TOKOH KEPURBAKALAAN INDONESIA (bagian 2)

Juni 7, 2019 | Nora Ekawani

Jika sebelumnya dibahas mengenai tokoh-tokoh kepurbakalaan berbangsa Belanda, maka selanjutnya adalah tokoh-tokoh kepurbakalaan berbangsa Indonesia.

 

Salah satu ahli purbakala berbangsa Indonesia adalah R. Soekmono.Bersamadengan Satyawati Suleiman, Soekmono termasuk arkeolog pertama bangsa Indonesia yang berhasil menyelesaikan gelar sarjananya pada1953 dari Universitas Indonesia. Soekmono lahir di Ketanggungan,Brebes,14 Juli 1922. Dalam ekspedisinya ke Sumatera bersama rekan-rekannya, Satyawati Suleiman, R.P. Soejono, Boechari, Uka Tjandrasasmita, Basoeki dan arkeolog Belanda pada1954, Soekmono berpendapat bahwa pada masa Sriwijaya garis pantai Sumatera bagian timur terletak di pedalaman.

Soekmono merupakan orang Indonesia pertama yang lulus dalam bidang studi arkeologi. Setelah lulus pada1953,beliau diangkat menjadi Kepala Dinas Purbakala RI, suatu kedudukan yang sebelumnya selalu dijabat oleh orang Belanda. Soekmono terus memangku jabatan ini hingga1973.

 

Pada 1970,Soekmono dipercaya memimpin Proyek Pemugaran Candi Borobudur yang didanai oleh Pemerintah RI dan UNESCO. Pada 1974,ia menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Candi, Fungsi dan Pengertiannya”. Pengalamannya pada Proyek Pemugaran Candi Borobudur menjadikannya seorang ahli bangunan candi. Pengetahuannya yang luas mengenai Sejarah Kebudayaan Indonesia mengantarnya menjadiGuru Besar Universitas Indonesia pada 1978.Sebelumnya, ia juga merupakan Dosen Luar Biasa (1953-1978) di Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Udayana dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar.

 

Kemudian ada Satyawati Sulaemanyang lebih dikenal dengan panggilan Ibu Leman atau Ibu Yati. Beliau dilahirkan di Bogor pada 7 Oktober 1920danlulus sebagai sarjana Arkeologi pada1953 dari Universitas Indonesia. Ia mulai bekerja di Dinas Purbakala sejak 1948. Ibu Yati dikenal sebagai ahli Ikonografi (seni arca) disamping pengetahuannya yang sangat luas mengenai benda-benda tinggalan budaya masa lampau.

Pada 1954, bersama dengan R.P. Soejono, Soekmono, Uka Tjandrasasmita, Boechari, Basoeki dan arkeolog Belanda ikut dalam ekspedisi ke Sumatera Selatan dan Jambi. Ekspedisi ini merupakan ekspedisi tentang Kerajaan Sriwijaya, khususnya tentang ikonografi arca-arca di Sumatera. Karirnya sebagai pegawai pemerintah di bidang kebudayaan, khususnya kepurbakalaan dimulai sebagai Atase Kebudayaan di India (1958-1961) dan dilanjutkan sebagai Atase Kebudayaan di Inggris (1961-1963). Selama bertugas di India,beliau banyak menimba pengetahuan tentang candi dan arca yang kelak sangat bermanfaat bagi studi ikonografi dan candi di Indonesia.

 

Pada 1963, Satyawati Suleiman kembali ke Indonesia dan memimpin Bidang Arkeologi Klasik pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) dari 1963- 1973. Pada 1973,Bu Yati menggantikan Soekmono memimpin LPPN hingga 1977 karena kesibukan Soekmono sebagai penanggung jawab Proyek Pemugaran Candi Borobudur.

 

R.P Soejonoatau Raden Panji Soejono biasa dipanggil Pak Yono atau Oom Jon oleh kalangan yang dekat dengannya. Lahir di Mojokerto,Jawa Timur pada 27 November 1926, ia lulus sebagai sarjana Arkeologi dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1959. Ia meraih gelar Doktor dari fakultas yang sama pada 1977. Pengalamannya dalam penelitian prasejarah telah dimulai sejak 1953 ketika masih menjadi mahasiswa dengan selalu menyertai Van Heekeren melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia.

 

Pada 1954, bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soekmono, Uka Tjandrasasmita, Boechari, Basoeki dan arkeolog Belanda ikut dalam ekspedisi ke Sumatera. Bersama tim tersebut, Pak Yono bersama Van Heekeren dan Basoeki melakukan penelitian di situs-situs prasejarah di daerah Lahat, Sumatera Selatan. Sejak awal,minat dan keahlian Soejono memang di bidang prasejarah, khsususnya Paleolitik.

 

Pada 1956 beliau secara resmi mulai bekerja pada Dinas Purbakala dan pada akhir tahun, ketikaVan Heekeren meninggalkan Indonesia, seluruh pekerjaannya dilanjutkan oleh Soejono. Penelitian pertama yang dilakukannya adalah mengadakan survey di daerah Buni, Bekasi pada 1960.

Pada 1960-1964 beliau menjabat Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional cabang Bali. Di wilayah kerjanya tersebut,Soejono dengan leluasa melakukan penelitian yang lebih mendalam dan terencana pada situs-situs arkeologi. Dalam waktu yang relatif singkat,beliau berhasil mendata seluruh situs prasejarah,mulai dari masa paleolitik hingga masa perundagian.

 

Karirnya sebagai seorang arkeolog yang bekerja di lembaga penelitian mencapai puncaknya ketika diangkat menjadi Kepala Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (Puslitarkenas) pada 1977. Dibawah kepimpinan beliau,Puslitarkenas mendirikan dua UPT yaitu Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Arkeologi Denpasar. Selain itu juga didirikan dua laboratorium yaitu Laboratorium Paleoekologi dan Radiometri di Bandung dan Laboratorium Bio dan Paleoantropologi di Yogyakarta.

 

Terakhir ada Uka Tjandrasasmitayanglahir di Subang pada 8 Oktober 1930. Uka memulai kariernya di bidang Arkeologi pada 1952 dengan bekerja di Dinas Purbakala. Sebagaimana halnya dengan Satyawati Sulaeman dan R.P. Soejono, iaberkesempatan mengikuti tim ekspedisi ke Sumatera pada 1954. Dalam tim,Uka termasuk anggota termuda dan masih duduk di bangku kuliah. Pada 1960,Uka berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan mengambil spesialisasi di bidang Arkeologi Islam.

Sejak 1960-an hingga 1978,beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Kemudian sejak dibentuknya Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala,beliau dipercaya menjabat sebagai Direktur hingga1990.

 

Sebagai ilmuwan di bidang arkeologi,Uka Tjandrasasmita dikenal sebagai arkeolog yang mengkhususkan diri pada perkotaan masa Islam di Nusantara. Buku pertamanya tentang kota Islam berjudul Kota-kota Muslim di Indonesia. Keahliannya di bidang arkeologi Islam diperdalam lagi setelah selesai menjabat sebagai Direktur. Sejak1990,beliau lebih banyak mengajar dan membuat penelitian dan tulisan tentang arkeologi Islam.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra
Tags : Ahli Arkeologi, Arkeologi Indonesia, Dinas purbakala, puslitakernas, Took kepurbakalaan Indonesia
Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik