TOKOH KEPURBAKALAAN INDONESIA

Juni 7, 2019 | Nora Ekawani

Pada peringatan Hari Purbakala yang ke 109 yang jatuh pada 14 Juni tahun ini ada baiknya kita mengenali tokoh-tokoh yang berperan penting dalam dunia kepurbakalaan Indonesia.

Dikutip dari laman Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada beberapa nama yang merupakan tokoh peletak dasarArkeologi Indonesia. Mereka ini sudah sepantasnyalah dianggap sebagai tokoh kepurbakalaan Indonesia. Arkeologi sendiri berarti ilmu kepurbakalaan. Arkeologi berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuno” dan logos, “ilmu”. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Dengan demikian, arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.

Kepurbakalaan, terutama yang terkait dengan data bendawi, masuk ranah ilmu arkeologi. Dengan demikian, jika kita bicara tokoh kepurbakalaan,sama saja dengan kita berbicara tentang ahli Arkeologi.

Tokoh pertama adalah Jan Laurens Andries Brandes.Tokoh ini dalam dunia arkeologi Indonesia dikenal dengan nama Brandes atau J.L.A Brandes. Ia adalah seorang ahli arkeologi asal Belanda yang meletakkan dasar-dasarbagiperkembangan arkeologi Indonesia,khususnya dalam bidang epigrafi (tulisan kuno).

Ketika pada1894 Belanda menyerbu Lombok dan menduduki istana Cakranegara, Brandes disertakan dengan tujuan untuk menyelamatkan benda-benda tinggalan budaya masa lampau, termasuk naskah-naskah kuno yang tersimpan di istana. Saat itu,Brandes menemukan naskah Negarakertagama, sebuah naskah yang isinya sangat penting perihal sejarah Majapahit. Pada 1902,naskah tersebut diterbitkan dalam bentuk aslinya, yaitu aksara Bali.

Lantas, pemerintah Hindia Belanda membentuk komisi yang bertugas menangani masalah-masalah kepurbakalaan yang ditemui.Brandes diangkat menjadi ketua komisiyang bernama Commissie in Nederlandcsh Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoeraitu. Komisi ini menjadi cikal bakal Dinas Purbakala yang sekarang berkembang menjadi Pusat Penelitian Arkeologi. Ketika Brandes wafat pada 1905, ia masih menjabat sebagai ketua komisi. Ia banyak berjasa bagi perkembangan arkeologi Indonesia dan penyelamatan benda-benda tinggalan budaya masa lampau,terutama di Jawa dan Madura.

Nama berikut adalah N.J. Krom.Krom sejatinya adalah seorang ahli kesusateraaan Klasik Latin-Yunani berkebangsaan Belanda. Ia tiba di Hindia Belanda pada 1910 sebagai Ketua Commissie in Nederlandcsh Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoeramenggantikan Brandes. Tetapi Krom kemudian menyadari bahwa untuk mengatasi segala persoalan kepurbakalaan di Hindia Belanda tidak cukup ditangani oleh sebuah komisi, tetapi harus berupa badan pemerintah yang tetap. Maka pada 1913 berdirilah Oudheidkundige Dients(Dinas Purbakala) berkat perjuangan gigih Krom. Ia lantas dipercaya sebagai Kepala Dinas hingga1915,sebelum ia kembali ke Belanda.

Setelah kembali ke Belanda,Krom banyak menulis tentang arkeologi Hindia Belanda, termasuk menerbitkan naskah-naskah yang ditinggalkan Brandes, Oud-Javaansche Oorkonden(OJO). Karya Krom yang monumental adalah monografi Candi Borobudur setebal 800 halaman dengan foto dan gambar relief candi Borobudur.

Buku karya Krom lainnya adalah Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst(1919 dan 1923) dan Hindoe-Javaansche Geschiedenis(1926 dan 1931). Kedua buku tersebut hingga sekarang masih dipakai sebagai landasan untuk bergerak dalam bidang sejarah kuno dan arkeologi Indonesia.

Kemudian F.D.K Bosch. Bosch sudah berada di Hindia Belanda sejak 1914dan pada 1916 -1936 diperintahkan untuk memimpin Oudheidkundige Dienst(Dinas Purbakala) menggantikan Krom. Bosch sendiri menjadi terkenal di kalangan ahli arkeologi setelah menulis Een Hypothese Omtrent den Oorsprong der Hindoe-Javaansche Kunstyang dimuat dalam Handelingen Eerste Congres voor Taal-, Land- en Volkenkunde van Javapada 1921. Di dalam karyanya itu, Bosch mengungkapkan peranan bangsa Indonesia sebagai pencipta bangunan-bangunan candi dan kesenian lainnya.

Dengan landasan pemikiran itu,Bosch mengarahkan arkeologi Indonesia ke dalam dua hal yaitu (1) penelitian yang mendalam terhadap unsur-unsur Indonesia dalam segala aktivitas kesenian masa lampau, dan (2) pengembalian kemegahan serta keindahan semua hasil kesenian masa lampau. Tidak heran, pada masa kepemimpinan Bosch-lahbanyak candi dipugar, sehingga kemegahan dan keindahan candi tetap bisa dinikmati orang banyak. Perhatiannya juga tidak berhenti di pemugaran, tetapi juga memberikan perlindungan hukum denganditerbitkannyaMonumenten Ordonantiepada 1931 (Stbl 1931 No.238) yang kemudian menjadi UURI No.5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya dan kemudian berkembang menjadi UURI No.11 tahun 2010.

Selama kepemimpinannya,Bosch telah membawa arkeologi Indonesia berdiri sama tinggi dan sejajar dengan arkeologi di negara-negara lain.

Ada pula nama W.F. Stutterheim.Stutterheim menggantikan Bosch memimpin Oudheidkundige Dienstsejak 1924. Pada 1926,ia ditugaskan mempimpin Algemene Middlebarre School(AMS) bagian A di Solo. AMS adalah Sekolah Menengah Atas pada masa itu dan dalam kurikulumnya mencantumkan Sastra dan Sejarah Kebudayaan Indonesia sebagai pelajaran utama. Pada 1936,Stutteheim menjadi kepala Oudheidkundige Dienst. Ia berpendirian bahwa Kebudayaan Indonesia Kuno haruslah dianggap sebagai Kebudayaan Indonesia sedangkan pengaruh kebudayaan India hanyalah sebagai tambahan. Dengan demikian, tidaklah bermasalah jika unsur kebudayaan itu dapat berpadu dengan pola kebudayaan Indonesia.

Pada 1939,beliau meneliti keramik di Perambanan dan di Grobogan. Hasil penelitiannya yang disiarkan pada 1940menyatakan bahwa pada abad ke-9 Masehi, Gunung Muria merupakan pulau tersendiri yang terpisah dari Pulau Jawa.

Nora Ekawani
Penulis, Lulusan Arkeologi UI,Pengamat Budaya, Pencinta Wastra

Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik