telah berusia beberapa abad. Tari Saman asal Aceh, misalnya, sudah dimainkan sejak zaman Kesultanan Aceh di abad ke-14. Tarian tanpa iringan instrumen musik ini dirancang seorang ulama tenar asal Suku Gayo, Syekh Saman. Ia mengolah permainan “Pok Ane” menjadi sebuah karya seni tari yang menggambarkan akulturasi budaya lokal dan Islam. Karena itu, di masa Kesultanan Aceh, tarian Saman kerap dimainkan di masjid atau langgar saat digelar peringatan Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Namun, kini, Saman telah menjadi karya seni yang juga acap digelar sebagai penyambutan tamu dan berbagai kegiatan kebudayaan. Tarian Saman  telah mendunia, terlebih menyusul penetapan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO  pada 24 November 2011 silam.

sumber foto: http://ulinulin.com/posts/tari-saman-aceh-warisan-budaya-yang-terkenal-hingga-ke-mancanegara#

Secara umum, tarian penyambutan tamu yang ada di bumi Nusantara mencerminkan karakter masyarakat yang ramah, santun, rendah hati serta suka memuliakan tamu. Di dalam setiap tarian itu  selalu ada muatan filosofis, sejarah, norma, dan nilai-nilai sakral  khas masyarakatnya.

Tarian Tepak Sirih umpamanya. Tarian yang lahir dari tradis keraton ini lazim dipentaskan untuk menyambut tamu terhormat. Tepak Sirih biasanya dibawakan lima  hingga sembilan  orang.  Satu di antara penari-penari itu membawa tepak berisi sirih untuk dipersembahkan kepada tamu (dan rombongannya, bila ada). Sang tamu kemudian mengambil sehelai yang dilanjutkan dengan mengunyah daun yang berasa pahit tersebut.  Ada dua ciri khas gerakan dalam tarian ini, yakni gerak Patah Sembilan Tunggal dan gerak Patah Sembilan Ganda. Bagi masyarakat Melayu, Tari Tepak Sirih adalah narasi sederhana tentang ajaran kesabaran, persaudaraan dan kerendahan hati.

Tari Gambyong pada masyarakat Jawa juga lahir dari tradisi keraton, dalam hal ini Paku Buwono Surakarta, Jawa Tengah. Tarian Jawa klasik ini telah berkembang menjadi beberapa ‘seri’, seperti Gambyong Pareanom (dengan dan Tari Gambyong Pangkur. Gambyong bergerakan dasar tayub. Awalnya, Gambyong dibawakan penari tunggal. Namun, dalam perkembangannya tarian ini juga lazim dimainkan beberapa penari. Pencipta  Gambyong adalah seorang waranggana (wanita terpilih atau wanita penghibur) bernama Mas Ajeng Gambyong. Gambyongan berarti golekan–“boneka yang terbuat dari kayu”– yang menggambarkan wanita menari di dalam pertunjukan wayang kulit sebagai penutup. Tarian Gambyong menyuguhi gerak yang sepenuhnya lembut.

sumber foto: https://budayajawa.id/tari-gambyong-retno-kusumo-dari-puro-mangkunegaran-solo/

Tari Gending Sriwijaya adalah salah satu contoh tarian penyambutan tamu lainnya yang berangkat dari budaya istana. Tarian ini, juga irama musik gendingnya, merefleksikan jejak keluhuran budaya, dan kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang pernah menyatukan wilayah Nusantara, khususnya di wilayah barat.

sumber foto: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/gending-sriwijaya-tari-kolosal-penyambut-tamu-raja#lg=1&slide=6

Sebagai sebuah karya seni, tarian penyambutan tamu senantiasa mencerminkan kesadaran dan nilai-nilai hidup masyarakatnya. Nilai-nilai umumnya lahir dari naluri masyarakat untuk menghadirkan keharmonian dalam kehidupan, yakni tentang relasi antar manusia, manusia dan Tuhan, serta manusia dan alam.

Pesan-pesan tersebut dapat dibaca pada upacara Bubuka di Tanah Priangan (budaya Sunda). Bagi masyarakat Sunda, karya seni, termasuk tarian, tidak semata tentang visualisasi gerak estetika, tetapi juga pengukuhan nilai-nilai. Prosesi penyambutan tamu dalam Bubuka merupakan simbolisasi rasa takzim masyarakat setempat kepada tamu. Tarian ini lazim diiringi instrumen musik tradisional (waditra) Sunda berupa gamelan, kendang, suling, rebab, dan kenongan.

Beberapa tarian penyambutan tamu terlahir dari gagasan untuk melestarikan nilai-nilai kepahlawanan. Misalnya Tari Remo  dari JombangJawa Timur. Tarian ini biasa ditampilkan sebagai prolog dalam pertunjukan ludruk (drama panggung khas Jawa Timuran). Beberapa gerakan pada tarian ini menggambarkan perjuangan seorang pangeran dalam sebuah peperangan demi membela tanah airnya. Tari Remo dimainkan dengan iringan gending yang terdiri dari gender, gambang, seruling, kenong, slentem/span, kempul dan gong.

Spirit epik juga kental dalam tarian Kataga (Sumba Tengah). Tarian ini menggambarkan penyambutan para pemuda pemberani sepulang dari medan laga. Gerakan dan ritme yang mewakili semangat heroisme dalam tarian ini dimainkan sejumlah penari laki-laki yang berbanjar sembari memegang parang dan tameng serta berbalutkan kain adat di kepalanya.

Dalam perkembangannya, asal usul sebuah tarian terlahir tidak lagi menjadi penting. Ya, inilah yang kita sebut proses kebudayaan. Sebagai karya seni budaya yang lahir dalam ruang lingkup sejarah, sosiologis dan antropologis masyarakat, tarian penyambutan tamu kini telah menjadi ‘penjaga’ nilai-nilai bersama masyarakat setempat, bahkan merupakan aset budaya nasional, tentang tradisi santun, rendah hati dan menghargai sesama manusia. Tarian-tarian penyambutan tamu kini menjadi suguhan istimewa saat masyarakat Indonesia menjamu tamu-tamu agung seperti kepala negara, duta besar dan tamu-tamu mulia lainnya.

 

Penulis: Agung Y. Achmad

Tags : budaya indonesia, gending sriwijaya, tari gambyong, tari penyambutan, tari saman
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Response

  1. Sydt berkata:

    Wonderful Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Tarian Perang yang Atraktif

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik