Tarik Tambang: Olahraga Rakyat Indonesia Yang Legendaris

Agustus 18, 2018 | Nora Ekawani

 

 

Pada momen hari kemerdekaan yang dirayakan dengan begitu gegap gempita oleh seluruh rakyat Indonesia, ada satu permainan legendaris yang pasti selalu menghiasi yaitu Tarik Tambang. Permainan ini sangat dekat dengan begitu populer di Indonesia hingga kerap . Sering juga dimainkan di berbagai acara perayaan. Apakah itu perayaan hari jadi sekolah, hari jadi Kabupaten/ Kota, bahkan pada perayaan hari besar agama.
Sesungguhnya, banyak macam atau variasi tarik tambang yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan di Indonesia. Misalnya, peserta tarik tambang diwajibkan memakai sarung. Atau pesertanya adalah para ibu yang memakai kebaya. Ada juga yang melaksanakan tarik tambang di tanah berlumpur bekas sawah. Lalu ada yang melakukannya di dalam kolam dengan air setinggi dada. Tentu, perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia semakin semarak dengan beragam variasi tarik tambang ini.

***

Kelegendarisan Tarik Tambang barangkali dikarenakan permainan ini begitu mudah dipahami. Dua kelompok yang masing-masingnya terdiri dari 8-10 orang saling menarik ke arah yang berlawanan sebuah tali tambang berdiameter 11cm. Setiap kelompok memiliki garis batas yang harus dipertahankan. Sedangkan tali tambangnya punya marka pembagi untuk menunjukkan posisi setara di antara dua kelompok. Marka pembagi itu yang menjadi pegangan wasit pertandingan untuk menentukan kapan dua kelompok yang saling bertarung mulai saling tarik menarik. Begitu peluit dibunyikan oleh wasit, mulailah tiap kelompok saling menarik dan berusaha agar masing-masing tidak melewati garis batas kelompok. Kelompok mana pun yang berhasil “ditarik” lawannya hingga melewati garis batas kelompok, maka kelompok itu yang kalah.
Menurut cerita dari mulut ke mulut, permainan tarik tambang dianggap sebagai bentuk perlawanan masyarakat Indonesia terhadap Belanda. Ketika pada masa penjajahan, banyak orang Indonesia yang dipaksa bekerja kasar dengan menggunakan tambang. Para pekerja diminta untuk memindahkan batu, pasir dan benda berat lain dengan tambang. Akibat kurangnya hiburan bagi para penjajah dan yang dijajah, maka terpercik lah ide untuk menjadikan tarik tambang sebagai sebuah permainan ajang adu kuat. Kabarnya pula, saat itu kabarnya pesertanya meliputi warga pribumi melawan pribumi atau pribumi melawan penjajah. Hal itu tersebut kemudian dianggap menjadi langkah awal bagi masyarakat Indonesia untuk menjadikan tarik tambang sebagai salah satu olahraga tradisional yang dipertandingkan di setiap peringatan hari kemerdekaan.

 

 

Namun, jika kita menelusuri sejarah, Tarik Tambang sesungguhnya adalah sebuah permainan dunia. Dari catatan sejarah, permainan ini bahkan sudah dikenal oleh bangsa Mesir Kuno, Yunani, India dan Cina. Ini seperti yang tersurat pada kisah legenda matahari dan bulan yang saling beradu kuat menarik gelap dan terang.[1]
Catatan Mengacu pada kitab Dinasti Tang, The Notes of Feng, menyatakan bahwa, tarik tambang telah digunakan oleh kaum militer bangsa Cina untuk melatih tentaranya selama musim semi dan musim gugur pada abad 8 SM – abad 5 SM. Sedangkan berdasarkan bukti-bukti arkeologi dari India , data yang ada menunjukkan bahwa tarik tambang sudah popular di sana di India pada abad ke-12. Kuil Matahari Konark di Orissa mempunyai relief yang terpahat pada bagian sayap kanan bangunannya yang jelas-jelas memperlihatkan permainan tarik tambang. Karenanya menjadi jelas kemudian jikalau permainan ini adalah Tarik tambang juga menjadi salah satu olahraga hiburan di Eropa pada masa perang dunia. Bahkan Olimpiade tahun 1900 hingga Olimpiade 1920 pernah mempertandingkan cabang olahraga tarik tambang ini.

***

Tetapi ada yang unik di Indonesia. Di Kolaka, Sulawesi Tenggara, lomba tarik tambang yang digelar pada perayaan hari kemerdekaan sedikit berbeda karena diadakan di atas perahu. Pantai Ria di kawasan Sea-Latambaga menjadi lokasi lomba tarik tambang di atas perahu ini. Masing-masing kelompok duduk di atas perahu dan adu kekuatan mendayung untuk menarik perahu kelompok lawan. Tentu saja para peserta harus kuat dan terbiasa mendayung perahu untuk mencapai batas yang sudah ditentukan juri. Sedangkan di beberapa wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, dalam meramaikan peringatan Maulid Nabi, diadakan lomba tarik tambang sambil duduk, yang biasanya digelar di lapangan desa setempat.
Demikianlah, meski pun barangkali memang tidak berasal dari Indonesia, namun tarik tambang di Indonesia memang begitu digemari, punya akar historis tertentu, dan juga dikreasikan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih fun dan menyenangkan. (NOE-Diversity)

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik