Tradisi Perdamaian Aceh di Tanah Rencong

April 6, 2019 | Ahmadie Thaha

Di belahan bumi Nusantara manakah kita dapat menemukan tradisi perdamaian? Jawabannya mudah yakni di seluruh pelosok negeri. Semua suku bangsa di tanah air ini, tak terkecuali Aceh, mempunyai cara sendiri-sendiri dalam melembagakan nilai-nilai perdamaian. Pesan-pesan damai itu terekspresikan melalui karya seni dan pranata sosialnya.

Tradisi perdamaian masyarakat Aceh di ujung utara pulau Sumatera itu dapat dibilang klasik (baca: berkelas). Maklum, wilayah Serambi Mekah ini pernah menjadi pusat keunggulan penting wilayah Nusantara. Kesultanan Aceh (1496 – 1903) memiliki pengalaman panjang dalam menjaga perdamaian mengingat peranannya yang strategis dan berpengaruh secara ekonomi, politik, dan pengembangan ilmu pengetahuan di kawasan Selat Malaka (meliputi wilayah Asia Tenggara) dengan jaringan hubungan diplomatik hingga Timur Tengah dan Turki. Kesultanan ini juga tercatat selalu menentang imperialisme bangsa Eropa. Pengalamannya berperang melawan bangsa Eropa justru kian menguatkan pandangan hidup orang Aceh dalam mencintai perdamaian.

Aceh memiliki banyak karya seni budaya yang mengekspresikan pesan-pesan perdamaian seperti tarian, hikayat, cara hidup, dan bahasa. Masyarakat Aceh juga memiliki kearifan lokal berupa tradisi penyelesaian konflik. Seperti peri kehidupan lainnya dalam masyarakat Aceh, upaya menjaga perdamaian dapat dirujuk ke implementasi syariah Islam. Pola interaksi sosial masyarakatnya mencerminkan komunikasi timbal balik fungsi meunasah (lembaga pendidian tradisional di Aceh) dan masjid sebagai satu ikatan sumber budaya.

Dari Uluk Salam Hingga Syawalan

Kemarmonian dalam hubungan sosial masyarakat Aceh ditandai dengan kebiasaan mengucapkan salam saat bertemu atau bertamu: assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kalimat salam—ucapan yang tak tergantikan—ini telah ada sejak beberapa abad lalu. Kebiasaan uluk salam sebagai tradisi membutikan bahwa mereka suka menebarkan doa keselamatan bagi sesama alias mencintai kedamaian dan perdamaian. Doa tersebut bermakna: Semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian.

Tradisi menghormati orang yang lebih tua, sebagaimana juga etiket memuliakan tetangga atau dikenal dengan istilah jiran merupakan aset sosial yang tak dapat diremehkan dalam budaya masyarakat Aceh. Dua etos ini telah melembaga sangat kuat di sana. Kedekatan dengan tetangga dapat berlangsung lebih solid ketimbang terhadap saudara kandung yang kebetulan tidak tinggal di dalam satu kawasan permukiman. Kohesivitas sosial lantaran kebiasaan sehari-hari saling menghormati sesama warga ini adalah cermin tak terbantahkan tata kehidupan sehari-hari masyarakat di Aceh yang mengedepankan perdamaian.

Begitu pun dalam memperlakukan tamu. Tamu-tamu istimewa biasanya akan disambut dengan jamuan spesial berupa suguhan daun sirih. Bagi masyarakat Aceh, daun sirih  merupakan simbol kehormatan. Daun sirih juga lazim digunakan untuk menyampaikan pesan/komitmen perdamaian.

Melalui upacara ranub lamuan (sirih dalam cerana), masyarakat Aceh, bahkan bangsa Indonesia, memaafkan dan menyambut kembali Teungku Muhammad Daud Beureueh—tokoh yang selama bertahun-tahun bergabung dengan pasukan pemberontakan DI/TII di hutan—ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada 9 Mei 1962, Nyak Adam Kamil menyerahkan ranub lampuan kepada mantan Gubernur Militer Aceh itu sebagai tanda akhir dari pemberontakan DI/TII di Aceh. Keesokan harinya, upacara sederhana penyambutan digelar dan momentum ini berlangsung sukses sekaligus natural. Perdamaian dapat diwujudkan tanpa melukai atau mempermalukan pihak mana pun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya punya sikap pemaaf yang tinggi dan cinta damai. Betapa pun, Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah ulama dan juga pejuang yang melawan penjajah di era sebelumnya.

Kehidupan manusia memang tak pernah lepas dari tradisinya. Pesan-pesan simbolik acap kali jauh lebih bermakna ketimbang ucapan verbal. Spirit itu dapat dilihat pada gerak dan kalimat-kalimat dalam Tarian Saman yang amat terkenal itu. Selain ucapan salam yang disertai ekspresi wajah ramah (senyum para penarinya), tarian ini juga memperagakan kekompakkan dan kekuatan persaudaraan. Tidak dapat dipungkiri lagi kentalnya pesan perdamaian pada tarian ini.

Begitu pun pesan-pesan moral pada tradisi meugang atau makmeugang di Aceh. Meugang adalah tradisi menyembelih sapi atau kerbau. Tradisi ini lazim digelar tiga kali dalam setahun, yaitu meugang puasa, meugang uroe (menjelang hari raya Idul Fitri), dan meugang uroe raya haji (menjelang hari raya Idul Adha). Pada hari itu, lebih dari sekadar menikmati aneka hidangan daging sembari melestarikan momentum istimewa dalam ajaran Islam, masyarakat Aceh tengah merayakan kebersamaan, merawat perdamaian.

Tradisi meugang ini telah ada sejak masa kepemimpinan Sultan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636) di Kerajaan Aceh Darussalam. Sang raja kerap mengadakan kegiatan penyembelihan sapi dalam jumlah banyak. Daging-daging tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh rakyatnya. Melalui tradisi ini, sang raja ingin mengungkapkan rasa syukurnya atas karunia yang melimpah sehingga masyarakatnya makmur dan sejahtera. Pada saat yang sama, Sultan juga hendak menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh rakyatnya yang telah berbakti dan memberikan dedikasi kepada pemerintahannya.

Dalam Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia (1990), Prof. Ali Hasjmy menyebutkan  bahwa, sehari sebelum Ramadan digelarlah upacara khusus di  Kraton Darud Dunia. Upacara dihadiri sang Sultan, para menteri, kaum elite, ulama dan uleebalang. Tak ketinggalan pula rakyat miskin, penyandang disabilitas dan para janda diundang untuk menerima daging meugang. Tradisi meugang kini berlanjut dalam bentuk kebiasaan masyarakat kalangan mampu di Aceh untuk berbagi kepada sesama warga, khususnya kalangan tidak mampu. Pemberian tak sebatas berupa daging, tidak pula mesti di hari meugang. Tradisi memang sering melahirkan kebiasaan-kebiasaan baik turunannya dalam era yang terus berubah. Tradisi meugang memberi kontribusi tidak kecil terhadap pelembagaan kehiduan penuh kedamaian di Aceh.

Tradisi lain yang memiliki dimensi dan nilai perdamaian di Aceh adalah syawalan. Seperti namanya, Syawalan berlangsung pada bulan Syawal, sejak hari pertama Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini berlangsung selama satu bulan di bulan Syawal. Pada momentum itu terdapat acara pajoh khanduri atau khanduri raya di rumah-rumah para pembesar Aceh, yakni makan-makan di rumah orang yang dikunjungi.

Dalam catatan Warwijck dan SebaldeDe Weert, dua pengembara Eropa yang singgah di sana awal tahun 1603 (pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil (1589-1604), disebutkan bahwa tradisi Syawalan di Aceh memiliki kemiripan dengan kebiasaan masyarakat muslim di Turki. Misalnya, pada hari terakhir di bulan Ramadan dibunyikan meriam sebanyak tiga kali sebagai penanda bahwa bulan Ramadan telah berakhir atau memasuki bulan Syawal. Keesokan harinya, usai melaksanakan salat ‘Idul Fitri, sang Sultan mengundang para elite kerajaan dalam sebuah acara silaturahmi. Kegiatan ini diikuti pembesar-pembesar di bawah Sutan untuk melakukan open house. Jadilah bulan Syawal  sebagai momentum untuk melebur semua kesalahan, menghentikan dendam, dan yang lebih penting adalah menciptakan kedamaian.

Tradisi cinta damai di wilayah berjuluk Tanah Rencong ini, meskipun sempat rusak akibat kedatangan kolonial Belanda, telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak beberapa abad lalu. Tradisi perdamaian di Aceh tidak hanya menjadi aset bagi warga setempat tetapi juga bangsa ini. Layak bagi semua pihak untuk memikirkan kelestarian tradisi perdamaian Aceh ini dalam dimensi dan konteks yang lebih luas, karena kelestarian suatu budaya akan dipengaruhi banyak faktor seperti ekonomi dan politik.


Notice: Tema tanpa comments.php sudah ditinggalkan sejak versi 3.0.0 tanpa tersedia alternatifnya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /home/diversit/public_html/id_id/wp-includes/functions.php on line 3984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommendation


Notice: Use of undefined constant post_date - assumed 'post_date' in /home/diversit/public_html/id_id/wp-content/themes/diversity/single.php on line 64

Mari Menjadi Pelestari Warisan Dunia!

Bameti: Tradisi Masyarakat Pesisir Kepulauan Maluku

Saloi, Keranjang Khas Orang Matbat

Most Popular

Drama Cinta dari Tanah Bali

Diversity

Tarian Penyambutan Tamu: Jamuan Istimewa dalam Gerak dan Musik