Deprecated: Function create_function() is deprecated in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/plugins/master-slider/includes/classes/class-msp-main-widget.php on line 95
Tarian Perang yang Atraktif | diversity.id

Tarian Perang yang Atraktif

Agustus 28, 2019 | Ahmadie Thaha

Mata London Chloe Amoo terus terpaku pada hentakan kaki dan gerakan tangan para penari Mandau khas Dayak yang sedang pentas di Karnaval Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2019, pertengahan Junilalu. Warga Inggris ini mengaku kagum dan terkesima melihat atraksi Tari Mandau hingga aksi tarian kaki di atas kepala.

 

Sebanyak 14 komunitas budaya utusan kabupaten dan kota hadir di Karnaval FBIM 2019 yang dilaksanakan di Palangka Raya untuk memperingati hari jadi ke-62 Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka menyuguhkantradisi dan seni budaya setempat, termasuk di antaranya tari Mandau, seni perang khas Dayak.

 

Tari Mandau hanya salah satu dari berbagai tarian perang yang terdapat di Indonesia. Di antaranya, tari Cakalele di Maluku, tarian perang Papua, tari Caci dan tari Hedung di Flores, tari Tua Reta Lou di Maumere, tari Perang Nias, dan lainnya. Tarian perang selalu rancak, teatrikal, atraktif, dan mempesona.

 

Setiap tarian tadi terus dikembangkan hingga melahirkan kreasi dan varian baru. Namun, nilai dan pola dasar tarian tetap dipertahankan. Tari Mandau, misalnya, berkembang menjadi varian Tari Mandau Talawang Nyai Balau, Tari Kinyah Mandau, dan Tari Kancet Papatai. Ini terjadi karena, di Kalimantan terdapat 200 suku Dayak yang bahasa dan adat istiadatnya berbeda-beda.

 

Tari Mandau sering dipentaskan dalam berbagai upacara adat dan penyambutan tamu agung. Tarian inimenggambarkan semangat juang prajurit Dayak dalam membela tanah air, harkat, dan martabat. Ia juga mengandung nilai keperkasaan pria dalam mengarungi kehidupan.

 

Penari mandau bisa laki-laki atau perempuan. Untuk properti, mereka mengenakan baju rompi kulit, bercawat, dan kepala ditutup topi berbentuk burung tingang. Mereka wajib membawa senjata mandau di tangan kanan, sementara tangan kiri menggenggam talawangatau tameng.

 

Tari mandau diiringi alunan musik menghentak dan bersemangat yang berasal dari gendang dan garantung, alat musik tradisional Suku Dayak yangterbuat dari logam. Suara garantung inilah yang membuat penonton larut dalam atmosfer semangat para prajurit Dayak.

 

Di belahan lain Indonesia, yakni hampir di seluruh Maluku, bisa ditemukan tarian perang tradisional Cakalele. Tarian ini kini terutama digunakan untuk menyambut tamu besar atau pentas perayaan adat. Dibawakan oleh sekitar 30 pria dan wanita secara berpasangan, tarian berlangsung di bawah iringan musik drum, flute, dan bia atau kerang yang ditiup.

 

Para penari pria biasanya mengenakan kostum yang didominasi warna merah dan kuning, serta memakai penutup kepala aluminum yang disisipi bulu putih. Ini melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan patriotisme rakyat Maluku. Mereka selalu membawa parang dan salawaku (perisai).Sementara penari wanita cukup membawa lenso (sapu tangan).

 

Dalam pertunjukan, para penari wanita cukup mengayun-ayunkan tangan dengan lensonya ke depan secara bergantian, sementara kaki dihentakan dengan cepat mengikuti iringan musik pengiring. Adapun para penari priadengan lincahnya menggerakkan tangan memainkan parang dan salawaku, sementara kaki berjingkrak-jingkrak secara bergantian.

 

Di Papua,Tari Perang sengaja dibentuk untuk memberikan semangat dan membangkitkan keberanian para pasukan yang akan bertempur. Namun, tari itu kini lebih difungsikan oleh masyarakat Papua Barat sebagai tarian pertunjukan atau tarian penyambutantamu.

 

Tari Perang Papua biasa ditampilkan oleh tujuh penari pria secara berkelompok. Dengan berpakaian tradisional, mereka membawa panah sebagai atribut tari. Begitu suara genderang musik tradisional dan lantunan lagu perang dimulai, mereka pun menari penuh semangat layaknya prajurit yang akan menuju medan perang.

 

Mereka bergerak enerjik, dengan tangan kiri memainkan busur panah dan tangan kanan membawa anak panah. Diiringi pula gerakan kaki yang diayunkan ke depan dan gerakan kaki yang menyilang. Tari Perang terbagi ke beberapa babak, masing-masing tentu memiliki makna tersendiri.

 

Masih di wilayah timur, di Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur, tari perang disebut Tua Reta Lou. Tarian tradisional ini menggambarkan teknik perang suku Maumere dan Sikka Krowee zaman dulu.Bentuk tariannya sangat unik. Seorang pria dalam balutan busana tradisional bakal meliuk di udara dengan tumpuan bambu setinggi tiga sampai empat meter. Ia bakal mengayunkan pedangnya, sementara beberapa orang di bawah sibuk memegangi bambu yang dijadikan tumpuan.

 

Tak jauh dari Maumere, suku Adonara di Kabupaten FloresTimur, Nusa Tenggara Timur, memiliki tari perang lain lagiyang disebut Tari Hedung. Tarian inimenggambarkan semangat juang para nenek moyang ketika berada di medan perang. Penarinya bebas, bisa wanita, pria, bahkan anak-anak. Mereka akan muncul dengan pakaian tradisional sembari membawa benda panjang mirip tombak.

 

Suku lain di Flores mengembangkan Tari Caci yang terkadang digolongkan sebagai permainan rakyat. Dalam tradisi ini, dua orang laki-laki bakal saling bertarung menggunakan cambuk dan perisai, sama seperti Tari Ojung di Madura. Satu orang bertahan menggunakan tameng, sementara lainnya aktif menyerang.

 

Sementara di belahan barat Indonesia, di Nias, Sumatera Utara, tari perang menggambarkan perjuangan nenek moyang suku Nias dalam mempertahankan desa dari serangan desa lain. Tarian ini masih terkait dengan budaya lompat batu, salah satu cara yang ditempuh suku Nias dalam mempersiapkan para pemudanya untuk berperang.

 

Di masa lalu, tari-tarian yang umumnya menggambarkan dan mengisahkan peperangan itu dibentuk untuk membina jiwa kekesatriaan dan membangkitkan semangat kepahlawanan masyarakat. Sekaligus,ia dicipta untuk menyiapkan kader-kader prajurit yang siap berkorban untuk membela suku dan bangsa.

 

Namun, kini semua itu sering menjadi bagian pertunjukan budaya dan suguhan pentas di dalam acara-acarapenting. Misalnya, menyambut tamu besar dan memperingati kepahlawan dan perjuangan nenek moyang, termasuk dalam merebut kemerdekaan Tanah Air Indonesia dari tangan para penjajah.

 

 


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik